alexametrics

Layar dan Aktualisasi Media Seni

29 November 2020, 19:48:41 WIB

Beberapa tahun terakhir masyarakat semakin akrab dengan layar. Pandemi Covid-19 membuat interaksi manusia dengan layar semakin intens. Ada tantangan baru bagi seniman tentang cara menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru itu.

PANDEMI Covid-19 memaksa kita semua beradaptasi dengan keadaan baru. Hampir semua hal dan metode berubah. Tidak terkecuali dalam menampilkan karya seni. Galeri Nasional Indonesia ikut berkreasi dengan mengadakan pameran daring manifesto VII bertajuk ’’PANDEMI’’ di website https://galnasonline.id.

Bentuk adaptasinya adalah mengalihwahanakan pameran lukisan ke dalam website. Karya-karya seni yang biasa kita lihat di ruang-ruang pamer dipindahkan ke dalam website dengan konsep video singkat ataupun gambar bergerak. Agar kita tetap mampu menikmatinya seolah sedang berjalan di dalam galeri.

Bagi kurator pameran daring manifesto VII ’’PANDEMI’’ Sudjud Dartanto, alih wahana pameran media digital atau virtual membuka sejumlah hal baru. Baik peluang maupun tantangan. Karya-karya seni bisa termediasi oleh layar monitor.

Biasanya penikmat seni melihat sebuah karya tradisional dengan cara-cara lama dengan berbagai pemaknaannya. ’’Tetapi, manakala kita berhadapan dengan karya di dunia layar seperti ini, membuat pengalaman komunikasi dan kita dengan karya menjadi berbeda,’’ terang Sudjud dalam diskusi daring bulan ini.

Itulah yang saat ini menjadi fokus para pemerhati seni di Indonesia. Pandemi mengubah cara seniman menyajikan karyanya. Otomatis itu juga akan mengubah banyak hal yang terkait dengan karya seni itu sendiri. ’’Dan mungkin ini akan terus terjadi, bahkan pascapandemi ini nanti,’’ lanjutnya. Kebiasaan kita berinteraksi dengan layar akan menjadi sebuah kebutuhan pokok. Objek karya seni juga akan berubah dengan sendirinya.

Peneliti budaya media Budi Irawanto menuturkan, interaksi dengan layar sebagai salah satu kebutuhan pokok bahkan sudah dimulai saat ini, tidak lama setelah pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Lebih dari separo aktivitas interaksi kita dilakukan lewat layar. Baik sekadar berkirim pesan lewat layanan WhatsApp maupun melakukan seminar secara daring.

Maka, saat ini layar sudah menjadi perantara kita dalam memahami sebuah realitas. ’’Layar juga memungkinkan eksplorasi, bagaimana para seniman menggunakan ini sebagai satu cara untuk mengekspresikan hasrat atau dorongan artistiknya,’’ terang dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Gadjah Mada Jogjakarta itu.

Seni media baru saat ini begitu beragam. Budi memberikan satu contoh layar yang dirasa pas untuk menampilkan karya seni, yakni virtual reality (VR). Dalam VR, tidak ada lagi layar. Sebab, penikmat tidak lagi menikmati layar yang terpisah dari dirinya. Melainkan melebur dengan pandangan sehingga penikmat merasa seolah yang dilihat itu nyata di hadapannya.

VR itulah yang menyajikan gambaran yang mendekati nyata, seolah kita menikmati karya secara langsung tanpa perantara layar. Batasan layar segi empat, skala realitas, semuanya menghilang. Digantikan realitas tanpa batas yang membuat kita seperti tidak melihat layar.

Sementara itu, seniman media Benny Wicaksono mengutip pendapat Krisna Murti, seorang pakar bidang seni multimedia di Indonesia, mengatakan bahwa masyarakat saat ini sudah terikat kontrak dengan budaya layar. Layar sudah menjadi bagian dari hampir semua aktivitas hidup. Belanja, bertransaksi, belajar, dan aktivitas rutin lainnya.

Lewat layar yang didukung kemampuan teknologi yang semakin canggih, hidup manusia semakin dimudahkan. ’’Kemudahan seperti ini membuka kemungkinan bagi seniman untuk mengeksplorasi temuan-temuan yang lebih baru,’’ ujar Benny.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : byu/c19/dra


Close Ads