alexametrics

Setelah Konferensi Pertunjukan dan Teater Indonesia

27 September 2020, 04:55:01 WIB

JawaPos.com – Konferensi Pertunjukan dan Teater Indonesia yang berlangsung daring dari pertengahan hingga akhir September 2020 telah selesai. Ada banyak hal menarik dalam konferensi ini. Semua presentasi dalam panel-panel konferensi kini disiapkan untuk tayang ulang dan hadir dalam bentuk penerbitan. Dalam catatan panitia dari daftar peserta sepanjang pelaksanaan, ada sekitar seribu orang yang mengikuti konferensi daring ini.

Melalui jalur daring, Direktur Konferensi Pertunjukan dan Teater Indonesia Joned Suryatmoko memberi pengantar yang gamblang menjelaskan latar belakang konferensi. Menurut Joned, ada beberapa pertanyaan yang kemudian menjadi pemantik penyelenggaraan konferensi. Bagaimana memproduksi pengetahuan pertunjukan dan teater yang proses tumbuhnya unik dan prakteknya berserak? Dalam bentuk apa mengembalikan pengetahuan itu kepada pelaku dan pemikir teater? ’’Bagaimana kita membingkai pengetahuan dalam konteks berbangsa dan bernegara sementara hubungan teater dan negara selalu dinamis?’’ katanya.

Pertanyaan-pertanyaan itu Joned sebut tidak lantas menjadi tawaran tunggal untuk dibicarakan dalam konferensi. Sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan itu justru dapat diuji kembali apakah memang relevan dengan situasi kini atau tidak. Bertolak dari itu, konferensi ini membuka lebar irisan dan kait mengait antara pertunjukan dan teater dengan hal-hal di luar dirinya. Konferensi ini tidak hanya melihat pertunjukan dan teater sebagai bidang atau bentuk seni semata. Lebih dari itu, pertunjukan dan teater diletakan sebagai metode, pespektif, untuk melihat dunia.

Lono Simatupang dan Ugoran Prasad yang menjadi pembicara kunci menyorongkan dinamika pertunjukan dan teater dunia di mana keduanya saling berkait erat dengan beragam hal seperti sejarah, semiotika, hingga antropologi. Di dunia akademis, studi tentang pertunjukan dan teater yang tak melulu diletakkan sebagai bentuk seni juga tumbuh dengan pesat. Proses tersebut pada akhirnya mendorong pengetahuan-pengetahuan segar tentang banyak hal.

Konferensi ini menghadirkan banyak pembicara pada tiap panelnya. Di panel Lokalitas ada Gladhys Elliona Syahutari (PSPSR UGM) yang membahas Aktivisme Kelompok Teater Jakarta, Khotibul Umam (Undip Semarang) dengan bahasan berjudul Membaca Zine Tanda Batja Semarang, dan Febrian Adinata Hasibuan (IRB Sanata Dharma) menyampaikan risetnya berjudul Antara Peluang dan Saling Ganjal Identitas Lokal di Purwokerto.

Di panel Panggung dan Penonton ada Kurnia Rahmad Dhani (ISI Yogyakarta) yang menyampaikan bahasan berjudul Anak Tiri Kajian Pertunjukan: Penonton. Bersamanya hadir Mega Sheli Bastiani (ISI Yogyakarta) dengan pembahasan tentang Desain Interior dalam Teater, dan Shohifur Ridho’i bersama Riyadhus Shalihin (Roka Teater dan BPAF, Yogyakarta-Bandung) membahas makalah berjudul Mementaskan Keluarga Dalam Teks Drama Indonesia.

Di panel Pertunjukan dan Teknologi, ada Alia Swastika (Kurator dan Peneliti Independen, Yogyakarta) menyampaikan Genealogi Seni Bunyi di Yogyakarta, dan Dea Karina (Musisi dan Periset Independen, Yogyakarta) membahas Eksplorasi Kesenjangan Teknologi Pertunjukan Berbasis Internet. Di panel Pertunjukan dan Sejarah, Akbar Yumni (Forum Lenteng, Jakarta) membahas Sejarah dan Reenactment, Hartmantyo PU dan Yesandia OU (Fisipol UGM) menengahkan Membaca Michael Bodden, dan Hoirul Hafifi (S3 ISI Surakarta) dengan bahasan Perbandingan Teater Dokumenter di Djakarta Theatre Platform 2018.

Pada panel Tradisi dan Pengetahuan ada Arining Wibowo (UKRI Bandung) dengan materi berjudul Pewarisan Pengetahuan Topeng Malangan, Abdi Karya (Seniman independen, Yogyakarta-Makassar) menyampaikan Mitologi dan Biografi dalam Penciptaan Karya Sarung, dan Wendy HS (ISI Padangpanjang) membahas Tubuh Tradisi Minang. Pada panel catatan penutup, Brigitta Isabella (Kunci Cultural Studies, Yogyakarta) dan Berto Tukan (Peneliti Independen, Jakarta) menyampaikan catatan-catatannya atas beragam bahasan dari para panelis.

Materi dalam tiap panel konferensi menarik untuk disimak. Tidak semuanya menawarkan pembahasan yang mendalam. Namun, bahasan dalam panel-panel itu jelas memberikan gambaran yang terang tentang bagaimana pertunjukan dan teater dapat meluaskan horizon perspektif para pelaku dan penontonya hingga tak terjebak untuk mengejar capaian artistik semata.

Konferensi yang diikuti peserta dari berbagai kota di dalam dan luar Indonesia ini didukung oleh Yayasan Umar Kayam, Pascasarjana ISI Yogyakarta, Festival Kebudayaan Yogyakarta 2020, Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF), Bawayang, Bakudapan, dan Tan Kinira. Perhelatan besar dan serius ini sayangnya justru minim dukungan pemerintah. Upaya untuk mendapat dukungan negara bukannya tidak dicoba, namun memang masih bertepuk sebelah tangan. Beruntung para penggawa konferensi punya kenekatan untuk tetap menjalankan kegiatan ini walau hanya mendapatkan seperempat anggaran dari rencana yang mereka susun. (tir)

 

Editor : tir




Close Ads