alexametrics

Bertubi Mengenang Sapardi

27 Juli 2020, 22:47:36 WIB

JawaPos.com – Genap sepekan sastrawan Sapardi Djoko Damono mangkat, kenangan kepadanya muncul bertubi-tubi di dunia daring. Setelah foto bersama mendiang atau kutipan karyanya bertebaran di media sosial, muncul beragam forum virtual mengenang Sapardi. Sapardi tak pernah pergi. Almarhum masih ada di hati para pengagumnya yang tak cuma jemaah sastra.

Di forum-forum virtual, Sapardi dibahas dari berbagai sisi. Ada yang mengenang kedekatan bersama almarhum, juga membahas jejak karya mendiang. Di forum Kelompok Diskusi Mikir-Mikir, Sapardi dan karyanya menjadi bahasan yang lengkap. Forum virtual ini menghadirkan beberapa narasumber yang dekat dengan Sapardi. Mereka antara lain adalah Nirwan Dewanto, Hasan Aspahani, Goenawan Mohamad, dan Slamet Rahardjo Djarot.

Di forum bertajuk Mengenang Sapardi ini Nirwan menyebut Sapardi sebagai penerus Chairil Anwar dan Amir Hamzah dalam ranah puisi Indonesia modern. Ketiganya mengabadikan momen puitik melalui kata sebagai bagian penting dalam puisi. Momen puitik itu serupa peristiwa atau suasana yang sekejap keluar dari strukturnya lalu kembali lagi. Ibarat kabut yang sejenak membentuk bayangan sebelum matahari menyeruak lagi di pagi cerah. Pada situasi serupa jeda semacam itu sering hadir tegangan yang sunyi atau kosong di antara arti definitif dan makna subjektif. “Karya Sapardi menunjukkan puncak pengucapan puitik di Indonesia,” katanya.

Hasan Aspahani yang sedang menulis biografi Sapardi memberikan banyak informasi tentang sosok mendiang dalam hubungannya dengan puisi. Termasuk bagaimana mulanya Sapardi yakin sastra menjadi jalan hidupnya setelah membaca puisi Rendra di ujung 1950-an. Penulis biografi Chairil Anwar ini menyebut puisi memegang peran penting dalam penulisan buku sosok Sapardi. Cerita di balik puisi hingga bagaimana seorang Sapardi menciptanya ada dalam calon buku tersebut. “Puisi menjadi pintu masuk terhadap bagian personal beliau sekaligus membatasinya dari bagian yang tak perlu dituliskan,” kata Hasan.

Goenawan Mohamad mengenang Sapardi sebagai orang yang setia dengan puisi. “Setiap kali bertemu selalu puisi yang kami bicarakan,” kata GM, sapaan Goenawan. GM menyebut puisi-puisi Sapardi muncul oleh pengaruh banyak sumber. Bukan hanya dari pengalaman sehari-hari namun juga serapannya terhadap karya sastra yang pernah jadi perhatiannya seperti literasi gubahan T. S. Elliot. Di sepanjang perjalanannya menekuni sastra, Sapardi memang banyak menerjemahkan karya sastrawan Amerika Serikat itu.

Bagi Slamet Rahardjo Djarot, Sapardi punya peran penting dalam prosesnya menggeluti film. “Dalam film, yang ada adalah images, bukan picture. Alat untuk memahaminya adalah puisi,” kata Slamet. Menurutnya, bagi insan perfilman, puisi menajamkan rasa untuk mengimbangi teknik visualisasi dalam film yang sangat eksak. Slamet mengaku bersyukur bisa menjadi teman dekat Sapardi dan puisinya. Kolega Sapardi di Institut Kesenian Jakarta ini menyebut, tanpa puisi bisa jadi dia hanya mampu membuat film yang berhenti jadi hiburan semata.

Mengenang Sapardi dari forum Diskusi Mikir-Mikir tersebut hanyalah satu dari sekian banyak ruang virtual yang membahas mendiang. Tak semuanya berupa diskusi yang membicarakan sosok dan karya mendiang. Banyak juga yang hanya berupa pembacaan puisi almarhum. Pembacaan puisi Sapardi di ranah daring sudah dimulai sejak sehari setelah mendiang mangkat.

Salah satunya diinisasi oleh Komunitas Puisi di Rumah Saja bersama Imaji Indonesia dan Infosastra dengan tajuk Membaca Sapardi yang banyak diikuti penyair dari berbagai daerah. Di Madiun, forum bertajuk Sapardi Djoko Damono dalam Kata dan Nada ditaja dengan menghadirkan tanggapan para pelajar terhadap mendiang. Di Purwokerto, para mahasiswa pesantren An Najah menggelar rangkaian Hari Puisi Indonesia dengan salah satu acara bertajuk Tribute to Sapardi Djoko Damono. Tampaknya, mengenang Sapardi masih akan terus berlanjut dan sudah tentu nama mendiang akan abadi di ranah sastra Indonesia. (tir)

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : tir



Close Ads