alexametrics

Di House Bay Pada Hari Berlalunya Sapardi Djoko Damono

Oleh: WAHYUDIN
26 Juli 2020, 09:06:29 WIB

MINGGU, 19 Juli 2020. Satu setengah jam sebelum saya mengayuh Heist 2.0 ke House Bay, penyair Sapardi Djoko Damono putih tulang dalam usia 80 tahun lebih 4 bulan di Eka Hospital, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, pukul 09.17.

Seorang teman -dosen di Palu berduka amat “nyata dan perih.” Di laman Facebook-nya, dia mengingatkan saya bahwa kami bersama seorang kawan yang kini menjadi saudagar di Bengkulu pernah menghadiri diskusi Sapardi Djoko Damono. Mengenai bukunya “Pengarang Telah Mati” di Lembaga Indonesia-Prancis, Jogjakarta, pada sekitar 2001.

Diskusi itu mengesankannya hingga menjelma kenangan belasan tahun tentang seorang penyair masyhur “penuh pukau” dengan sajak-sajak calak dan pikiran-pikiran jempolan.

Sekalipun tak berkenangan sedalamnya, sebagaimana si saudagar Bengkulu, saya masih menyimpan “Pengarang Telah Mati” dan sejumlah kitab sajak Sapardi Djoko Damono. Salah satunya “Hujan Bulan Juni” (1994). Di antara 96 puisi yang terhimpun di situ terdapat “Hujan Bulan Juni”, sajak tiga bait bertitimangsa 1989 yang senantiasa menghela saya menuju permenungan penuh hikmah dari kumpulan insan bulan Juni yang tabah, bijak, dan arif.

Seperti halnya “Hujan Bulan Juni”, sajak Sapardi Djoko Damono yang satu ini terus melekat di benak saya sejak kali pertama mengkhidmatinya pada 1994. Sejak saat itu pula ia selalu memukau dengan imajinasi tak tepermanai dan makna yang terus-menerus mengelak diringkus rampung oleh otak ahmak mahasiswa teologi-filsafat, kecuali dua konco lawas yang kontemplatif itu.

Sajak dari 1980 itu berjudul “Tuan”. Isinya pendek saja. Hanya terdiri dari 8 kata dalam 2 larik sebagai berikut:
“Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.”

Kedua sajak itulah yang gonta-ganti saya lafalkan sembari menggowes tuju House Bay di Jalan Wates Km. 5, Gang Madyosari, Delingsari, Gamping Tengah, Ambarketawang, Sleman, Jogjakarta. Tak saya hitung berapa kali melafalkannya hingga tiba di kediaman dan studio pasangan pelukis Bayu Wardhana dan Juni Aditya Wulandari itu sekitar 30-an menit sebelum azan Zuhur.

Saat itu, bercelana jeans biru dan kaos oblong kuning bergambar objek entah hijau, Bayu berada di studio-panggung terbuka “RumaKayu”, salah satu dari lima rumah di House Bay yang berdiri di atas tanah sekitar 1000 m2. Ia tengah asyik dan riang dengan mesin paku elektrik mengotak-atik meja kayu semeter lebih panjangnya.

“Ini meja dengan desain dan bikinan saya sendiri kali pertama. Ilmunya dari Jepara,” kata pelukis kelahiran Jakarta, 7 Agustus 1964, itu.

Cahaya matahari siang yang menyorot “RumaKayu” membuat Bayu, dengan rambut dikucir yang mulai menipis dan misai-jenggot lebat, kelihatan berwibawa di antara padasan, kotak hitam pelantang suara, kaleng-kaleng cat, sepasang lampion kuning-merah, selembar bendera merah putih, sebuah lukisan besar lanskap Maliobro, seonggok meja komputer, sejumlah lukisan potret, kabel-kabel listrik, lampu kotak, kardus-kardus rokok, kardus pembungkus lukisan, dipan berkasur kapuk, meja dengan mug blirik hijau besar di atasnya, dan kursi kayu kecil.

Penglihatan itu bukan hanya menghadapkan saya pada sebuah momen fotografis yang memikat untuk dipotret, melainkan juga menghadirkan ringkasan mengesankan kesenirupaan Bayu sekira satu dasawarsa belakangan.

Tapi, ketika saya mulai memotretnya, Juni menginterupsi dengan meminta Bayu mengganti kaos oblong kuning dengan kaos oblong coklat cacao bertuliskan Levi’s yang senada warna dinding studio. Bayu menuruti tanpa reserve permintaan perempuan asal Jepara yang dinikahinya pada 1994 dan telah memberikannya delapan buah hati itu.

Awal Juni lalu anak mereka bertambah satu, istri dari putra sulung mereka, Rillokophasa. Kecuali bertukar-sapa dengan Deidramessayu (anak kedua-perempuan) melihat Meshvaranayarei (anak keempat-lelaki) memotret-motret dari kejauhan, menyaksikan Obza’Agra (anak kelima-perempuan), Zhingarhadeja (anak keenam-perempuan), dan Taradatu (bungsu-perempuan) bersendagurau dengan kucing anggora bernama Latte di ruang makan “RumaKayu”, saya tak bertemu Rillokopasha, AuraleonMadeira (anak ketiga-lelaki), dan Shinggudingga (anak ketujuh-lelaki).

***

Di dunia cipta yang relasi antarjenis kelaminnya permisif dengan angka perceraian lumayan tinggi, Bayu dan Juni adalah sepotong kelainan yang mengagumkan. Selama hampir tiga dasawarsa terakhir, tatkala beberapa pasangan perupa lainnya bubar karena perkara dapur, kasur, atau pamor, mereka bertahan dengan cinta yang ngejawantah, yang berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Sejauh ini kadar cinta mereka tergali dan teruji sampai pada situasi-situasi menegangkan seperti hampir-hampir tak bisa membayar tagihan listrik rumah.

Pesan moralnya adalah bagaimana mereka berhasil keluar dari ketegangan itu dengan kerja sama dan tepa selira. Dengan itu, dari waktu ke waktu, setidaknya sampai kini kedelapan anak mereka beranjak remaja dan dewasa, Bayu dan Juni mampu menghalau alasan untuk berpisah, alih-alih sanggup mengelola ego menjadi elan dalam berpasangan, berkeluarga, dan berkarya seni rupa.

Dalam hal itu, saya kira, mereka adalah teladan. Betapa tidak, Bayu yang mengandrungi Queen, Pink Floyd, Genesis, dan Sting tak sungkan berbela-rasa kepada Juni yang kehilangan Sapardi Djoko Damono hari itu.

Sebagaimana banyak orang kelahiran Juni yang menyukai puisi-puisi Saparadi Djoko Damono, Juni beroleh kebanggaan eksistensial dengan puisi “Hujan Bulan Juni”.

“Tapi saya suka juga dengan puisi ‘Aku Ingin’,” kata perempuan kelahiran Jepara 22 Juni 1967 itu.

Tapi, tentu saja, cinta Juni kepada Bayu bukan cinta “kayu kepada api yang menjadikannya abu,” apalagi cinta “awan kepada hujan yang menjadikannya tiada,” melainkan cinta cat kepada kanvas yang menjadikannya berwarna dan berharga.

Baiklah kita ingat sejenak kenyataan ini. Sejak awal 1990-an hingga 2002, Juni dikenal luas sebagai salah satu dari sedikit perempuan pelukis penting di Jogjakarta. Lukisan-lukisannya bergaya naïf tidak hanya mengesankan secara artistik, tapi juga memikat kolektor untuk mengoleksi sehingga bernilai ekonomi tinggi di mata penjaja karya seni lukis.

Buktinya, ketika menggelar belasan lukisan Tugas Akhir guna memperoleh gelar sarjana seni lukis dari ISI Jogjakarta pada 1993, semuanya ludes dibeli kolektor.

Bayu Wardhana Melukis di RumaKayu. (Wahyudin)

Juni menceritakan bukti itu bukan untuk membanggakan masa lalunya, melainkan untuk memperlihatkan satu bagian dalam kehidupan perkawinannya di mana Bayu berada di belakang layar sebagai perajin, penjaja, dan penyelia lukisan-lukisannya.

“Itu pembagian peran yang kami sepakati dengan pikiran dan hati,” kata Bayu sembari menikmati kretek Dji Sam Soe. “Saya cukup mengenal pasar seni lukis waktu itu. Tapi saya sebenarnya ingin berseni lukis. Jadi, sementara membantu seperlunya Juni melukis, saya memanfaatkannya untuk memperdalam teknis melukis saya.”

Sekalipun seangkatan (1987) di ISI Jogjakarta, Juni dan Bayu berbeda jurusan. Juni sekelas dengan perupa Entang Wiharso, Nasirun, dan Pupuk Daru Purnomo di Jurusan Seni Lukis. Sedangkan Bayu di Jurusan Desain Komunikasi Visual.

“Gak seperti sekarang, lukisan Bayu dulu sangat ‘diskomvis’,” kata Juni setelah kami bertiga makan siang ikan gurame goreng, urap, sambel terasi, dan es sirup kelapa muda.

Salah satu lukisan Bayu yang sangat “diskomvis” itu, terpajang di “RumaSeni” di lantai dua “RumaBatu”, berpokok perupaan potret lengkap keluarga Bayu-Juni yang komposisinya terdesain rapi dengan teknik realis.

Harus diakui memang lukisan itu jauh berbeda secara artistik dengan lukisan-lukisan Bayu mutakhir, terutama yang dibuatnya sejak pameran tunggalnya “On the Spot Bayu Wardhana” di Taman Budaya Yogyakarta empat tahun lalu.

***

Lukisan-lukisan Bayu saat ini berpokok perupaan lanskap kota atau desa yang ditemurupakannya secara langsung dalam tempo secukup-cukupnya di mana pokok perupaan itu berada, entah itu di Jogjakarta, Bali, Yangon, atau Tiongkok.

Dalam khazanah seni lukis, praktik artistik Bayu itu dikenal dengan istilah “on the spot”. Itu memang bukan sesuatu yang baru. Sebelumnya sudah pernah diamalkan dengan gemilang oleh mendiang maestro Affandi. Tapi, setelahnya Bayu lah pelukis di Jogjakarta, kalau bukan di Indonesia, yang menjalankan “on the spot” dengan penuh seluruh.

Dengan itu, Bayu beroleh kelokan sejarah yang memampukannya mengada sebagai pelukis yang diperhitungkan dengan lukisan-lukisan bernilai artistik dan ekonomi yang khas dan menjanjikan. Maka, setelah pameran tunggalnya pada 2016 itu, “on the spot” pun menjelma sebagai poin melekat atau penanda eksitensial Bayu di medan seni lukis Indonesia.

Sejak saat itu, praktis peran sosial dalam rumah tangga Bayu berubah. Juni berpindah posisi ke belakang sebagai penjaga marwah keluarga dan anak-anak. Bayu tampil di depan dengan status sebagai pelukis yang berterima. Namun sejak saat itu pula Bayu dan Juni memiliki “quality time” yang memungkinkan mereka selalu berada bersama di ruang dan waktu yang sama. Terutama dalam “on the spot” Bayu tak akan membiarkan Juni sebagai semacam kritikus utamanya tertinggal di rumah.

Demikian pula kala siang hingga hampir petang Minggu itu. Bayu dan Juni hadir bersama menanggapi dan menjawab pernyataan-pertanyaan saya seraya sekali-dua berbicara dengan tukang sumur dan asisten rumah tangga mereka yang memperbaiki pompa air yang macet di “RumaKayu”. Mereka saling menambal-sulam dan mengisi pemahaman dan penghayatan saya atas hayat dan karya mereka, khususnya daya cipta Bayu.

Misalnya, seturut penjelasan Juni, selain “RumaKayu”, “RumaSeni”, dan “RumaBatu”, ada pula “RumaLoji” di lantai dua-tiga “RumaBatu” tempat keempat anak gadis berkamar, dan “RumaBata” yang berfungsi sebagai pusat interaksi keluarga Bayu-Juni dengan keempat anak perempuan dan keempat anak lelaki mereka yang berkamar di “RumaKayu”.

Di lantai dua “RumaKayu” ada studio musik yang memungkinkan Bayu dan keempat anak lelakinya bermusik dengan asyik. Tapi di “RumaBata” lah momen-momen penting keluarga Bayu-Juni seperti ulang tahun diberlangsungkan.

Satu hal lagi, jika Bayu berstudio di “RumaKayu” dan “RumaSeni” bertelevisi layar datar 18 inch yang jarang menyala, kecuali untuk menonton Valentino Rossi balapan MotoGP, maka Juni berstudio di “RumaBatu” sedari 1993. Ini rumah awal House Bay sejak Bayu-Juni pacaran pada sekitar 1987.

Bayu menggarisbawahi penjelasan itu dengan mengatakan bahwa apa yang terlihat saat ini tercapai sebagaimana pohon mangga, nangka, srikaya, atau wuni di House Bay yang tumbuh alamiah sesuai dengan ikhtiarnya dan Juni yang tak jarang mengelucak badan.

Jadi, sejatinya House Bay saat ini adalah kediaman dan studio, dengan jaringan Wi-Fi, karya seni, alat musik, dan kendaraan roda dua-empat, yang belum-sudah tumbuh di atas kebijaksanaan batu hitam kali sebagaimana pernah dituturkan pelukis berida Djokopekik.

“Bayu… jadilah pelukis seperti batu hitam kali yang tampak tenggelam ketika banjir, tapi sesungguhnya sintas. Jangan seperti sampah plastik yang menari-nari di atas arus, tapi selanjutnya terserak-serak di pinggiran kali saat banjir surut.”
Saya kira itu hikmat yang pantas dibawa pulang. (*)


*) Wahyudin, Kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads