alexametrics

Didik Nini Thowok: Serbasulit saat Pandemi, Terbantu Job Daring

25 Oktober 2020, 15:35:09 WIB

Selama pandemi, kegiatan dari berbagai lini terdampak. Itu pula yang dialami seniman. Kepada Jawa Pos, Didik Nini Thowok menceritakan pengalamannya bertahan dan terus berkarya di tengah pandemi.

Bagaimana kabar Anda sebagai seniman selama pandemi?

Sama, sama sulitnya. Karena saya kan seniman pertunjukan dan bukan pegawai negeri. Hasilnya didapatkan dari show. Dengan adanya pandemi dan nggak ada show, otomatis nggak ada pemasukan sama sekali. Bahkan, karyawan saya sudah dirumahkan.

Seperti apa kesulitannya dulu saat awal pandemi?

Saya minta bantuan ke teman-teman dan mereka banyak membantu. Teman-teman memiliki relasi sponsor dari Amerika, Jepang, dan Australia. Banyak juga yang membantu kemarin. Saya terus terang ke mereka bahwa saya kesulitan uang dan mereka membantu. Meski, kalau dipikir, mereka juga berada dalam situasi sulit. Kepeduliannya mungkin karena pertemanan.

Seperti apa kegiatan sehari-hari dan adaptasinya dengan kenormalan baru?

Ini sekarang mulai banyak daring. Waktu April, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud memberikan program daring selama enam paket. Lalu, ada webinar, minta saya mengisi sebagai narasumber. Itu yang membantu kita sehingga bisa ada pemasukan. Lalu, ada program lagi dari Dinas Kebudayaan Jogja. Itu dokumentasi maestro, PKN (Pekan Kebudayaan Nasional) dari Kemendikbud juga, ditunjuk sebagai salah seorang koreografer.

Saat ini kegiatannya berangsur-angsur makin banyak lagi?

Iya, karena mungkin ini menjelang tutup tahun dan ada banyak anggaran yang harus diserap. Jadinya banyak sekali seniman yang mengadakan proyek daring. Mudah-mudahan setelah ini selesai ya dan masih ada proyek lagi. Kalau nggak, ya nggak tahu.

Bagaimana bila kondisi ini masih berlanjut untuk para seniman?

Saya tidak bisa memprediksi ya, tapi mau tidak mau kan kita harus kreatif. Seperti saya, yayasan mengaktifkan lagi YouTube saya. Saya punya YouTube channel sejak 2008 kalau nggak salah dan baru aktif sekarang. Zaman itu kan belum kepikiran bahwa YouTube itu bisa menghasilkan. Jadi, yang penting untuk promosi, meng-upload video ke YouTube, dan menyimpan datanya ke sana. Sekarang YouTube malah bisa dimonetisasi dan menghasilkan.

Sebagai seniman tari, apa arti koreografi bagi Pak Didik?

Koreografi ini kan mengangkat nama saya sehingga sangat penting, menjadi bagian dalam kehidupan saya. Saya mendapatkan gelar (Nini Thowok) itu kan dari koreografi itu. Itu bukan karya saya lho, melainkan karya Mbak Bekti Budi Hastuti.

Adakah sosok guru atau maestro tari yang secara khusus menginspirasi Pak Didik?

Secara khusus nggak ada. Karena saya belajar ke banyak maestro itu untuk pengayaan ilmu. Jadi, saya tidak pernah fanatik dengan satu guru. Semakin banyak guru, wawasan kita makin luas.

Momen yang paling berkesan dan dirindukan dari dunia tari?

Berkolaborasi dengan teman-teman dari banyak negara. Teman Tiongkok, Taiwan, Hongkong, India, Thailand, dan Kamboja. Sejak 1994, saya berkolaborasi di Jepang. Itu kan unik sekali, asyik toh. Nah, sekarang situasi begini. Nggak tahu kapan bisa ketemu lagi. Rasanya gimana gitu.

Pesan-pesan untuk sesama seniman dan pemerintah dalam menjamin kesejahteraan seniman pada masa pandemi?

Kalau dari pemerintah pusat, action-nya sudah cukup bagus. Tapi, saya nggak tahu kalau daerah kan punya kebijakan masing-masing. Untuk seniman, jangan putus asa. Jangan malu dan gengsi kalau harus cari sampingan, buka warung atau angkringan. Ya, jalani aja. Saya pun nggak gengsi karena pernah punya angkringan sebelum pandemi. Tapi, sekarang memang saya nggak punya angkringan karena pindah rumah.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : deb/c14/bay



Close Ads