alexametrics

Pembacaan Karya Dua Empu Sastra

24 September 2020, 02:58:52 WIB

JawaPos.com – Subagio Sastrowardoyo dan Sapardi Djoko Damono adalah dua empu sastra Indonesia yang meninggalkan karya-karya kuat. Subagio tak hanya ahli dalam menulis prosa, penyair kelahiran Madiun itu juga lihai pada puisi. Karyanya punya kedalaman filosofis, sedangkan Sapardi selain matang dalam puisi liris juga punya sejumlah karya kuat berupa fiksi mini. Di Musim Seni Salihara, empat karya dari Subagio dan Sapardi hadir dalam sebuah pembacaan sastra bertajuk Dari Dua Empu Sastra.

Kurator Sastra Komunitas Salihara Ayu Utami menyebut Subagio dan Sapardi adalah nama penting dalam sastra modern Indonesia. ’’Subagio memecah kebekuan sastra di masa 1950 an dengan menghadirkan intelektualisme dalam puisi tanpa kehilangan kekuatan simbolisnya,’’ kata Ayu dalam pengantaranya. Sementara, menurut Ayu, Sapardi adalah sastrawan yang melanjutkan tradisi puisi lirik warisan Amir Hamzah tapi juga kuat dalam sajak-sajak imagis dan puisi prosa.

Pembacaan karya Subagio dan Sapardi tersebut disajikan dalam bentuk rekaman yang tayang di kanal media sosial Komunitas Salihara. Di babak pertama, fiksi mini berjudul Saksi karya Sapardi Djoko Damono dibacakan oleh Putri Ayudya. Lalu, puisi karya Subagio berjudul Mata Penyair dibacakan oleh Muhammad Khan. Lalu, di babak kedua ada pembacaan fiksi mini berjudul Polisi Patung karya Sapardi Djoko Damono oleh Putri dan puisi Manusia Pertama di Angkasa Luar karya Subagio oleh Khan.

Putri dan Khan menyiapkan pembacaan karya tersebut sekitar dua pekan sebelum perekaman. Keduanya sama-sama sepakat bahwa pelisanan teks menjadi yang utama sebelum memikirkan sudut-sudut pengambilan gambar saat perekaman. ’’Kami berpikir karena ini sastra, maka pelisanan kata dengan jelas untuk yang mendengarnya menjadi hal penting,’’ kata Putri.

Putri dan Khan adalah dua nama yang dekat dengan teater sekaligus aktif di dunia film Indonesia hari ini. Dalam pembacaan Dari Dua Empu Sastra, keduanya melisankan karya Subagio dan Sapardi dengan baik. Godaan untuk mendeklamasikan teks dengan berlebihan dapat mereka hindari. Celah kemungkinan memerankan aku lirik tidak mereka hindari dan tetap muncul dengan tertata. Sayang, perekaman tanpa menggunakan mikrofon menjadikan audio pembacaan mereka menjadi tak bersih dari gema.

Putri adalah aktris yang telah bermain di banyak panggung teater. Putri ikut mendirikan Teko, Teater Psikologi, Universitas Indonesia. Dia juga ikut membintangi sejumlah film seperti Guru Bangsa: Tjokoraminoto (2015), Wage (2017) dan terbaru, Mudik (2020). Putri pernah masuk dalam nominasi Aktris Terbaik pada Festival Film Indonesia 2018.

Sementara, Muhammad Khan adalah aktor teater dan film yang mendalami seni peran di Jurusan Teater, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (2009-2016). Setelah itu ia bermain di beberapa film pendek. Ia memulai debutnya di film panjang dalam film 𝘒𝘶𝘤𝘶𝘮𝘣𝘶 𝘛𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘐𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘶 (2018) karya Garin Nugroho. Melalui film itu ia pun diganjar sebagai Pemain Utama Pria Terbaik dari Festival Film Indonesia 2019. (tir)

 

Editor : tir




Close Ads