alexametrics

Sakatoya Siapkan Vulcrum untuk Cumbanarasa

22 Juli 2020, 23:20:11 WIB

JawaPos.com – Pandemi Covid-19 memaksa orang untuk masuk ke dalam interaksi daring demi keamanan dan kesehatan bersama. Interaksi langsung masih dibatasi, bahkan dilarang di daerah berkategori merah atau hitam. Internet menjadi juru selamat atas kebutuhan interaksi sosial bagi manusia semasa pandemi. Bagaimana jika dalam situasi pandemi seperti kini internet hilang? Pertanyaan itu menjadi titik tolak Komunitas Sakatoya di Kotagede merancang Cumbanarasa Project.

’’Manusia adalah homo homini socius. Saling terikat, saling terkait, saling butuh dengan manusia lain. Saat pandemi, internet sangat penting bagi manusia atas keniscayaannya itu,’’ kata B.M Anggana, Sutradara dan Produser Cumbanarasa Project. Menurutnya, pandemi yang tak terduga beserta melejitnya peran penting internet tersebut memicu beragam bentuk adaptasi manusia hari ini. Di ranah seni, pentas dan pameran daring bermunculan. Cumbanarasa bermain-main pada spekulasi bagaimana rupa seni bila internet lenyap.

Cumbanarasa Project adalah program mandiri penerbitan seni pertunjukan ke dalam bentuk artefak fisik. Istilah artefak fisik dipilih karena adanya kompleksitas penciptaan lintas batas bentuk seni. ’’Cita-citanya adalah melakukan konversi seni pertunjukan menjadi sesuatu yang bersifat collectable sehingga tak hanya selesai di ingatan,’’ kata Anggana. Harapannya penonton dapat menyiapkan ruang dan waktunya secara lebih spesifik ketika hendak menikmati karya dengan atau tidak bersama internet.

Untuk terbitan pertama, Komunitas Sakatoya akan menyajikan sebuah pertunjukan musik yang dikemas secara digital berjudul Vulcrum-A Sonic Anthology karya Jenar Kidjing. Komponis musik teater dan pertunjukan itu akan menghadirkan karya-karya yang beragam. ’’Ada 11 nomor yang tampil di sini. Sebagian muncul seiring proses teater. Seluruhnya disarikan ulang,’’ kata Jenar. Pertunjukan musik itu diproses menjadi video digital dan audio.

Gagasan Vulcrum juga ditafsirkan secara visual menjadi desain grafis yang diaplikasikan ke beberapa produk fisik. Vulcrum dalam Cumbanarasa mulai berproses pada 26-28 Juli mendatang dengan melibatkan 55 partisipan melalui undangan terbuka sebagai penonton. Para penonton tersebut wajib memberikan catatan bebas merespons Vulcrum. Catatan itu nantinya akan turut diterbitkan sebagai bagian dari artefak fisik Vulcrum. Akun Instagram Komunitas Sakatoya menjadi pintu bagi mereka yang ingin terlibat dalam Cumbanarasa Project. (tir)

 

Editor : tir



Close Ads