Menekuni Kaligrafi Oriental, Tangan Harus Bisa Menari di Atas Kertas

22 Januari 2023, 16:38:04 WIB

AUDREY Hanley Wijaya menggoreskan kuasnya perlahan. Dara Surabaya itu membentuk karakter Fu dalam aksara Han atau Hanzi. Bentuk 福 sering dijumpai di pintu-pintu rumah warga peranakan Tionghoa menjelang Imlek. Selain dilukis sendiri, dekorasi tulisan 福 berwarna merah dan emas bertebaran di toko pernak-pernik Imlek.

”Artinya keberuntungan,” jelas Audrey. Tidak heran jika tulisan itu dipajang di depan rumah. Ada yang memasangnya dua pekan sebelum perayaan Imlek, namun ada juga yang memasangnya sepanjang tahun. Maknanya adalah untuk mengundang keberuntungan ke dalam rumah tersebut sehingga seluruh penghuninya beruntung.

Runner-up Cici Jawa Timur 2022 itu mengatakan bahwa pemasangan Fu juga harus diperhatikan. Jangan sampai terbalik. Sebab, jika terbalik, maknanya akan berbeda.

”Fu terbalik itu menjadi dao dan ada dua arti juga,” imbuhnya kepada Jawa Pos saat ditemui Jumat (20/1) lalu. Pada 倒 (dao) yang berarti terbalik, terdengar sama dengan 到 (dao) yang berarti tiba. Penggunaan 福 (fu) saja atau 福 倒 (Fu Dao) menjadi harapan baik karena memiliki arti keberuntungan yang akan tiba atau datang.

Bentuk 福 (fu) tersusun dari 13 goresan yang dibuat dengan urutan pakem. ”Kalau kita salah urutan, salah garis, semua pasti kelihatan. Seperti itulah shufa atau seni kaligrafi Tiongkok,” ucap Audrey.

Tumpukan goresan yang terlalu tebal atau garis yang tidak bersambung juga pasti akan langsung terlihat. ”Makanya kalau salah, langsung ganti kertas. Tapi nggak apa-apa, anggap saja latihan,” sambungnya, lantas tersenyum.

Seniman shufa memang wajib berlatih rutin. Audrey menegaskan bahwa tangan tak boleh kaku agar bisa ”menari” di atas kertas.

Sebelum langsung terjun pada penulisan kaligrafi huruf, pemula lebih dulu dikenalkan pada konsep kaligrafi tiup. ”Hasilnya bukan tulisan, melainkan gambar. Alat utamanya justru sedotan yang bisa ditekuk,” ucap mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Mandarin Universitas Widya Kartika itu.

Dalam shufa, ada beberapa teknik memegang kuas yang perlu dipelajari. Salah satuanya teknik mata elang seperti yang dikuasai Audrey. Kuas dipegang pada bagian tengah. Telunjuk, jari tengah, dan jari manis menekan bagian depan, sedangkan ibu jari menekan dari sisi sebaliknya.

”Lebih stabil untuk saya. Ada juga yang telunjuk dan ibu jari menjadi tumpuan utama, sedangkan tiga jari lain menahan dari belakang kuas. Posisinya di bawah ibu jari,” jelasnya.

SARAT MAKNA: Audrey Hanley Wijaya menunjukkan aksara Hanzi “Fu” yang artinya keberuntungan saat ditemui Jumat (20/1). (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : dya/c19/hep

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads