Melestarikan Tradisi Kaligrafi Oriental, Seni Mendalami Karakter Diri

22 Januari 2023, 16:27:20 WIB

Harimau Naik Gunung, Kelinci Datang Bawa Untung

Puisi filosofis dalam rangkaian kaligrafi oriental menyambut kedatangan Tahun Kelinci Air. Aksara-aksara sarat makna di atas kertas berwarna merah itu biasanya menghiasi pintu-pintu rumah warga keturunan Tionghoa. Imlek kali ini menandai bergantinya kesulitan dengan keberuntungan.

DENGAN cekatan, Wang Yubin menggerakkan kuas kecil di tangan kanannya. Tak butuh waktu lama, aksara-aksara Mandarin tercipta di sana. Kalimat itu mengandung arti yang kurang lebih berbunyi, ”Harimau cepat-cepat naik ke gunung, kelinci cepat-cepat datang membawa keberuntungan.”

Wang Yubin menuliskan puisi oriental untuk menyambut Imlek. Tahun Kelinci dipercaya sebagai tahun pembawa keberuntungan. Dengan demikian, Tahun Harimau yang identik dengan kesulitan telah berakhir.

”Tema puisi (untuk Imlek, Red) umumnya sama. Keberuntungan dan awal yang baik,” kata Yudhi Gejali, penekun kaligrafi oriental, saat ditemui Jawa Pos di Bali House, Serpong, pada Sabtu (14/1) pekan lalu.

Kaligrafi adalah salah satu budaya oriental yang identik dengan tradisi Imlek. Biasanya, aksara-aksara Mandarin itu dituliskan di atas kertas berwarna merah, lalu dipasang di gerbang rumah. Sebagian besar kaligrafi itu berisi harapan. ”Biasanya berharap awal yang baik,” lanjut Yudhi.

Untuk kali pertama, komunitas Mo Yun Calligraphy menggelar penulisan kaligrafi secara langsung. Mereka mengundang Wang Yubin yang merupakan guru kaligrafi asal Tiongkok. ”Komunitas ini adalah binaan guru Wang,” imbuh Yudhi.

Pria asal Kalimantan itu mengatakan, dalam acara luring tersebut, ada sekitar 20 peserta yang semuanya pemula. Mereka antusias belajar kaligrafi langsung dari ahlinya. Wang Yubin mengajak para peserta menulis couplet atau puisi berpasangan. Kuas yang digunakan berukuran mulai kecil hingga sedang.

Yudhi mengatakan bahwa kaligrafi oriental belum populer di Indonesia. Namun, dia dan para penekun hobi kaligrafi yakin tradisi tersebut tetap lestari. Salah satunya adalah dengan menggelar aktivitas menulis bersama untuk pemula. Dengan demikian, generasi muda akan lebih mengenal kaligrafi dan tergerak melestarikannya.

Tidak hanya merawat tradisi leluhur, menulis kaligrafi juga punya banyak manfaat. Salah satunya adalah sebagai media pendidikan karakter. Dengan berlatih menulis kaligrafi, seseorang akan berlatih tentang kesabaran, ketekunan, dan pengendalian diri.

”Karena dalam menulis (kaligrafi, Red) harus tahu kapan waktunya (kuas) ditekan dan kapan diangkat,” ungkapnya. Individu yang mampu menuliskan kaligrafi dengan apik, menurut Yudhi, juga punya karakter yang bagus. Karena itu, dia mengimbau para orang tua untuk mendorong putra-putrinya menekuni kaligrafi sebagai upaya untuk mengenali dan membentuk karakter diri.

SARAT MAKNA: Audrey Hanley Wijaya menunjukkan aksara Hanzi “Fu” yang artinya keberuntungan saat ditemui Jumat (20/1). (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

TAHAPAN BELAJAR SHUFA

  • Membiasakan diri dengan huruf-huruf Hanzi
  • Mendalami arti setiap huruf
  • Memahami cara membacanya
  • Mempelajari urutan penulisan aksaranya

Sumber: hasil wawancara

Editor : Ilham Safutra

Reporter : tyo/c19/hep

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads