Desember Lalu Nano Riantiarno Sudah Bilang Ingin Pulang…

21 Januari 2023, 11:48:56 WIB

Pendiri Teater Koma Itu Tengah Rancang Pentas “Matahari dari Papua”

JawaPos.com – ”Aku mau pulang,” ucap Nano Riantiarno kepada anak-anaknya ketika masih dirawat di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, Desember lalu. Ucapan itu beberapa kali dilontarkan pendiri Teater Koma yang juga dikenal sebagai jurnalis tersebut.

Hingga akhirnya, pihak keluarga menuruti permintaan Nano untuk pulang ke rumah di Jalan Cempaka Raya No 15, Bintaro, Jakarta Selatan. Senin (16/1) lalu Nano mulai menjalani rawat jalan di rumah. Tiga anaknya, yakni Rangga Bhuana, Rasapta Chandrika, dan Gagah Tridarma Prastya, bergantian menjaga sang ayah.

Oksimeter yang melekat di tubuh Nano terus dicek sepanjang perawatan tersebut. ”Kami lihat saturasinya naik turun, kadang juga tidak terbaca,” ujar Rangga Bhuana kepada Jawa Pos kemarin (20/1).

Sekitar lima hari dirawat di rumah, Nano memanggil anak-anaknya untuk berkumpul. Pada Jumat (20/1), mereka akhirnya berkumpul sekitar pukul 05.00. Pertemuan itu terasa sangat sakral karena Rangga dan dua adiknya berkali-kali mengucapkan terima kasih untuk sang ayah.

Mereka juga menyampaikan rasa sayang yang begitu dalam kepada Nano.

”Kami juga saling meminta maaf,” ungkap anak sulung Nano tersebut.

Dua jam setelah pertemuan itu, tepatnya pukul 06.58, aktor, penulis, dan sutradara kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949, itu benar-benar pulang ke keabadian. Rangga sempat menunggu hingga pukul 07.00 lebih sebelum akhirnya memastikan bahwa sang ayah benar-benar tiada. ”Karena sebelumnya sempat tidak terbaca (angka saturasi oksigen, Red),” terang pria dengan nama panggung Rangga Riantiarno tersebut.

Didikan Akademi Teater Nasional, Jakarta, itu mendirikan Teater Koma pada 1 Maret 1977. Mundur sembilan tahun sebelumnya, dia turut membantu Teguh Karya mendirikan Teater Populer. Kedua teater tersebut sangat berpengaruh dalam jagat perteateran modern tanah air. Selain melahirkan banyak aktor hebat.

Teater Koma sangat menonjol dalam produktivitas dan tata produksinya. Sudah ratusan produksi untuk panggung pertunjukan dan televisi telah mereka lahirkan. Nano selama ini menjadi otak kreatifnya, sedangkan sang istri, Ratna, yang juga seorang aktris, memegang manajemen produksi.

Nano punya riwayat penyakit tumor. Dia juga sempat menjalani operasi pengangkatan tumor di bagian paha pada 8 November lalu. Pada saat itu, diketahui ternyata tumor berupa benjolan tersebut sudah diderita Nano sejak empat tahun lalu. ”Baru tahun lalu papa merasa sakit dan mengganggu aktivitas,” tutur Rangga.

Selesai operasi tumor, Nano pulang dari rumah sakit. Namun, di awal Desember, pria dengan nama asli Norbertus Riantiarno itu tiba-tiba mengalami batuk-batuk. Nano akhirnya kembali ke rumah sakit pada 3 Desember untuk menjalani rontgen. ”Diambil cairan di paru-paru yang bikin sesak napas, dan memang kondisinya kanker,” ujar Rangga.

Sebagai anak yang juga menekuni seni teater, Rangga begitu kehilangan sosok sang ayah. Rangga pun ingat betul bagaimana perjuangan sang ayah yang tetap berkarya meski menderita tumor di kaki. Perjuangan itu membuat Nano memenangi sayembara penulisan naskah teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Desember lalu. Judulnya Matahari dari Papua.

Naskah itu rencananya dipentaskan 23 November tahun ini. Teater Koma yang didirikan Nano pada Maret 1977 itu pun sudah membahas kesiapan produksi pementasan. Mulai dari kapan latihan, penentuan naskah, hingga mencari gedung untuk pementasan. ”Teater Matahari dari Papua ini mungkin akan jadi tribute (untuk Nano Riantiarno, Red),” imbuh Rangga.

Sederet tokoh teater dan aktor film datang ke rumah duka untuk mengucapkan belasungkawa. Presiden Joko Widodo pun turut mengucapkan belasungkawa melalui karangan bunga. Sujiwo Tejo, salah satu seniman yang hadir di rumah duka, mengatakan, sosok Nano Riantiarno adalah seniman yang keras dan berani di zaman Soeharto.

”Dulu (era Soeharto, Red) mau bikin teater harus izin. Harus ke kejaksaan, ke kodim,” ungkapnya saat melayat di rumah duka.

Beberapa teater Nano yang diingat Sujiwo adalah Opera Primadona, Opera Kecoa, dan Sampek Engtay. ”Semua menyindir kekuasaan,” kata sastrawan dan juga aktor tersebut.

Tak hanya besar di balik dan di atas panggung, Nano juga memiliki pengalaman panjang di bidang jurnalistik. Almarhum turut membidani lahirnya majalah Zaman pada 1979. Kemudian turut andil membesarkan majalah Matra pada 1986 hingga awal 2000-an.

Selain dari Teater Koma, Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu juga menyampaikan bahwa dirinya mengenal Nano dari karya-karyanya di majalah Matra. ”Saya mengenali karya-karyanya dan membaca majalah, terutama majalah Matra yang waktu itu selalu menjadi rujukan karya jurnalistik,” kata Ninik kepada Jawa Pos kemarin.

Bagi Ninik, kehilangan Nano adalah kehilangan bagi bangsa. ”Mudah-mudahan bangsa Indonesia terus berupaya melahirkan sosok-sosok baru Pak Riantiarno untuk membangun bangsa ini ke depan,” katanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : syn/tyo/c17/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads