Representasi Tri Hita Karana Bali

20 November 2022, 10:42:52 WIB

Pameran Seni Constellations: Global Reflections Tampilkan 20 Karya dari 21 Seniman Negara G20

JawaPos.com – Agenda puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali memang sudah tuntas. Namun, rangkaian kegiatannya masih berlanjut. Kemarin (18/11) malam pameran seni bertajuk Constellations: Global Reflections (CGR) dibuka secara resmi.

Dalam pameran berkonsep ruang terbuka atau outdoor tersebut, tidak kurang dari 20 karya dua dimensi kreasi sejumlah seniman kontemporer internasional dari berbagai negara dipamerkan.

Beberapa seniman yang turut ambil bagian dalam pameran tersebut, antara lain, Xu Bing (Tiongkok), Kiki Smith (Amerika Serikat), Ilya dan Emilia Kabakov (Rusia/Ukraina), Arahmaiani (Indonesia), A.D. Pirous (Indonesia), Kimsooja (Korea Selatan), dan Ben Vautier (Prancis). Para seniman yang turut serta dalam CGR berasal dari masing-masing negara G20. Karya mereka dikuratori oleh Lance Fung dari Fung Collaboratives.

Lance merupakan kurator yang terkenal dengan sejumlah proyek seni publik. Dia diundang langsung oleh Cherie Nursalim yang menggagas penyelenggaraan CGR. Sebagai pengusaha, filantropis, juga anggota MoMA International Council, Cherie ingin CGR menjadi pameran yang fokus pada isu perubahan iklim, kesetaraan hidup, dan kolaborasi. Tentu tanpa lepas dari sejarah kain Bali, proses pembuatan lampion, dan pertunjukan wayang sebagai benang merah konsep pameran tersebut.

Hal itu ditegaskan pula oleh Fung. Dia menyatakan bahwa CGR merupakan penegasan atas filosofi hidup khas Bali. ”Constellations: Global Reflections bertujuan untuk mempertegas filosofi hidup khas Bali. Yaitu, Tri Hita Karana,” ujar Lance.

Burned Tress karya Arahmaiani (Indonesia). (Dokumentasi Global Reflections)

Secara harfiah, lanjut dia, Tri Hita Karana diartikan sebagai tiga cara untuk mencapai kebahagiaan atau harmoni. ”Filosofi ini mencakup tiga aspek kehidupan di Bali. Yakni Tuhan, manusia, dan alam,” tambahnya.

Tidak heran, CGR menjadi pameran yang unik dan berbeda dari kebanyakan pameran seni lainnya. Dalam pameran tersebut, 20 karya yang dihasilkan oleh 21 seniman dicetak secara digital di atas kain.

Bukan sembarang kain, kain yang digunakan sebagai media cetak berbahan plastik daur ulang. Seluruh karya tersebut lantas diaplikasikan pada sepuluh instalasi menyerupai drum yang dapat berputar dengan mengandalkan energi matahari.

Pada pembukaan CGR yang disiarkan secara dalam jaringan (daring) itu, sempat ditayangkan video yang menunjukkan puluhan karya tersebut. Tidak hanya siang hari, karya-karya itu juga bisa dinikmati pada malam hari.

Instalasi tersebut mengeksplorasi suasana tenang dan syahdu di Kawasan Kura Kura Bali. Lebih dari itu, turut melambangkan mercusuar yang diharapkan bisa menarik perhatian banyak mata untuk melihat langsung karya-karya dalam pameran tersebut.

Tentu saja bukan sekadar melihat, penyelenggara CGR membuka diri kepada setiap pengunjung yang datang untuk berdiskusi dan bertukar pikiran berkenaan dengan cara-cara yang bisa ditempuh untuk menciptakan masa depan yang lebih baik dan lebih kuat. Itu bersesuaian dengan Tri Hita Karana yang turut menjadi penekanan dalam pameran tersebut. ”Dengan menempatkan ketiganya (Tuhan, manusia, dan alam) sebagai dasar pengembangan di Kura Kura dengan fokus utama kebahagiaan dan sistem berkelanjutan,” beber lance.

Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri Cina II karya A.D. Pirous (Indonesia). (Dokumentasi Global Reflections)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : syn/c17/dra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads