Lakon Orang-orang Berbahaya, Satire Tentang Bahaya Politik Identitas

20 November 2022, 12:51:20 WIB

JawaPos.com – Pesta demokrasi masih dua tahun lagi. Namun gegap gempita dan tensi politik dari kader parpol hingga para pendukung calon presiden sudah mulai memanas. Ini setelah salah satu partai politik sudah memilih dan mendeklarasikan diri calon presidennya, meskipun putaran kampanye masih cukup lama.

Di media sosial, narasi kebencian yang didengungkan buzzer juga mulai bergaung. Gayung pun bersambut, tensi pun mulai memanas lagi, antara kubu pendukung capres yang kini jadi presiden dan pendukung garis keras dari rival politiknya. Padahal baik capres yang terpilih dan kalah, kini telah bersatu dan bekerja dalam satu kabinet. Tentunya hal ini harus cepat diatasi, karena potensi jurang kebencian masih menganga, sehingga bisa mengancam disintegrasi bangsa.

Untuk mengingatkan masyarakat Indonesia betapa bahayanya politik identitas,  dan agar pada pemilu 2024 nanti memilih pemimpin yang baik, jujur dan adil, serta tidak memainkan politik identitas, Indonesia Kita menggelar pertunjukan teater dengan tema ‘Orang-Orang Berbahaya’. Meski tajuk yang diusung berat dan punya pesan moral yang sangat kuat, namun di tangan Agus Noor (Sutradara) dan Butet Kertaradjasa (Pendiri Indonesia Kita), lakon ini bisa dimainkan dengan canda tawa tanpa mengurangi maknannya.

Dua detektif bongkar kejahatan dengan menyamar menjadi orang gila

“Dooorrr…Dooorrrr…Dooorrr…..!”.

Seorang pria berkaus kuning dan bertubuh gempal (Muncle), roboh usai tertembus timah panas yang dikeluarkan seorang anggota polisi. Tubuh pria malang itu langsung tergeletak bersimbah darah di lantai.

Tak lama kemudian, dua orang detektif (Cak Lontong dan Akbar) datang dan mengecek keadaan jasad pria malang itu. Sementara itu, agar lokasi tempat kejadian perkara (TKP) tak dirusak oleh orang yang tak tak berkepentingan, atas perintah detektif Lontong, detektif Akbar pun langsung memasang garis polisi (police line), kemudian memerintah petugas membawa mayat ke kamar jenazah.

Selanjutnya, sejumlah pasien rumah sakit jiwa (RSJ) yang berasal dari pejabat-pejabat lama seperti Yu Ningsih, Marwoto dan sejumlah pasien lain meracau tak karuan. Keadaan ini pun membuat kacau rumah sakit. Untuk menenangkan sejumlah pasien ini, dua dokter rumah sakit jiwa, Susilo Nugroho dan Wisben datang. Keduanya pun meminta pasien-pasiennya tenang dan kembali ke kamar masing-masing.

Dilain pihak, atas terjadinya penembakan, seorang pemimpin lama (Butet Kertaredjasa) curiga. Dia meyakini, jika kejadian ini tak hanya terjadi sekali saja. Namun, kerap terjadi berulangkali, namun tak banyak terungkap. Ini karena ada oknum orang-orang berbahaya yang menutupinya. Untuk mengungkap kasus tersebut, Butet pun meminta detektif Lontong dan Akbar menyelidikanya dengan cara menyamar menjadi pasien rumah sakit jiwa.

“Kamu Kuda…..” ucap Yu Ningsih kepada detektif Lontong.
“Kamu Kuda….” kata Yu ningsing pada detektif Akbar.
“Kamu Kuda….” ungkap Yu Ningsih pada dokter Susilo dan Wisben.

Kalau aku?,” tanya Suster Inayah Wahid pada Yu Ningsih.
“Kamu Kuda…,” ujar Yu Ningsih.

Mendapati jawaban tersebut, Suster Inayah pun nyeletuk pada sang pasien.

“Moso kayak gini dibilang Kuda. Aku gajah,” kata Inayah disambut tawa penonton.

Para pasien pun diperiksa satu-satu. Setelah semua pasien dipanggil, tertinggal satu pasien yang belum teridentifikasi.

Ketegangan pun terjadi. Inayah kaget bukan kepalang. Ternyata pasien terakhir yang belum teridentifikasi itu Muncle, kekasih Inayah yang dikabarkan sudah meninggal tertembak oleh polisi.

“Bukannya kamu sudah mati?”. Tanya Inayah.

“Itu yang meninggal saudara kembarku. Makanya tujuanku ke sini ingin menyelidiki kematian saudaraku,” kata Muncle.

Gayung tak bersambut, meskipun Inayah mencintai Muncle, tapi dia tak menyetujui Muncle berada di RS Jiwa tempat kerjanya. Ini karena khawatir akan keselamatan Muncle.

“Pokoknya aku ingin selalu di dekat kamu,” rayu Muncle.
“Ini bukan tempat aman Cle,” tegas Inayah.

Senada dengan Muncle, untuk melaksanakan perintah Butet, detektif Lontong dan Akbar pun mendaftar menjadi pasien rumah sakti jiwa dengan cara mengganti identitasnya.

Singkat cerita, penyamaran pun dilakukan Lontong dan Akbar. Namun dalam perjalanannya ketahuan oleh Marwoto yang sebenernya merupakan orang berbahaya. Marwoto ternyata adalah pemilik RSJ dan yang memasukan Yu Ningsih bersama orang berpengaruh lain ke dalam rumah sakitnya. Dia sengaja membangun rumah sakit dan mencipatkan pandemi kegilaan. Hal ini dilakukan agar bisa meraup untung dari hasil penjualan obat gila dan lain-lain. Marwoto pula orang dibalik segala kejahatan yang ada di tanah air, seperti perjudian, pembunuhan, korupsi, hingga mengatur calon pemimpin untuk bisa dikendalikannya. Hal itu akan dilakukan dengan menghalalkan segala cara, meskipun menggunakan politik identitas yang memecah belah bangsa.

Sementara dokter Susilo dan Wisben ternyata bukan dokter, namun mantan jenderal bintang dua dan mantan hakim agung yang bermasalah dan dikendalikan oleh Marwoto.

Dilain pihak, saat detektif Lontong dan Akbar ini disiksa oleh Susilo dan Wisben dan diketahui suster Inayah, Butet pun datang dan membongkar identitas Marwoto yang sebenarnya.

Pertunjukan lakon orang-orang berbahaya di produksi oleh Kayan Production. Pertunjukan ini digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada Kamis (17/11) dan Jumat (18/11) pukul 20.00 WIB

Pesan untuk pilih pemimpin yang baik dan jaga keutuhan bangsa

Dalam pertunjukan ke-38, sekaligus penutup pada 2022 yang digelar Indonesia Kita dan diproduksi Kayan Production, Butet mengatakan bahwa lakon ini dipertunjukkan sebagai pesan kepada semua warga agar memilih presiden yang peduli pada keutuhan bangsa.

Hal senada juga dikatakan Agus Noor. “Saya sebenarnya ingin mengingatkan bahwa kita sekarang masuk detik-detik berbahaya dalam berbangsa dan bernegara. ketika kita memasuki tahun politik, pasti ada perbedaan, konflik, ada sesutu yang harus kita cermati dengan kritik. Terutama ketika banyak pihak, orang yang mempermainkan isu-isu politik,” imbuhnya.

Butet menambahkan, tahun depan, 2023 sampai 2024, telah memasuki situasi yang mengharuskan setiap orang penuh kewaspadaan. Oleh karena itu, Butet berharap, jangan sampai masyarakat Indonesia terperangkap isu-isu yang mengancam disintegrasi bangsa.

“Kita punya pengalaman pahit dalam praktik-praktik politik identitas yang jahat itu, yang memecah belah, sehingga antar saudara, antar teman antar ortu dan anak bisa terancam perselisihan yang mengancam. Itu tidak sehat,” tegas Butet.

Editor : Kuswandi

Reporter : Kuswandi


Close Ads