alexametrics

Goenawan Mohamad, Moon Over Bourbon Street, Sting

Oleh WAHYUDIN *)
20 November 2021, 13:02:46 WIB

SAYA mengkhayal Sting datang ke pembukaan pameran “Potret” Goenawan Mohamad di OHD Museum, Magelang, Sabtu sore, 23 Oktober 2021. Di hadapan hadirin, saya akan memohonnya menyanyikan “Moon Over Bourbon Street”:

“There’s a moon over Bourbon Street tonight
I see faces as they pass beneath the pale lamplight
I’ve no choice but to follow that call
The bright lights, the people, and the moon and all
I pray everyday to be strong
For I know what I do must be wrong
Oh you’ll never see my shade or hear the sound of my feet
While there’s a moon over Bourbon Street
It was many years ago that I became what I am
I was trapped in this life like an innocent lamb
Now I can never show my face at noon
And you’ll only see me walking by the light of the moon
The brim of my hat hides the eye of a beast
I’ve the face of a sinner but the hands of a priest
Oh you’ll never see my shade or hear the sound of my feet
While there’s a moon over Bourbon Street
She walks everyday through the streets of New Orleans
She’s innocent and young, from a family of means
I have stood many times outside her window at night
To struggle with my instinct in the pale moonlight
How could I be this way when I pray to God above?
I must love what I destroy and destroy the thing I love
Oh you’ll never see my shade or hear the sound of my feet
While there’s a moon over Bourbon Street.”

Saya mengkhayal: dengan suara lamat-lamat seorang jemaat di bilik pertobatan, Sting melantunkan lagu tentang sesosok vampir yang melata tak kasat mata tanpa suara, menghela dosa, luka, bisa, doa, dan cinta, bertahun-tahun lamanya, dan entah sampai kapan, di Jalan Bourbon, French Quarter, New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat, itu.

(Kabarnya, lagu itu terinspirasi oleh novel horor gotik “Interview with the Vampire” Anne Rice terbitan 1976. Dari novel ini pula, pada 1994, sutradara Neil Jordan menggarap film “Interview with the Vampire: The Vampire Chronicles”, dengan pemeran bintang Tom Cruise, Brad Pitt, Christian Slater, dan Kirsten Dunst, yang mencapai “box office”, laba sebesar 223,7 juta dolar Amerika Serikat, dan nominasi Oscar untuk Best Art Direction dan Best Original Score. Kirsten Dunst, pemeran vampir gadis cilik, pun dinominasikan Golden Globe untuk Best Supporting Actress. Tergiur dengan kelarisan itu, setahun kemudian, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan edisi Bahasa Indonesia novel ini dengan gambar sampul dari poster film itu.)

Saya mengkhayal Sting membawakan lagu dari album solo pertamanya, “The Dream of The Blue Turtles” (1985), itu diiringi Chris Botti dengan tiupan trompetnya nan menyayat hati.

Setelah itu, saya masih mengkhayal, Sting berdiri di muka lukisan Goenawan Mohamad, “Moon Over Bourbon Street” (2018-2021, akrilik dan cat minyak di kanvas, 100 x 100 sentimeter), berkhidmat beberapa saat, kemudian pulang dengan kepala berisi kata-kata ini:

“Lukisan itu setara terjemahan musikal Katia Labeque dengan piano pada 2009, yang memungkinkannya membawakan “Moon Over Bourbon Street” dengan penghayatan lain, yang tulus dan tahu diri.”

Sampai di situ, saya harus berhenti mengkhayal. Sudah saatnya saya kembali ke kenyataan untuk menerangkan barang sedikit fakta ini:

Lukisan “Moon Over Bourbon Street” (2021) yang terpamerkan di OHD Museum (23 Oktober 2021-28 Februari 2022), sebelumnya terikutkan dalam pameran Goenawan Mohamad “Di Muka Jendela: Enigma” di Galeri Salihara, Jakarta, 29 Juli-28 Agustus 2021, adalah perbaikan dari “Moon Over Bourbon Street” (2018, akrilik di kanvas, 100 x 100 sentimeter) yang pernah dipamerkan dalam Biennale Jawa Tengah II-2018.

Lukisan Goenawan Mohamad, Moon Over Bourbon Street, 2018, akrilik di kanvas, 100 x 100 sentimeter. (Wahyudin)

Goenawan Mohamad mengakuinya dalam catatannya, bermasa Kamis, 29 April 2021, di katalog “Di Muka Jendela: Enigma” (halaman 88), sebagai berikut:

“Lukisan tahun 2018, ‘Moon Over Bourbon Street,’ dengan akrilik, saya perbaiki dengan cat minyak. Semula terlalu gelap. Dengan cat minyak lebih mudah membikin kesan trimatra dengan ‘values’ yang pas.”

Yang tidak dicatat Goenawan Mohamad adalah perbaikannya pada pakaian, topi, telinga, warna muka si sosok, sorotan-cahaya bulan, dan balkon putih bergaya gotik di bawah bulan tosca itu, sebagaimana terlihat dalam “Moon Over Bourbon Street” (2018). Perbaikan itu tepat dan berhasil membikin “Moon Over Bourbon Street” (2021) kelihatan lebih mengesankan ketimbang “Moon Over Bourbon Street” (2018).

Atas perbaikan itu, mencoba lebih memahami dan menikmatinya, pun sebagai semacam eksperimen menulis catatan kuratorial, saya meminta pendapat perupa Bayu Wardhana, Dipo Andy, F. Sigit Santoso, dan Mahdi Abdullah, yang tinggal dan berkarya di Jogjakarta, dan perupa Dadang Rukmana yang mastautin dan berdaya cipta di Malang.

Kepada mereka, dengan menyertakan foto lukisan, via pesan WhatsApp saya mengajukan pertanyaan ini:

“Lukisan ini berjudul ‘Moon Over Bourbon Street,’ persis judul lagu Sting dari tahun 1985. Apa yang bisa Anda katakan tentang lukisan ini ketika melihatnya sembari, atau setelah, mendengar lagu Sting itu?”

Dadang Rukmana menjawab pada Rabu, 22 September 2021, 13.20:

Wis tak coba … Tentu bisa mensugesti, bukan menambah nilai artistiknya tapi menambah suasana karya tersebut makin masyuk (Emoticon tertawa).”

Alih-alih menggali jawabannya lebih dalam, saya mempelihatkannya empat foto, lengkap dengan keterangan judul, bahan, ukuran, dan tahun pembuatan, lukisan lain Goenawan Mohamad, yaitu “Avianti dan Puisi” (2020, cat minyak di kanvas, 150 x 100 sentimeter), “Ayu” (2020, cat minyak di kanvas, 100 x 100 sentimeter), “Sapardi” (2020, cat minyak di kanvas, 150 x 100 sentimeter), dan “Black Lives Matter” (2020, cat minyak di kanvas, 100 x 150 sentimeter).

Dadang Rukmana merespons pada Kamis, 23 September 2021, 20.40:

“Melihat karya2 GM, yang bermedia cat minyak ini, volume background selalu tampil lebih gelap dari figur. Mengingatkanku pada penata panggung teater Rujito (sak elingku), yang selalu menggunakan latar hitam. Pilihan itu sangat jitu untuk menampilkan sosok pemain agar tampak menonjol.”

*

Mahdi Abdullah menjawab pada Rabu, 22 September 2021, 21.00-21.13:

“Wah ini asik lukisannya. Sekarang belum sempat sambil melihat lukisan ini dicampur dengar musik Sting karena di luar kota.”

“Penguasaan ruang dan image, sosok tikus? Tertata dengan apik dan temeram malam bulan juga menyinari sosok ini begitu wajar. Di bawah kanan dihias dengan ornamen sepertinya sebagai asimetris pengimbang ruang secara keseluruhan.”

“Warna juga sangat wajar dan mengena sehingga memunculkan keburaman malam sekaligus tampil suasana yang mistis sekaligus.”

“Andalan ekspresi brush stroke di pokok perupaannya GM membuat hampir semua lukisannya memiliki jiwa tampak seperti jargon S. Sudjojono yang GM kagumi.”

*

Bayu Wardhana menanggapi pada Rabu, 22 September 2021, 18.53:

“Saya merasa lukisan itu menemani perjalanan (kontemplasi) yang panjang. Ini salah satu lukisan yang berhasil melukiskan suasana malam. Tidak semua orang bisa merasakan hal itu (Emoticon dua tangan menempel ke atas).”

*

Dipo Andy merespons pada Rabu, 22 September 2021, 20.10-20.30:

“Karya siapa ini bung

Kok kek GM ya

Puitik karya ini”

“Misterius jg karya ini.

Musik dipuja dan dinikmati oleh generasi/eranya masing2, sama halnya dg karya ini. Terasa penciptanya org yg sdh matang.

Musik dan karya seni rupa yg lahir hari ini terasa beda warna dan penampakannya. Sama2 bagus hanya beda selera. Yang muda bilang itu rasa lama. Yang tua bilang itu mentah kurang pendalaman.”

*

Sigit Santoso menjawab pada Kamis, 23 September 2021, 19.50-20.27:

“Melihat lukisan di atas rasanya seperti menikmati cover ilustrasi musik, terlebih ada kesamaan antara judul karya dg judul lagunya Sting sbg rujukan. Menurutku karya ini cukup menarik karena si pelukis berhasil membangun narasi keterasingannya lewat metafor tikus sebagai sang durjana sekaligus orang suci yg kesepian spt yg ada dlm isi syairnya, apa lagi ada bulan yg menggantung di langit malam, kesan sunyi & puitiknya lebih terasa … (Tertawa) Melihat karya tsb sambil mendengar lagu2 Sting yang lain spt: ‘Englishman in New York,’ ‘Fragile,’ ‘Codeword Elvis’ atau ‘St Agnes and the Burning Train’ kayaknya juga cocok … (Emoticon tertawa dan jempol ke atas)”

Soale Sting masih menjadi salah satu penyanyi favoritku … (Emoticon tertawa)”

“Lukisan ini yg membuatku gelisah adalah rembulan dg warna hijau … Seperti melihat karya muralnya Jean Cocteau yg menggambarkan penyaliban dg bulan berwarna hitam …”

*

Sebagaimana kepada Dadang Rukmana, saya memperlihatkan lukisan Goenawan Mohamad, “Djoko Pekik” (2019, akrilik di kanvas, 150 x 100 sentimeter), “Djoko Pekik” (2021, cat minyak di kanvas, 150 x 100 sentimeter), “Frida Hitam” (2018, akrilik di kanvas, 100 x 70 sentimeter), “Frida Muda” (2021, cat minyak di kanvas, 100 x 70 sentimeter), dan “Black Lives Matters” (2020, cat minyak di kanvas, 100 x 150 sentimeter), kepada F. Sigit Santoso, Mahdi Abdullah, dan Hanafi di Depok, Jawa Barat.

Dari Hanafi, misalnya, saya beroleh pengetahuan tentang perkara “sensitivitas ruang” dalam lukisan-lukisan Goenawan Mohamad, terutama “Frida Hitam” dan “Frida Muda.”

Lukisan Goenawan Mohamad, Frida Muda, 2021, cat minyak di kanvas, 100 x 70 sentimeter. (Wahyudin)

Tapi tanggapan-tanggapan mereka via pesan atau panggilan suara WhatsApp itu menjadi perspektif bandingan yang asyik dan menyenangkan untuk dikemukakan secara saksama di lain kesempatan saja.

Saya, kebetulan teringat lukisan Paul Cezanne “The Card Players” (1890-1892, cat minyak di kanvas, 65 x 81 sentimeter) dan “The Card Players” (1893, cat minyak di kanvas, 97 x 130 sentimeter), justru ingin membayangkan Goenawan Mohamad menciptakan lukisan berpokok perupaan semacam itu berdasar resepsinya atas lagu Sting “Shape of My Heart”, dari album “Ten Summoner’s Tales” (1993), yang tiga bait awalnya sebagai berikut:

He deals the cards as a meditation
And those he plays never suspect
He doesn’t play for the money he wins
He don’t play for respect
He deals the cards to find the answer
The sacred geometry of chance
The hidden law of a probable outcome
The numbers lead a dance
I know that the spades are the swords of a soldier
I know that the clubs are weapons of war
I know that diamonds mean money for this art
That’s not the shape of my heart

Semoga kita bisa melihatnya dalam pameran tunggal Goenawan Mohamad berikutnya di waktu nanti yang tak begitu lama. (*)


*) Wahyudin, kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads