alexametrics

Dokumentasi Pernikahan Manusia Beristri Mahkluk Halus

20 November 2019, 14:40:15 WIB

JawaPos.com – Pada 8 Oktober 2014 pernikahan Bagus Ibnu Kodok Sukodok dengan Rara Setyowati menarik perhatian publik. Pernikahan yang diselenggarakan di Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi itu ramai oleh orang-orang penasaran. Maklum, mempelai perempuan Prawoto Mangun Baskoro alias Bagus Ibnu Kodok Sukodok adalah mahkluk halus penunggu dua mata air bernama Margo dan Ngiyom di hutan Begal, Ngawi. Ribuan orang malam itu datang ingin tahu seperti apakah pernikahan manusia dengan lelembut.

Pada 23 November 2019, dokumentasi di balik peristiwa dari pra hingga pasca perkawinan dua dunia itu ditayangkan di Jogja-Netpac Asian Film Festival 2019. Bani Nasution adalah nama yang menyutradarai film dokumenter tersebut. “Saya bersyukur filem ini selesai setelah melalui proses selama lima tahun,” kata Bani.

Film berdurasi 90 menit tersebut pada dasarnya dokumentasi di balik layar Kodok Rabi Peri dan peristiwa-peristiwa sesudahnya. Potret diri Kodok sebagai seniman yang setia di jalan bohemian dengan sendirinya tergambar jelas dalam film berjudul Kodok Rabi Peri: The Invisible Wife ini.

Penayangan film Kodok Rabi Peri. (Hendromasto Prasetyo for JawaPos.com)

Kodok Rabi Peri: The Invisible Wife dengan runut mengisahkan awal mula peristiwa Kodok Rabi Peri. Bermula dari impian, Kodok mengutarakan keinginannya menikah dengan sosok tak kasat mata yang dia beri nama Setyowati kepada Bramantyo Prijosusilo. Kodok sadar keinginannya dapat berbuah kegaduhan. Bramantyo punya cara. Pernikahan itu bisa dilaksanakan bila digelar dalam bingkai peristiwa seni kejadian. Bersama Zen Zulkarnaen dan beberapa orang yang sepaham, Bramantyo mematangkan ide pernikahan Kodok dengan Setyowati.

Dalam Kodok Rabi Peri: The Invisible Wife, Bani banyak menggunakan hasil bidikan Agus Supertramp. Terutama pada bagian malam presentasi seni kejadian pernikahan menghebohkan itu. Mulai dari upacara siraman hingga suasana di sekitar pelaminan bidikan Agus lantas Bani lengkapi dengan adegan-adegan pasca peristiwa tersebut.
Bagian ini menunjukkan bagaimana seorang Kodok mesti menjalani kehidupan dua dunianya. Dunia kebebasan khas seniman dan kenyataan rupa-rupa respons masyarakat kepadanya pasca dikenal sebagai suami lelembut layaknya Jaka Tarub-Nawangwulan atau Panembahan Senopati-Ratu Kidul.

Banyak menampilkan adegan berisi narasi pasca peristiwa Kodok Rabi Peri, Bani menunjukkan dampak dari seni kejadian itu. Baik dampak kepada Kodok sebagai aktor yang melakonkan mempelai pria, juga efek berupa kesadaran masyarakat mulai menaruh perhatian pada perawatan mata air Margo dan Ngiyom tempat tinggal Setyowati.

Dampak dari seni kejadian Kodok Rabi Peri Bani tampilkan dengan seimbang. Tentang bagaimana seniman bohemian seperti Kodok mau tak mau harus menampilkan gestur berwibawa saat dikerubuti orang-orang yang kagum pada kisahnya hingga kelelahan Kodok menjalani peran sebagai suami Setyowati muncul di filem ini. (tir)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : tir



Close Ads