alexametrics

Paradoks Panggung Ruang Makan Terol

20 Mei 2020, 23:21:53 WIB

JawaPos.com – Pandemi Covid-19 yang belum berlalu memantik para pelaku teater sigap memanfaatkan jalur daring untuk tetap dapat menyampaikan karya kepada publik. Senyatanya, memindahkan pertunjukan teater ke dalam jaringan internet memang tak pernah mudah. Ada kegelisahan bahwa teater daring tak bisa sepenuhnya menggantikan perjumpaan intim antara penonton dan penyaji karya lazimnya pertunjukan di panggung luring. Wawan Sofwan adalah salah satu seniman teater yang punya kegelisahan itu.

Lewat Terol, Wawan dengan bernas menyampaikan bagaimana panggung-panggung teater dan segenap pendukungnya terpukul telak oleh Korona. Pada monolog berdurasi 40 menit yang disiarkan melalui kanal Youtube NuArt Sculpture Park ini Wawan mendudukkan tren teater online belakangan ini. ’’Apakah teater online adalah cara menunjukkan teater tetap eksis dalam situasi sulit? Orang mungkin lupa bahwa jauh sebelum ada internet teater terbukti telah mampu hidup ribuan tahun melewati beragam situasi sulit,’’ katanya.

Terol atau teater online mendedah bagaimana Korona berdampak bagi para pelaku teater yang tak terbatas aktor semata. Naskah Terol ditulis oleh E.D Jenura dalam gaya satire yang sangat kental. Wawan membawakan naskah itu tanpa tendensi melawak namun cukup ampuh memantik senyum kecut penontonnya. Barangkali kedekatan antara cerita dalam naskah dan situasi konkret yang dia hadapi menjadikan pendiri Mainteater Bandung itu tidak mengalami kesulitan berarti saat memainkan Terol.

Terol Wawan mainkan di sebuah ruang makan. Hanya dengan mengenakan piyama dan celana pendek, Wawan membuka Terol dengan adegan menyeduh kopi di atas sebuah piring makan ala tutorial-tutorial remeh yang kini makin marak di jagad daring. Di sepanjang Terol, suara sendok membentur piring menjadi elemen bunyi pertunjukan mengiringi pelisanan teks. Dengan lugas Terol menyingkap bagaimana pelaku teater kini sesunguhnya tengah gelisah menghadapi normal baru berupa panggung daring seiring pandemi. Diakui atau tidak, tren teater online belakangan ini kerap berhadapan dengan keterbatasan yang menyulitkannya. Elemen artistik seperti tata cahaya dan suara, skenografi panggung, hingga kolektivitas kerja khas teater nyaris tak teraba dalam panggung-panggung online.

Sebagai sebuah pertunjukan online, Terol menjadi semacam paradoks. Karya ini kritis dengan situasi keterbatasan teater daring, namun di saat sama juga tak cukup mampu menangkisnya. Sinyal kembang kempis berujung jeda gambar maupun suara dan keterbatasan jumlah kamera yang memaksa penonton hanya dapat menikmatinya dari satu sudut pandang sangat tampak dalam Terol. Terol gamblang menyampaikan gagasan tentang situasi sulit teater hari ini. Namun, penyajiannya tidak cukup berhasil menyiasati persoalan-persoalan teknis artistik yang menjadi bahasan kritis dalam karya itu sendiri. (tir)

 

 

 

Editor : tir



Close Ads