alexametrics

Sampai Jumpa, Hujan Bulan Juni

19 Juli 2020, 13:30:10 WIB

JawaPos.com – Para penyair percaya bahwa perpisahan adalah awal dari perjumpaan yang lain. Mereka yang pergi tak pernah benar-benar mati. Demikianlah Sapardi Djoko Damono. Sastrawan besar Indonesia itu meninggal pada 19 Juli 2020. Kepergiannya meninggalkan warisan berupa karya sastra yang tak pernah mati untuk dinikmati.

Sapardi lahir di Solo pada 20 Maret 1940. Hingga remaja dia besar di lingkungan Hadiwijayan yang berada di balik tembok Baluwarti keraton Solo. Saat keluarganya pindah ke daerah Nusukan, Sapardi adalah saksi bagaimana wong Solo saat mulai akrab dengan menu daging anjing di sekitar Komplang dan Minapadi. “Saat itu banyak orang susah. Apa yang bisa dimakan ya dimakan,” kata Sapardi dalam sebuah kesempatan di rumahnya di kawasan Ciputat. Menu anjing dan susahnya hidup di pinggiran kota Solo itu muncul dalam novel pendeknya, Suti: Perempuan Pinggir Kota (2015).

Sebagai sastrawan, Sapardi lebih dikenal sebagai penulis puisi ketimbang novelis. Puisinya liris dan terang. Aku Ingin (1989) yang terdapat dalam manuskrip Hujan Bulan Juni adalah contohnya. Barangkali inilah puisi Sapardi yang paling banyak menjadi kawan bagi korban panah asmara hingga buaya lupa daratan. Boleh jadi Aku Ingin pula yang menyebabkan Sapardi dianggap sebagai penyair cinta melulu.

Mereka yang percaya Sapardi adalah sastrawan cinta mesti lebih banyak membaca. Tak semua karya Sapardi mengaduk-ngaduk cinta hingga menjadikannya seorang trubadur. Asmara bukan hal utama dalam karyanya. Hidup yang hadir di sana. Bukan kehidupan ganjil, gelap, atau rumit hingga butuh kamus demi memahaminya, melainkan hidup yang sederhana dan terang di antara satu perenungan ke perenungan lainnya. Sesederhana dan seterang hujan salah musim yang mengingatkan pada segarnya ketulusan tanpa pamrih.

Sapardi adalah guru bagi mereka yang tak cuma mengejar keindahan dan ketajaman kata. Di tangannya, kata-kata menjadi senjata yang tak harus melukai dan mematikan. Menjadi guru memang jalan hidup mendiang. Lulus dari Universitas Gajah Mada pada 1964, Sapardi berkarir sebagai guru di Madiun. Pada masa-masa inilah dia sejalan dengan pernyataan sikap Manifes Kebudayaan yang menjadi kutub di seberang Lekra. Konon, akibat dukungannya terhadap Manifes Kebudayaan, Sapardi gagal menjadi pegawai Balai Pustaka yang saat itu dikuasai Lekra. Nasib lantas mengantarnya menjadi pengajar di Universitas Diponegoro lalu belajar di University of Hawaii di Honolulu sebelum mengajar di Universitas Indonesia dari 1973 hingga akhir hayat.

Sapardi pergi meninggalkan jejak kuat yang dapat ditapaki ulang tanpa bosan oleh penggemarnya. DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau dan Akuarium (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), hingga Ayat-Ayat Api (1999) hanyalah sekelumit karya Sapardi. Di luar puisi, Sapardi juga banyak menulis cerita pendek, novel, hingga buku ajar sastra. Sebagai sastrawan, Sapardi adalah salah satu seniman dengan banyak penghargaan. Penghargaan Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1984), SEA Write Award (1986), hingga Anugerah Akademi Jakarta (2012) adalah beberapa penghargaan yang pernah Sapardi terima. Mendiang juga banyak menerjemahkan karya sastra, antara lain gubahan Khalil Gibran, T. S Elliot, Jalaludin Rumi, hingga Hemingway.

Karya Sapardi senyatanya tak hanya berhenti sebagai sastra. Garin Nugroho pernah menggunakan sajak Sapardi sebagai salah satu judul film terbaiknya, Cinta dalam Sepotong Roti (1991). Film itu dilengkapi dengan komposisi musik karya Dwiki Dharmawan yang juga bertolak dari sajak Sapardi lainnya, Aku Ingin. Di ranah teater, terjemahan Sapardi berjudul Pagi Bening dari naskah Sunny Morning karya Serafin dan Joaquin Alvares Quintero menjadi salah satu lakon yang sering dimainkan oleh kelompok-kelompok teater di Indonesia sampai hari ini. Di panggung pertunjukan, salah satu judul puisi Sapardi pernah menjadi karya Teater Garasi, Yang Fana Adalah Waktu Kita Abadi (2015).

Sapardi meninggal di Eka Hospital, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan setelah dirawat sejak 9 Juli 2020 lalu. Sampai jumpa, hujan bulan Juni. Yang fana adalah waktu, kita abadi. (tir)

Editor : tir



Close Ads