alexametrics

Lakon Tamu Agung, Satire Bagi Para Pejabat yang Haus Kekuasaan

19 Juni 2022, 14:57:16 WIB

JawaPos.com – Alkisah, menjelang purna tugas sang pemimpin kota (Butet Kartaredjasa), ingin merayakan keberhasilannya dalam menjalankan tugasnya yang sudah dua periode berkuasa. Untuk itu, dia mengumpulkan semua bawahannya, seperti Sekda (Marwoto), Kepala Dinas 1 (Wisben), Kepala Dinas 2 (Joned) dan kepala Dinas 3 (Muncle). Tak hanya itu turut serta hadir pegawai pemerintah kota lain seperti Cak Lontong (Lies Hartono) dan anak buahnya, Akbar (Insan Nur Akbar).

Saat hendak melakukan perayaan, bawahan pemimpin kota, Sekda Marwoto berusaha merayu agar pemimpin kota menjabat lagi sebagai pemimpin. Agar pemimpin kota tertarik dengan idenya, Sekda pun membeberkan semua capaian kinerja atau berbagai penghargaan yang diperoleh pemimpin kota dari hasil kerja kerasnya selama menjabat dua periode.

“Anda sudah begitu banyak berprestasi. Di antaranya mendapat penghargaan dari Unicef, kedua dari Unesco, yang ketiga dari Uniclo dan yang terakhir dari Unisex…., ” kata Sekda Marwoto, disambut tawa penonton, saat pentas di Ciputra Artpreneur Theater, Sabtu (18/6) malam.

Atas berbagai penghargaan yang didapat atasannya, Sekda pun berharap sang pemimpin kota mengikuti sarannya. “Bapak pemimpin kota sudah dua periode, apa tidak mau satu periode lagi,” kata Sekda mencoba menjebak pemimpin kota.

Mendapat pertanyaan tersebut, pemimpin kota tak bergeming dan tegas menolak rayuan bawahannya. “Saya ini orang yang taat konstitusi, saya akan menaati konstitusi,” tegas pemimpin kota lugas, di hadapan sejumlah bawahannya.

Menurut pemimpin kota, menjadi pemimpin itu tugasnya satu, harus bisa ngerem keserakahan. Oleh karena itu, dirinya kembali menegaskan tak akan mencalonkan lagi sebagai pimpinan kota, karena dia tahu para pejabatnya hanya akan memanfaatkan dirinya untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Syahdan, seorang pemberi kabar (Joind Bayuwinanda) tiba-tiba datang di hadapan pemimpin kota dan sejumlah bawahannya. Lalu membacakan sebuah surat rahasia.

 

Seorang pejabat teras kota (Cak Lontong), sedang merayu seorang perempuan gelandangan tua ( Yu Ningsih) untuk dijadikan sebagai Tamu Agung palsu. Didi Mugitriman/Instagram @matapanggung

“Akan datang Tamu Agung. Tamu Agung yang akan membawa perubahan. Tamu Agung akan memilih pemimpin berikutnya. Oleh sebab itu, barang siapa yang disukai Tamu Agung, maka dialah yang akan jadi pemimpin berikutnya,” kata seorang pemberi kabar membacakan surat rahasia.

Tak lama kemudian, usai surat rahasia dibacakan, sejumlah pejabat di bawah pemimpin kota berlomba-lomba mencari muka. Ada yang akan mempersiapkan makanan enak, hingga akan membuat pesta agar bisa mengambil hati sang Tamu Agung.

Tak mau kalah dengan yang lainnya, pegawai kota lain, Cak Lontong dan bawahannya juga ikut bersiasat, agar dirinya bisa menjadi pemimpin kota. Saat dirinya tengah merencanakan sesuatu, tiba-tiba seorang perempuan tua ( Yu Ningsih) dan seorang perempuan muda yang menjadi anak angkat perempuan tua, (Woro Mustika) muncul sembari mengamen di hadapan Cak Lontong dan Akbar. Usai kedua gelandangan itu menyanyi, ide jahat dari Cak Lontong dan Akbar pun muncul. Keduanya tak mau memberi uang recehan, tapi menjanjikan sesuatu yang lebih kepada perempuan tua itu, seperti rumah besar dan mobil mewah.

Namun sebelumnya, agar siasatnya berhasil, Cak Lontong dan Akbar pun berupaya memisahkan sepasang gelandangan perempuan tua dan perempuan muda itu. Caranya: Akbar atas perintah Cak Lontong memberi sejumlah uang kepada perempuan muda untuk membeli makanan. Setelah keduanya terpisah, Cak Lontong dan Akbar kemudian langsung mengobral janji manis kepada sang perempuan tua. Terpikat dengan siasat Cak Lontong dan Akbar, perempuan tua itu pun kemudian dirias bak putri raja, agar perangainya mirip sang Tamu Agung.

Usai didandani sedemikian rupa, yang membuat penonton tertawa cekikikan, para pejabat teras kota seperti Sekda Marwoto dan tiga kepala dinas berlomba-lomba mencari muka dengan sang Tamu Agung. Keempatnya sampai memasang bunga papan besar dengan nama masing-masing di halaman Balai Kota, dalam rangka menyambut kedatangan Tamu Agung. Ini tak lain dan tak bukan karena hanya ingin mengambil hati dari Tamu Agung.

Tak lama kemudian, dengan pakaian khas kerajaan, Tamu Agung pun datang bersama Cak Lontong dan Akbar. Tamu Agung lalu duduk di kursi singgasana. Dia menyuruh sejumlah istri pejabat teras seperti istri Wisben, Joned dan Muncle untuk mencium tangannya, seperti yang dilakukan Marsha Thimoty (istri Sekda Marwoto). Atas perintah itu, awalnya sejumlah istri tiga pejabat teras (F. Nadira, Mia Ismi, Yolanda Nainggolan) itu menolak. Namun, karena diancam suaminya akan dipecat jika tak mau mencium tangan Tamu Agung, ketiga istri pejabat teras itu pun terpaksa mencium tangan Tamu Agung yang sudah tua renta. Bahkan ada yang rela memijit punggung Tamu Agung. Sementara, Marsha Thimothy bersama pembantunya, Endah Laras mengajak Tamu Agung berpesta untuk mengambil hatinya.

Usia pertemuan itu selesai, ada pertemuan rahasia antara Cak Lontong dengan Marsha Thimothy. Dari pertemuan itu ternyata terungkap jika keduanya pernah menjalin kasih. Untuk mengulang memori indah yang pernah terjalin, Cak Lontong kembali menebar jala asmara. Cak Lontong berjanji akan membahagiakan Marsha dengan cara merebut tahta pemimpin kota dan sekaligus merebut Marsha dari Sekda Marwoto. Namun, sayangnya belum juga rencana terlaksana, Akbar mengetahuinya. Akbar yang mendengar percakapan antara Cak Lontong dan Marsha merasa kecewa. Ini karena Cak Lontong ternyata punya maksud lain, selain ingin merebut tahta pemimpin kota. Akbar pun kemudian membocorkan rencana Cak Lontong kepada Sekda Marwoto. Marwoto pun akhirnya jadi tahu semua sandiwara soal Tamu Agung.

Anak Buah Cak Lontong, Akbar sedang membisikkan sesuatu ke Tamu Agung Palsu (Yu Ningsih), guna mengelabuhi para pejabat teras kota tang haus jabatan. Didi Mugitriman/Instagram @matapanggung.

“Lontong, jangan lagi kau bermain sandiwara. Aku tahu itu bukan Tamu Agung. Saya Tahu ini adalah rekayasa. Kamu yang jadi otaknya. Dia ( perempuan tua) adalah gelandangan atau pengamen yang kamu rekrut jadi Tamu Agung, ” ucap Sekda Marwoto kesal kepada Cak Lontong.

Merasa terdesak, Cak Lontong pun menyerang balik, Sekda Marwoto. Dia membongkar semua rahasia Marwoto. Kemudian, terungkaplah jika Marwoto bermain mata dengan istri tiga pejabat teras, Wisben, Joned dan Mucle.

Rahasia lain yang terbongkar, perempuan tua yang menyamar sebagai Tamu Agung, ternyata pernah menjadi korban penggusuran dan pemerkosaan Marwoto, hingga melahirkan bayi. Namun, karena karena takut tak bisa memberi makan anaknya, bayi tersebut dia titipkan di Panti Asuhan. Untuk memberi tanda jika bayi tersebut anaknya, dia memberi “Dot” kepada bayinya. Dari situ terbongkar jika Marsha ternyata anak si perempuan tua yang menyamar sebagai Tamu Agung palsu. Sementara Tamu Agung palsu itu pun kembali bertemu dengan anak angkatnya, Woro Mustika.

Usai sandiwara itu terbongkar, tiba-tiba pemimpin kota (Butet Kartaredjasa) pun datang. Dia kemudian mengungkapan jika isu soal adanya Tamu Agung, adalah rekayasa dirinya. Sebenarnya tidak ada yang namanya Tamu Agung, yang datang. Namun, itu hanyalah siasatnya untuk menguji kesetiaan para bawahannya. Ternyata, siasatnya terbukti benar. Dengan adanya kabar Tamu Agung menjadi terbongkar semua rahasia pejabat-pejabat teras kota. Menampakan watak-watak asli yang tersembunyi dan ambisi para pejabat teras kota, untuk meraih kekuasan dengan menghalalkan segala cara.

“Sebenarnya Tamu Agung sayalah yang sengaja menghembuskan. Ini semata-mata karena saya mendeteksi, reaksi kalian menjelang pergantian kepemimpinan ini. Kalian tertipu. Kalian menyangka yang namanya Tamu Agung itu orang-orang terhormat, para pembesar dari pusat ” ucap pemimpin kota.

Menurut pemimpin kota, Tamu Agung yang seharusnya harus dilayani adalah rakyat. Rakyat itulah yang harus dihormati, harus kalian layani. “ Jangan hanya kenal jika suaranya dibutuhkan saja,” pungkas pemimpin kota.

Pertunjukan ke-36 yang menggabungkan seni teater, musik, dan tari yang digagas oleh seniman Butet Kartaredjasa dan penulis Agus Noor, serta diproduksi oleh Kayan Production ini, tak hanya mengundang tawa bagi para pengunjung selama hampir tiga jam dipentaskan di Ciputra Artpreneur Theater pada Sabtu (18/6) malam. Namun, sebagaimana pertunjukan-pertunjukan lain sebelumnya, dengan joke-joke satire yang dimainkan Butet, Cak Lontong dan beberapa pemain lain, terasa tepat menggambarkan situasi politik di negeri ini, yang beberapa waktu lalu sempat heboh soal adanya wacana tiga periode kepemimpinan presiden.

Sementara di sisi lain, Butet bersyukur, bisa kembali bermain seni pertunjukan setelah sekian lama dunia seni pertunjukan berhenti akibat Pandemi Covid-19 dan dirinya mengalami sakit.

“Sekarang kan bisa dikatakan reward, kelahiran kembali setelah 2,5 tahun terpuruk tidak berdaya berdaya. Tidak bisa apa- apa. Tapi itu adalah problem semua orang. Yang tidak hanya hidup di Indonesia, tapi dunia. Ya sudah, kita berikhtiar. Kita tampil kembali mengambil energi masa lalu dalam kehidupan normal,” ucapnya usai pertunjukkan.

Senada dengan Butet Kartaredjasa, Agus Noor, Direktur Kreatif Indonesia Kita berharap pertunjukan Indonesia Kita ke-36 ini bisa memulihkan situasi pertunjukan seni di Indonesia yang sempat terpuruk.

“Semoga pertunjukan ini menjadi bagian dari kenormalan baru bagi kehidupan pertunjukan seni kita, di mana kita mencoba beradaptasi dengan situasi pasca pandemi. Saya rasa baik seniman maupun penonton, dan juga pihak pengelola tempat-tempat pertunjukan akan bisa menemukan cara untuk bisa terus bersilaturahmi dan saling mendukung dalam ekosistem seni kita,” pungkas Agus Noor.

Editor : Kuswandi

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads