alexametrics

DKJ Desak Tinjau Ulang KSO Revitalisasi TIM

19 Februari 2020, 22:26:48 WIB

JawaPos.com– Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mendesak skema Kerja Sama Operasional (KSO) Taman Ismail Marzuki (TIM) ditinjau lagi seiring berjalannya revitalisasi pusat kesenian di Cikini itu berlangsung kini. Plt. Ketua Dewan Kesenian Jakarta Danton Sihombing mengungkapkan hal itu di lobi Teater Kecil TIM, Rabu (19/2). Bersama jajaran pengurus DKJ lainnya, Danton menjelaskan posisi DKJ dalam revitalisasi TIM.

“Kami sudah bertemu Gubernur (Anies Baswedan) dan menyampaikan pandangan kami terkait revitalisasi TIM,” kata Danton. Menurutnya, KSO TIM amat berkaitan dengan pengelolaan pusat kesenian yang dibidani Ali Sadikin itu pasca revitalisasi beres pada 2021 mendatang. Dalam KSO saat ini, Jakarta Propertindo selaku BUMD yang ditunjuk Pemprov DKI punya kewenangan mengelola TIM hingga 28 tahun ke depan seturut mekanisme Bangun-Operasional-Transfer (BOT). Hal ini sesuai dengan Pergub No. 63/2019 tentang penugasan kepada Jakpro untuk melaksanakan revitalisasi TIM.

Dalam konteks itu, DKJ meminta agar dalam struktur kesepakatan KSO, unsur perwakilan seniman sebagai pemangku kepentingan TIM harus ada di dalamnya. Keberadaan perwakilan itu harus ada dalam badan pelaksana dan badan pengawas KSO. DKJ juga tegas menuntut unsur perwakilan seniman sebagai pemangku kepentingan di TIM memiliki voting rights dalam pengambilan keputusan apa pun sehubungan dengan pengelolaan TIM baru nanti.

“Sudah ada pembicaraan dan janjinya akan dilibatkan walau masih lisan,” kata Danton. Dia mengakui selama ini DKJ tidak dilibatkan dalam revitalisasi TIM. Ada lembaga lain yang lahir dari keputusan gubernur Anies Baswedan nomor 1018 tahun 2018 tentang Tim Revitalisasi Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) TIM. Tim beranggotakan Arie F. Batubara, Arsono, Yusuf Susilo, M. Chozin, dan Hidayat LPD ini yang dengan sendirinya banyak terlibat dalam revitalisasi TIM. Termasuk menyiapkan draf peraturan dan perundangan restrukturisasi DKJ dan Akademi Jakarta.

DKJ sendiri secara kelembagaan telah berstatus demisioner sejak tiga bulan sebelum dimulainya revitalisasi TIM pada Juli 2019 lalu. Dengan status tersebut, otomatis ruang gerak organisasi DKJ menjadi terbatas dan tak terlibat jauh dalam revitalisasi TIM. DKJ yang telah demisioner mestinya diganti dengan pengurus tetap, biasanya diisi nama-nama baru sesuai rekomendasi Akademi Jakarta. Namun, hingga kini DKJ status demisioner DKJ justru diperpanjang. Praktis unsur perwakilan seniman dalam proyek pembangunan bernilai Rp 1,8 triliun itu hanya ada di lembaga baru bernama Tim Revitalisasi PKJ TIM yang bertugas selama satu tahun dan dapat diperpanjang itu.

Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Imam Hadi menyebut keberadaan Tim Revitalisasi merupakan upaya Pemprov untuk melibatkan seniman dalam revitalisasi TIM. Berdasar hal itulah kemudian muncul lima nama yang dianggap mewakili unsur seniman di dalam Tim Revitalisasi. Keberadaan tim tersebut juga diharapkan mampu menjadi lembaga yang dapat fokus dalam revitalisai TIM. “Kalau kami dengan Dewan (Kesenian Jakarta) sebenarnya baik-baik saja dan terus berkomunikasi,” katanya. (tir) 

Editor : tir



Close Ads