Jangan Hanya di Borobudur, Jangan Sekali lalu Bubar

18 September 2022, 16:27:53 WIB

Memodernkan Kemasan Seni dan Budaya dalam Festival Indonesia Bertutur 2022

Taba Sanchabakhtiar dan Melati Suryodarmo hanya punya waktu setahun untuk menerjemahkan pesan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menjadi pergelaran akbar. Untuk kali pertama pada 7 September lalu, Candi Borobudur bermandi cahaya seni instalasi. Sentuhan teknologi dan inovasi lantang menggaungkan Indonesia Bertutur 2022.

“MENGALAMI Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan”. Itulah tema yang Kemendikbudristek tetapkan untuk festival seni budaya Indonesia Bertutur 2022. Lokasinya? Kompleks Candi Borobudur dan sekitarnya. Maka, ada aroma sejarah yang kental di sana. Kisah-kisah kuno yang membalut kemegahan salah satu candi terbesar di dunia itu jelas tak bisa dipisahkan dari perhelatan.

’’Pesan utama yang kementerian titipkan pada kami adalah festival seni budaya yang mengedepankan cagar budaya dan memadukannya dengan seni kontemporer. Itu luar biasa. Mungkin baru pertama terjadi di negeri ini,’’ ungkap Direktur Artistik Indonesia Bertutur 2022 Melati Suryodarmo saat dijumpai Jawa Pos pada hari kedua festival Kamis (8/9) lalu.

Mengeluhkah Melati karena mengemban mandat yang tidak mudah itu? Tentu tidak. ’’Itu membuat saya tertantang,’’ ucap perempuan kelahiran Solo tersebut. Dengan segala daya dan upaya, dia pun menjawab tantangan demi tantangan.

Pelataran Lumbini di Taman Wisata Candi Borobudur penuh sesak malam itu. Lautan anak muda memadati area yang jadi panggung utama Indonesia Bertutur 2022. Kamis malam itu, giliran Tulus yang memanaskan Panggung Ananta. Sebelumnya, pertunjukan teater A Song for Sangiran 17 di Panggung Aksobya sukses menggiring penonton ke era prasejarah.

Ada sekitar 900 pelaku budaya yang terlibat dalam perhelatan 7–13 September tersebut. Selama lima hari sampai Minggu (11/9), masyarakat dimanjakan dengan rangkaian pertunjukan seni budaya dan pameran tanpa dipungut biaya. Pada 12 September, festival tertutup untuk umum dan khusus menjamu delegasi negara-negara G20. Hari berikutnya, pameran di sekitar Candi Borobudur kembali dibuka untuk umum.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid menyebut generasi muda sebagai sasaran festival itu. Dia berharap Indonesia Bertutur 2022 membuat anak-anak zaman now merasa lebih dekat, kenal, dan ikut memiliki warisan budaya negeri. Selain itu, dia ingin memacu kreativitas para seniman muda lewat perhelatan besar tersebut.

’’Kami ingin acara ini bisa mendorong pemanfaatan teknologi agar publik memiliki akses yang semakin besar terhadap warisan budaya yang kita miliki,’’ ujar Hilmar. Karena itu pula, Indonesia Bertutur 2022 disuguhkan kepada publik sebagai tontonan gratis. Teknologi, idealnya, harus bisa menerobos batas-batas yang dulu menjadi alasan terputusnya akses masyarakat. Kini, tanpa batas-batas itu, akan semakin banyak orang yang mengapresiasi seni dan budaya.

PREHISTORIC BODY THEATER: Rangkaian babak kehidupan manusia purba disajikan secara apik tanpa suara di Panggung Aksobya pada Kamis (8/9). (ROBERTUS RISKY/JAWA POS)

’’Indonesia Bertutur 2022 memadukan masa lalu dan masa depan. Kami ingin menunjukkan bahwa warisan budaya bisa ditampilkan secara menarik dengan menggabungkan budaya dan teknologi,’’ tutur Direktur Festival Indonesia Bertutur 2022 Taba Sanchabakhtiar.

Dia berharap kemasan seni budaya yang modern akan membuat masyarakat terkesan. Selanjutnya, mereka tergerak untuk mengenal dan menggali lebih banyak informasi tentang budaya negeri sendiri. ’’Kami ingin cagar budaya Indonesia tidak hanya menjadi pengisi buku sejarah, tapi juga bisa menjadi sumber edukasi, inspirasi, dan pengalaman baru bagi generasi muda,’’ jelas Taba.

Dalam rangkaian festival, ada 20 cagar budaya Indonesia yang jadi objek karya para seniman. Objek yang bukan candi adalah Sangiran, Liang Bua, Leang-Leang, Gugus Misool (Raja Ampat), Sangkulirang, Lore Lindu, Kutai, dan Tarumanegara. Sementara itu, objek candinya adalah Dieng, Borobudur, Mendut, Pawon, Prambanan, Gunung Kawi, Muara Takus, Muaro Jambi, Jago, Singosari, Trowulan, dan Bahal.

Melati tak ingin festival megah itu hanya berlangsung di Borobudur. Dia juga tidak ingin Indonesia Bertutur berhenti di sini. Alias sekali digelar lalu bubar. ’’Saya ingin terjadi pemahaman keberlangsungan budaya yang bersumber dari pemikiran, bersumber dari motivasi, lantas menggerakkan orang untuk memahami dan mengerti,’’ paparnya.

Pendapat yang sama disampaikan Taba. ’’Kami harap festival semacam ini bisa dinikmati lebih banyak orang di Indonesia. Sebab, cagar budaya kita tersebar di mana-mana. Di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua juga ada,’’ tandasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : irr/c18/hep

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads