alexametrics

Mengenang Dua Senior Teater Indonesia

16 Mei 2020, 12:00:52 WIB

JawaPos.com – Panggung seni peran Indonesia kehilangan dua tokoh seniornya dalam waktu tak berselang lama. Mereka adalah Agustinus Adi Kurdi dan Henky Solaiman. Keduanya adalah nama penting dunia keaktoran negeri ini. Mereka sama-sama berangkat dari teater, lalu tenar di film hingga sinema elektronik dalam layar kaca. Adi Kurdi meninggal 8 Mei 2020 lalu dan Henky Solaiman menghembuskan nafas pada 15 Mei 2020.

Jejak keaktoran Adi tumbuh saat dirinya mulai mengenal Rendra dan Bengkel Teater di Yogyakarta. Perjumpaannya dengan Sang Burung Merak itu bermula saat dirinya terkagum-kagum dengan performa Rendra dalam sebuah diskusi di daerah Kota Baru, Yogyakarta pada awal 1970an. Dalam sebuah kesempatan di awal 2019, kepada Jawa Pos, mendiang menyebut Rendra saat itu datang bersama banyak anak muda berambut gondrong dengan berjalan kaki sebelum memukaunya dalam diskusi itu.

Rasa penasaran dan kekaguman Adi menuntunnya untuk mendatangi Rendra di rumahnya yang telah menjadi markas Bengkel Teater. Saat dia datang, Rendra tengah sibuk mencuci baju di dekat sumur kediamannya. Dengan jujur Adi menyatakan ingin belajar kepada Rendra. Mendengar permintaan itu, Rendra tidak menjawab dengan lugas. Dia  meminta Adi untuk menimbakan air untuk cuciannya.“Saya kemudian menimba dan ikut mencuci. Sambil mencuci, beliau membicarakan perkembangan dan dinamika kebudayaan di Eropa dengan penuh semangat,” kenang Adi.

Sejak itu, Adi menjadi bagian penting dari Bengkel Teater Rendra. Jejak Adi dalam teater menuntunnya hingga New York saat meraih beasiswa John D. Rockefeller III Fund untuk kuliah di School of Arts, New York University (1976-1978). Di sana, dia mendapat kesempatan berguru kepada tokoh teater dunia, Jerzi Grotowski. Dia menarik perhatian Grotowski saat menunjukkan gerak silat khas Indonesia yang tak hanya bertahan dan menyerang namun juga menggamit arti filosofis di belakangnya.

Sepulang dari Amerika Serikat, Adi makin intens dengan seni peran. Dunia film lantas dijelajahinya dengan tetap menekuni teater. Saat layar perak meredup, Adi tertarik dengan naskah sinema elektronik gubahan Arswendo Atmowiloto. Sejak itu, Adi menjadi Abah dalam sinetron Keluarga Cemara. Seperti dalam kerja teater pada umumnya yang mensyaratkan aktor melakukan eksplorasi tokoh sebelum memerankannya di panggung, dia menggali informasi sambil bergaul dengan tukang becak untuk menemukan karakter tokoh Abah. Hasilnya, penonton Keluarga Cemara disuguhi pemeranan meyakinkan pada sosok tokoh Abah yang lugu, jujur, dan bahagia walau melarat.

Menekuni seni peran dalam situasi sulit  dialami Henky Solaiman. Mendiang adalah orang yang menekuni teater sejak Indonesia baru saja melewati badai politik di sekitar 1965. Kedekatannya dengan para mahasiswa Akademi Teater Nasional Indonesia yang saat itu jadwal kuliahnya berantakan karena kemelut Gestok menuntunnya menjadi salah satu pendiri Teater Populer yang dipimpin Teguh Karya. Saat itu, kelompok teater yang kuat dalam drama-drama realis tersebut tiap pekan rutin naik panggung di Hotel Indonesia.

Menjadi penampil rutin di hotel bukan berarti bergelimang uang. Tak jarang Henky mesti mengedarkan kantong kertas saweran untuk bisa membeli konsumsi latihan. Seringkali hasil saweran itu hanya cukup untuk membeli Bakcang hingga mereka sempat dijuluki Pasukan Bakcang. Sebagai seniman teater, Henky pernah menjadi penyadur naskah, aktor, dan juga sutradara. Almarhum pernah menjadi penyadur naskah karya Jan de Hartog, Langit-Langit Peraduan (1969), yang dimainkan Teguh Karya dan Tuti Indra Malaon dengan sutradara Wahab Abdi berdurasi tiga jam.

Mendiang juga pernah menjadi aktor dalam Pernikahan Darah (1969) saduran Asrul Sani dari Blood Marriage karya Garcia Lorca, berperan sebagai Tartuffe dalam Sang Munafik (1970) saduran Teguh Karya dari Le Tartuffe karya Moliere, dan lain-lain. Saat Teguh Karya dan para anggota Teater Populer mulai merambah dunia film pada 1970an, Henky ikut serta. Sejak itu dunia film tak lepas dari kesehariannya.

Dua senior seni peran Indonesia itu telah menyelesaikan perannya di panggung kehidupan. Keduanya mewariskan teladan tentang kesetiaan di jalan seni hingga akhir. Selamat jalan Om Henky, wilujeng tindak Pak Adi. (tir)

 

 

 

Editor : tir



Close Ads