alexametrics

Opera Gandari Dipentaskan Lagi

15 Desember 2019, 02:58:58 WIB

JawaPos.com – Opera Gandari yang memadukan unsur visual, musik, dan tata gerak dipentaskan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Sabtu (14/12) malam. Opera Gandari dipentaskan lagi pada Minggu (15/12) malam di tempat yang sama. Pementasan ini adalah yang ketiga bagi Opera Gandari. Sebelumnya, Opera Gandari pernah dipentaskan pada 2014 dan 2015. Ada yang berubah dan tetap dari tiga Opera Gandari itu. Pementasan ini menjadi pertunjukan terakhir di Graha Bakti Budaya mengingat gedung tersebut akan masuk dalam bagian revitalisasi Taman Ismail Marzuki hingga beberapa waktu mendatang.

Opera Gandari masih menyajikan komposisi musik karya Tony Prabowo. Teks yang dilisankan narator dan dinyanyikan solis tetap bertolak dari puisi Goenawan Mohamad berjudul Gandari. Bedanya dengan dua pementasan sebelumnya terletak pada penyutradaraan yang kini dikerjakan oleh Melati Suryodarmo bekerjasama dengan Jay Subiyakto pada skenografi panggung dan artistik. Opera Gandari edisi ke tiga ini melibatkan Christine Hakim sebagai narator dan Bernadeta Astari untuk solo vocal sementara Peter Veale dari Musikfabrik (Jerman) menjadi pengaba orkestra.

Christine Hakim menjadi narator dalam Opera Gandari yang dipentaskan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. (Arya Darmaja for Jawa Pos)

Tony Prabowo menyebut Opera Gandari sebagai karya yang melibatkan banyak unsur seni pertunjukan. ’’Semua unsur seni pertunjukan hadir di situ. Ada musik, sastra, tari, teater dan seni visual, meskipun musik tetap menjadi pusatnya,’’ kata Tony. Selama 60 menit Opera Gandari menyajikan peristiwa panggung yang memikat mata. Di saat sama, juga melatih telinga untuk mendengar komposisi musik atonal karya Tony Prabowo yang mempertemukan orkestra dengan rupa-rupa perkusi etnik.

Opera Gandari mengisahkan lima hari sebelum Gandari menutup matanya dengan kain hingga kematian anak-anaknya di Kurusetra. Christine Hakim melisankan larik-larik puisi itu sementara Bernadeta Astari melantunkannya sebagai solis didukung paduan suara Batavia Madrigal Singers. Tata cahaya dari Joonas Tikkanen (Filnadia) dan video dari Taba Sanchabakhtiar memberi efek visual terukur walau harus berhadapan dengan konstruksi gedung di bagian belakang panggung pertunjukan yang agak mengganggu. Adegan para penari Studio Plesungan mengusung tubuh Agus Mbendol seolah jenazah Bisma gugur yang liris sedikit terganggu oleh pilar dan kotak pendingin ruangan di dinding belakang panggung.

Adegan Bisma gugur dalam Opera Gandari (Arya Darmaja for Jawa Pos)

Interpretasi Melati Suryodarmo yang mewujud pada koreografi di bagian akhir puisi 12 halaman Goenawan Mohamad ini sebetulnya membangun imaji duka yang kuat. ’’Saya menginterpretasikan puisi panjang Goenawan Mohamad dengan cara memahami fluktuasi ruang imaji-imaji yang ditawarkan,’’ kata Melati. Bagi Melati, komposisi Opera Gandari dari Tony Prabowo juga memberi kemungkinan untuk memasuki ruang-ruang suasana tersebut dengan sensitivitas yang sangat presisi. Teks puisi dan musik lantas menjadi pengikat bagi unsur teatrikal, tari maupun seni visual yang menghadirkan imaji-imaji tentang nasib Gandari.

Tiga Opera Gandari sama-sama tidak menghadirkan Gandari di atas panggung. Ibu para Kurawa itu tak dihadirkan sebagai sosok. Dia menyerupai latar cerita yang menuntun pada kisah-kisah lain di luar Gandari itu sendiri. Ada perenungan tentang tegar kesetiaan perempuan, kasih pengorbanan hingga duka seorang ibu, juga kekuasaan dan kesia-siaan. Pada pementasannya yang pertama, Opera Gandari disutradarai Yudi Ahmad Tajudin. Saat itu Maria Catarina Sumarsih, yang merupakan ibunda salah satu korban peristiwa Semanggi I, hadir di atas panggung. Bukan untuk memerankan tokoh Gandari melainkan menjadi pintu pada kisah ketabahan para ibu yang kehilangan buah hatinya.

Pertunjukan Opera Gandari edisi perdana di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, tersebut melibatkan penari Danang Pamungkas, Rianto, Luluk Ari, Kana Ote, Yuki Nishiyama, dan Lion Kawai. Lalu, Teguh Ostentrik terlibat dalam mengarahkan artistik panggung pertunjukan, sedangkan orkestra dimainkan Asko/Schoenberg dengan pengaba Bas Wiegers (Belanda).

Opera Gandari kembali dipentaskan pada 2015 di Frankfurt. Saat itu, koreografer Su Wen-Chi dari Taiwan menyusun koreografi untuk penari Danang Pamungkas dan Luluk Ari sedangkan, Jay Subiakto menjadi pengarah artistik. Sosok Gandari juga tidak menjadi tokoh yang muncul di panggung pada pementasan ini. Opera Gandari yang dipentaskan di Gedung pertunjukan Frankfurt Lab itu melibatkan Ensemble Modern Academie (Jerman) dengan pengaba Bas Wiegers.

 

 

Editor : tir


Close Ads