alexametrics

Salatiga dalam Mitologi Sela Tiga

15 Februari 2020, 03:01:18 WIB

JawaPos.com – Toponimi kota Salatiga sering disangkutkan dengan legenda di sekitar penyebaran Islam di Jawa Tengah pada masa para Wali. Menurut legenda setempat, Salatiga adalah nama yang lahir kala Ki Ageng Pandan Aran berjalan menuju Tembayat seturut perintah Sunan Kalijaga. Di Salatiga, bupati Semarang yang hijrah meninggalkan dunia itu mendapati istrinya kena rampok penyamun.

Suami alpa mengawasi pasangannya, penyamun, dan seorang istri yang masih cinta harta dunia kala berhijrah adalah tiga kesalahan. Dari salah tiga itulah kemudian nama Salatiga muncul. Ada pula cerita setempat yang menyebut peristiwa itu ditandai dengan tiga buah batu atau Sela Tiga. Legenda kota Salatiga itu bersumber dari cerita tutur yang menyitir sumber-sumber tertulis seperti babad.

Boleh jadi legenda itu lebih terkenal daripada prasasti Hampra atau Plumpungan bertanda 24 Juli 750 yang ada di Kauman, Salatiga. Pasasti itu menyebut wilayah Hampra di Trigram Yama ditetapkan sebagai daerah bebas pajak di masa Mataram Kuna. Trigram Yama adalah tiga wilayah dalam satu area berdekatan. Tidak ada nama Salatiga dalam prasasti itu. Namun, tanggal dalam prasasti itu kini diakui sebagai hari jadi kota Salatiga.

Toponimi Salatiga yang tidak merujuk pada legenda Sunan Tembayat namun menggunakan catatan dalam prasasti Plumpungan sebagai pijakannya menjadi tema besar buku cerita karya Sabar Subadri. Buku berjudul Mitologi Sela Tiga itu bercerita tentang konflik antara Hampara dan desa fiktif bernama Lemaring yang kemudian melahirkan penanda berupa tiga buah batu atau sela tiga sebagai simbolisasi pentingnya menjaga perdamaian.

Latar Salatiga di sekitar tahun 750 terbaca jelas melalui penggunaan istilah atau kata di masa Mataram Kuno untuk menyebut sebuah wilayah. Ada Sima, Wanua, juga Watak untuk menyebut Desa, Dusun, dan semacam Kecamatan kini. Pangkat penguasa wilayah juga Sabar sesuaikan dengan masa itu berdasar referensi pustakanya.

Mitologi Sela Tiga terdiri dari tiga bagian berbeda. Bagian pertama Mitologi Sela Tiga Sabar tulis lebih dari 200 halaman. Buku yang sama memuat kisah serupa dalam versi lebih ringkas. Lalu, di bagian akhir Mitologi Sela Tiga ada catatan Sabar tentang awal mula ide penulisan buku ini muncul. Catatan ini juga menunjukkan kegemasannya dengan toponimi Salatiga yang seolah-olah menempatkan kota berhawa sejuk itu dulu melulu dihuni perampok.

’’Ide penulisan buku ini muncul saat saya diminta menjadi juri lomba mendongeng cerita rakyat anak-anak di Salatiga,’’ katanya. Saat itu, Sabar mendapati legenda versi perampokan Nyai Pandanaran mendominasi perlombaan. Di saat sama, Sabar menyadari legenda itulah yang menjadi narasi terkuat terkait asal mula Salatiga hingga seolah-olah menjadi kebenaran mutlak. Situasi tersebut kemudian membawa Sabar dalam penelusuran toponimi Salatiga dan kemudian membingkainya dalam bentuk cerita fiksi.

Pelukis yang pernah mengenyam pendidikan sastra itu menulis Mitologi Sela Tiga dalam susunan cerita yang sederhana. Tidak ada kompleksitas cerita berujung kejutan yang menyentak pembaca dalam kisah kelicikan warga Lemaring demi menguasai Hampara. Yang baik pasti menang dan si licik niscaya celaka. Di luar soal gaya bercerita, Mitologi Sela Tiga mesti ditempatkan sebagai upaya melengkapi narasi kolektif di sekitar toponimi Salatiga. Bukan untuk mempertentangkannya dengan legenda berdasar kisah Ki Ageng Pandan Aran, namun justru melengkapinya dengan mitologi lain. (tir)

 

 

 

 

Editor : tir


Close Ads