alexametrics

Dongeng Jeng Sri dari Gema Swaratyagita

14 September 2020, 23:43:33 WIB

JawaPos.com – Dewi Sri dan prosesi Nutu Nganyaran menjadi sumber inspirasi Gema Swaratyagita untuk menciptakan Jeng Sri (Ngangon Kaedan 3). Karya tersebut dipentaskan daring di Musim Seni Salihara melalui kanal Youtube Komunitas Salihara. Jeng Sri atau Ngangon Kaedan 3 yang berarti dongeng anak bukan pertunjukan musik biasa.

Selain instrumen suara dari tiga pelantun vokal, dalam Jeng Sri Gema juga memanfaatkan bebunyian khas dapur seperti gesekan kelapa saat diparut. Karya ini bertolak dari tradisi Nutu Nganyaran dari Kasepuhan Ciptagelar di bagian selatan Banten. Nutu Nganyaran adalah tradisi menumbuk padi oleh para ibu secara bersama-sama usai panen agar menjadi beras lalu menanak dan menghidangkannya sebagai nasi.

Proses penciptaan Jeng Sri Gema kerjakan dengan menggunakan hasil wawancaranya bersama para ibu yang terlibat dalam Nutuk Nganyaran. “Hasil wawancara menjadi teks dalam komposisi karya,” katanya. Dalam proses wawancara itu Gema mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait apa yang ingin disampaikan atau dilakulan bila para ibu tersebut berjumpa dengan Dewi Sri.

Pada presentasi Jeng Sri, hasil wawancara Gema gubah menjadi komposisi vokal yang disuarakan oleh tiga orang. Mereka adalah Mian Tiara, Tessa Prianka, dan Yanthi Rumian. Lalu, ada Fiametta Gabriella dengan peran sebagai wanita yang memasak dan menanak nasi di arena pementasan. Gema menjadi pengaba dalam karya berdurasi sekitar 15 menit ini.

Jeng Sri didominasi oleh komposisi vokal tiga pelantunnya yang menyerupai akapela. Tentu bukan dalam bentuk notasi yang dapat diikuti oleh anggukan kepala lazimnya komposisi musik populer. Eksplorasi suara sekaligus kelihaiam olah vokal para pelantun tampak kental dalam Jeng Sri. Di beberapa bagian, notasi-notasi khas tembang tradisional cukup terang terdengar. Di banyak bagian lainnya, pekik, lengking, hingga racau suara yang melisankan hasil wawancara Gema dengan para ibu pelaku Nutuk Nganyaran mendominasi Jeng Sri.

Seturut prosesi Nutuk Nganyaran, Jeng Sri menampilkan satu pelakon yang menampilkan proses sebelum nasi menjadi hidangan. Fiametta yang menjadi pelakon tersebut sejak Jeng Sri punya peran menanak nasi. Di bagian akhir Jeng Sri, nasi yang telah tanak dia suapkan kepada tiga pelantun. Komposisi musikal dengan memanfaatkan dramaturgi panggung semacam itu tentu bukan hal baru. Siasat semacam ini rasanya tepat dilakukan untuk karya-karya berbasis narasi seperti Jeng Sri.

Jeng Sri menawarkan komposisi vokal yang unik. Presentasi karya yang membawa narasi dasar penciptaan karya melalui kehadiran pelakon menjadikan Jeng Sri tak hanya menarik untuk didengar melainkan juga asyik dilihat. Sayangnya, eksplorasi bunyi kurang terasa maksimal. Upaya menghadirkan bunyi kelapa diparut hingga bebunyian khas dari dalam dapur di sekitar proses menyiapkan beras menjadi nasi nyaris tak terdengar.

Sebagai sebuah presentasi di atas panggung, Jeng Sri juga minim oleh tata cahaya. Adegan penutup saat pelakon menyuapi tiga pelantun dengan nasi yang masih mengepulkan asap menjadi sangat terasa datar-datar saja. Di luar itu, Jeng Sri dapat disebut sebagai karya yang kuat. Jeng Sri tak terjebak pada upaya banal menghadirkan eksotisme narasi tradisi yang menjadi dasar penciptaannya. Karya ini juga terhindar dari bentuk-bentuk musikalitas populer berorientasi kenyamanan dan keindahan bagi telinga pendengarnya.

Kurator bidang musik Komunitas Salihara Tony Prabowo menyebut Gema adalah salah satu komponis muda yang produktif. “Gema banyak berkolaborasi dengan banyak seniman dari dalam dan luar negeri,” katanya. Antara lain dengan Doris Hochscheid & Frans van Ruth (Belanda) dan Jerome Kavanagh (Selandia Baru). Karya Gema untuk instrumen bambu berjudul Dha-Dah (2015) pernah dimainkan oleh Ensemble Modern (Frankfurt) di Jerman, Indonesia dan Belanda. (tir)

Editor : tir




Close Ads