Melihat dari Dekat Ketangguhan Kartika dan Karya Kontemplatif Nunung

13 November 2022, 12:03:28 WIB

Film Dokumenter Dua Perempuan Perupa Indonesia Dirilis Galeri Nasional Indonesia (GNI)

Kiprah dua tokoh seni rupa Indonesia, Kartika Affandi dan Nunung W.S., diabadikan dalam film dokumenter. Film yang dirilis Galeri Nasional Indonesia (GNI) pada pekan lalu itu menceritakan bagaimana perjuangan dua perempuan perupa tersebut. Film itu diharapkan menjadi pelecut semangat dan inspirasi seniman lainnya.

KEHIDUPAN dan inspirasi berkesenian seorang Kartika Affandi diceritakan dalam film berjudul Resiliensi Kartika. Sementara itu, Jalan Sunyi Nunung WS mengangkat perjalanan berkarya Nunung W.S., perupa yang berasal dari Lawang, Jawa Timur. Setiap film berdurasi 24 menit.

Resiliensi Kartika yang disutradarai F.X. Nihil Pakuril dan Dwi Sujanti Nugraheni itu menceritakan bagaimana Kartika sebagai perempuan perupa berupaya mengukuhkan identitasnya di luar bayang-bayang nama besar ayahanda, Affandi.

Sebagaimana judulnya, film itu juga menampilkan bagaimana kemampuan adaptasi dan ketangguhan Kartika Affandi untuk terus menghasilkan karya. Bahkan, di tengah situasi pandemi yang efeknya terasa sangat besar di dunia seni rupa tanah air, Kartika yang sudah memasuki usia 87 tahun itu masih terus berkarya.

Kartika yang nyaris tak pernah keluar dari studionya semasa pandemi memanfaatkan waktunya untuk menciptakan karya. Yakni, relief yang menjadi cermin dari kekuatan dan karakternya sebagai perempuan perupa.

Lukisan Kartika banyak dipajang di Museum Affandi. Di antaranya, karya Apa yang Harus Kuperbuat (Januari 1999), Apa Salahku? Mengapa Ini Harus Terjadi (Februari 1999), Tidak Adil (Juni 1999), dan Kembali pada Realita Kehidupan, Semuanya Kuserahkan kepada-Nya (Juli 1999). Selain melukis, Kartika menguasai seni patung.

Menurut kurator Mikke Susanto, karakter lukisan Kartika berbeda jika dibandingkan dengan sang ayah, meskipun tetap dapat dilihat kemiripan di antara keduanya. ’’Lukisan Kartika memiliki garis yang lebih tipis, ritmis, dan teratur sembari tetap menunjukkan ’keliaran’ sebagai hasil didikan Affandi dan hasil perjalanan Kartika ke berbagai tempat sepanjang hidupnya,” terang Mikke.

ASYIK MELUKIS: Salah satu scene dokumenter Resiliensi Kartika yang mengisahkan perjalanan hidup Kartika Affandi. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

Sementara itu, pada Jalan Sunyi Nunung WS, ditampilkan sosok Nunung W.S. yang dikenal sebagai perempuan perupa dengan gaya lukis abstrak. Meskipun sempat diragukan keluarganya, dia tetap meneguhkan hatinya untuk menjadi perupa sebagai panggilan hidupnya. Melalui film itu, sutradara Dwi Sujanti Nugraheni berusaha menunjukkan bagaimana perjalanan berkesenian Nunung dan filosofi di balik karyanya.

Adegan demi adegan menampilkan keseharian Nunung di rumah yang juga merangkap studio tempatnya berkarya. Latar musik yang cenderung minim seakan-akan menyuruh penonton untuk fokus mengamati Nunung dan memahami ceritanya. Suatu pengalaman yang sama dengan saat mengamati karya Nunung W.S. Sebuah karya yang menghipnotis dan kontemplatif.

Kurator Alia Swastika menyatakan, karya-karya Nunung merupakan sebuah pengalaman reflektif dan meditatif yang mampu menggugah imajinasi audiens. Selain dikenal sebagai karya yang abstrak, karya-karya Nunung tak bisa dipisahkan dari napas religiusitas.

Hal itu dipengaruhi sosok ayahnya yang merupakan ’’orang pondokan”. ’’Bagi Nunung sendiri, karya-karyanya adalah caranya berdialog dengan Yang di Atas,’’ ungkap Alia.

Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto menyatakan, film itu bisa memberikan edukasi terkait seni rupa, khususnya untuk tokoh-tokoh perempuan perupa yang sudah banyak berperan dalam membentuk dunia seni rupa Indonesia hingga saat ini.

Selain dua film dokumenter itu, GNI akan merilis satu film dokumenter tentang sosok S. Sudjojono, dua video seri publikasi karya seni rupa, dan miniseries yang akan ditampilkan pula di kanal budaya Indonesiana TV dan media sosial resmi GNI.

LEGENDA: Seniman Nunung W.S. dalam scence dokumenter Jalan Sunyi Nunung WS di samping karyanya. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : lum/c12/dra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads