alexametrics

Air Mata Kaki, Ketika Relasi Manusia dan Alam Tak Bisa Dipisahkan

12 November 2019, 16:46:19 WIB

JawaPos.com – Ruang Dalam Project (RDP) Komunitas Sakatoya menggelar karya teater bertajuk Air Mata Kaki yang ditulis dan disutradarai oleh Arif Setiawan. Karya Arif ini merupakan perwujudan dari hasil pembacaannya atas aktifitas budaya Passauq Wai atau mendulang air di sungai di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Karya ini menyoal tegangan dan keterkaitan antara kehidupan, air, dan dapur.

’’Karya ini pertama kali dipresentasikan di Program Rimpang Nusantara yang diselenggarakan Cemeti Institute for Art & Society dan Biennale Jogjakarta pada Oktober lalu,’’ terang B.M Anggana dari Komunitas Sakatoya. Menurutnya, kali ini Arif mengolah kembali kemungkinan-kemungkinan bentuk artistik dari teks lakon ke dalam format pemanggungan yang lebih intim.

Pertunjukan dihadirkan di area teras Rumah Akanan, Kota Gede, Jogjakarta, dan dimainkan oleh dua orang aktor. Mereka berperan sebagai sepasang suami istri yang berjuang dan bekerja keras melangsungkan hidupnya dalam kondisi ketika air sudah tak lagi ada. Air Mata Kaki sejatinya tengah mengungkap bagaimana relasi antara manusia dan alam mustahil bisa dipisahkan walau keduanya kerap saling tak ramah.

Di atas pentas, area permainan dibagi menjadi tiga yaitu ruang personal suami, ruang personal istri dan rumah dimana keduanya bersinggungan sebagai pasangan.  ’’Dialog-dialog disajikan dengan bahasa metafor sebagai strategi komunikasi dalam mengelaborasi isu dapur rumah tangga dan kondisi alam sebagai lumbung ekonomi,’’ kata Arif, sutradara pementasan Air Mata Kaki.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : tir



Close Ads