alexametrics

”Humor Adalah Kritik yang Intelek”

12 Juni 2022, 18:50:09 WIB

DI usianya yang masih muda, Naufal Abshar melewati serangkaian proses untuk menjadi seniman sukses seperti sekarang. Alumnus Lasalle College of the Arts Singapura itu pernah bekerja di galeri seni dan perusahaan art service and logistic sebelum dikenal sebagai Pelukis Tawa.

’’Saya cukup memiliki privilese untuk menentukan apa yang saya mau dan menemukan jalannya,’’ ungkap Naufal saat ditemui Jawa Pos di studionya pada 2 Juni lalu. Dia menegaskan bahwa menjadi seniman adalah panggilan. Dan, menjalani panggilan itu tidak mudah.

Kini, Naufal menekuni Ha-Ha Project. Lukisan-lukisan sarkas karyanya dikenal publik sebagai lukisan tawa. Karena itulah dia kemudian tenar sebagai Pelukis Tawa. Inspirasi karya-karyanya adalah kehidupan masyarakat metropolitan. Rutinitas kerja yang bahkan rangkaiannya bermula sejak sebelum matahari terbit, sampai kebiasaan menutup hari dengan berbaring di peraduan setelah larut malam.

“Itu kan boring. Kayak robot. I think we need laughter, we need humor,” paparnya.

Untuk menghasilkan karya yang memancing tawa, Naufal harus jeli memotret peristiwa. Semua yang dia rekam di kepala itu kemudian dituangkannya ke atas kanvas, dengan diberi bumbu humor. Untuk membuat subjek lukisannya tersentil, Naufal pun harus superkreatif. Baginya, humor adalah kritik yang intelek.

Konsep Ha-Ha pula yang Naufal terapkan saat mendesain sampul album Mantra-Mantra milik Kunto Aji pada 2018 lalu. Karya itu diganjar Anugerah Musik Indonesia (AMI) pada 2019 untuk kategori desain album terbaik.

Beberapa kali menggelar pameran di luar negeri dan bekerja sama dengan seniman internasional membuat Naufal tenar. Namun, jika tidak pandai-pandai mempertahankan eksistensi diri dan kualitas karya, dia akan tenggelam ditelan zaman. Sebab, dia yakin akan selalu lahir seniman baru dengan karya-karya yang lebih memikat publik.

Karena itu, Naufal menyebut integritas sebagai kunci utama untuk mempertahankan eksistensinya. Seniman, menurut dia, harus konsisten. Tidak cukup hanya menggelar pameran dan kemudian viral. Hal yang paling penting adalah tidak lelah berkarya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : han/c17/hep

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads