alexametrics

Hikayat Bhoma dalam 30 Menit

10 Oktober 2020, 03:59:20 WIB

JawaPos.com – Pertiwi sang dewi bumi memiliki putra dari Wisnu bernama Bhoma. Dia adalah raja raksasa berwujud setengah celeng setengah manusia yang menguasai kerajaan Surateleng atau Trajutrisna dengan gelar Narakasura. Dalam pewayangan Jawa, Bhoma adalah antagonis yang menjadi saingan berat Gatutkaca, anak Bima. Di tradisi Bali, Bhoma adalah asura yang berseberangan dengan para dewa. Di tangan Ibed Surganayuga dan Jamaluddin Latif, Bhoma dipanggungkan sebagai sosok yang tak selamanya antagonis.

’’Karya ini berangkat dari Bhomântaka atau dikenal juga dengan nama Bhomakāwya, sebuah kakawin yang berkisah tentang kematian Bhoma,’’ kata Ibed. Lakon bertajuk Babad Bhoma itu dipadukan dengan kisah-kisah mitologis yang masih dipercaya di kalangan masyarakat Hindu Bali. Ibed menjahit lakon Bhoma dari kelahiran hingga kematiannya dengan merujuk pada sumber-sumber tersebut. Karya ini pertama kali naik panggung dalam Borobudur Writers Festival tahun lalu. Kini, dokumentasi Babad Bhoma dapat disaksikan melalui laman potluckteater.

Karya ini Ibed kemas dalam konsep pementasan yang ringkas. Hanya ada Jamaludin Latif di atas panggung yang berulang alik sesekali menjadi Bhoma lalu bersalin peran sebagai narator. Lalu, Timotius Anggawan, Gata Mahardika, dan Dian Wahyu Arjuno yang bertanggungjawab untuk artistik. Di atas panggung, Jamal muncul mengenakan topeng serupa celeng bertanduk dengan sepasang kaca spion sembari menyeret koper kayu. Jamal sudah menggeram sejak di belakang panggung menghadirkan suara celeng jantan. Di arena permainan, Jamal beberapa kali melepas pakai properti sekaligus kostum pertunjukan. Saat tak mengenakannya, Jamal memposisikan dirinya sebagai narator yang mengisahkan Bhoma. Sebaliknya, saat properti terpasang, Jamal menghadirkan karakter Bhoma.

Siasat ulang alik dalam Bhoma yang ditunjukkan dalam karya ini memudahkan penonton untuk mengetahui siapa sesungguhnya tokoh tersebut. Dari kelahirannya saat Wisnu dalam wujud celeng bertemu Pertiwi kala dalam misi menyelamatkan bumi hingga kemudian mati di tangan dewa yang sama dalam tubuh Krishna. Bhoma mati di tangan ayahnya sendiri. Hidupnya yang gelap sebagai penguasa hutan belantara sekaligus punya kekuatan menebar kematian berakhir tragis. Narasi ini dilisankan Jamal dengan cukup jelas.

Ibed cukup cerdik mengemas Bhoma. Sosok Bhoma sebagai penguasa pepohonan dan hutan belantara yang tak sungkan menyebarkan kematian kepada manusia dalam lakon ini dikaitkan dengan fenomena pembalakan liar. Siasat tersebut membuka jalan pintas mengaitkan sosok Bhoma yang mitologis dengan fenomena nyata hari ini. Babad Bhoma kemudian bukan sekadar menjadi lakon biografis tentang asura naraka itu.

Babad Bhoma disajikan dengan beberapa lubang yang mengganggu. Busana sekaligus properti yang digunakan Jamal terlihat sering merepotkannya di beberapa bagian. Di atas panggung, sungguh tak mudah melakukan pergantian karakter beserta propertinya dengan cepat tanpa mengganggu tensi pertunjukan yang telah terbangun. Beruntung Jamal dapat tetap fokus dengan pelisanannya hingga kerepotan ganti kostum tak mengacaukan monolognya. Tata cahaya yang sederhana menjadi lubang lain yang berdampak pada kurang kuatnya unsur dramatis kala Jamal bersalin rupa dari narator menjadi raksasa Bhoma dan sebaliknya. (tir)

Editor : tir




Close Ads