alexametrics

Sebulan Penuh Musim Seni Salihara

10 September 2020, 21:35:00 WIB

JawaPos.com – Komunitas Salihara menaja festival seni digital yang diselenggarakan selama satu bulan penuh. Festival seni digital bertajuk Musim Seni Salihara itu berlangsung dari 12 September hingga 11 Oktober 2020. Karya-karya digital dari ranah teater, tari, musik, seni rupa, dan sastra menjadi menu utama Musim Seni  Salihara.

Direktur Program Komunitas Salihara Nirwan Dewanto menyebut Musim Seni Salihara adalah buah dari situasi pandemi Covid-19 yang melanda belakangan ini. Menurutnya, Komunitas Salihara secara rutin tiap dua tahun sekali selalu menyelenggarakan festival seni pertunjukan yang menampilkan seniman-seniman dari berbagai negara. Akibat wabah Covid-19, festival tersebut lantas berubah konsep. ’’Musim Seni Salihara adalah adaptasi yang kami lakukan terhadap situasi saat ini,’’ katanya.

Sebagai adaptasi atas situasi terkini yang tak memungkinkan berkumpulnya penonton menyaksikan pertunjukan, materi Musim Seni Salihara semuanya disajikan dalam bentuk digital. Bila pada festival-festival sebelumnya ruang-ruang yang ada di Komunitas Salihara menjadi arena presentasi karya, maka kini semuanya beralih ke kanal daring mereka. ’’Kami menyelenggarakan festival seni digital, tapi bukan rekaman seni pertunjukan. Sebagaimana kita ketahui, seni pertunjukan harus disajikan secara langsung dan ada emosi yang terjadi di ruang pertunjukan,’’ katanya.

Nirwan mengakui tidak mudah menyelenggarakan Musim Seni Salihara. Maklum, para seniman yang sebelumnya telah dihubungi untuk hadir di ruang presentasi konvensional kini harus mengubah bentuk presentasi karyanya untuk ruang daring. Perubahan itu mau tak mau memantik banyak adaptasi di berbagai lini. Mulai dari lini produksi karya masing-masing seniman, juga siasat penyajian untuk penonton daring yang mustahil sama dengan ruang luring. Adaptasi menjadi sebuah proses yang tak terhindarkan. Hal itu seturut tema besar Musim Seni Salihara, adapt and play, adaptasi dan bermain.

Tantangan untuk beradaptasi dengan situasi yang tak mudah diakui oleh beberapa seniman peserta dalam Musim Seni Salihara. “Ketika tawaran pentas dari Komunitas Salihara datang sebelum pandemi, kami sudah menyiapkan rancangan karya langsung yang ditonton penonton. Ketika pandemi datang, kita harus berubah dan beradaptasi. Ini jujur bukan hal yang mudah,” ungkap Ayu Permata, korografer yang menjadi salah satu penampil Musim Seni Salihara.

Hal senada diungkapkan komposer Gema Swaratyagita. Dia merasa merasa tertantang mengubah ruang tiga dimensi lazimnya panggung-panggung pertunjukan music menjadi arena dua dimensi di ranah daring di tengah segala keterbatasan. ’’Ide tetap sama. Namun, ketika materi disajikan, ada banyak adaptasi yang harus diubah. Ada bagian bunyi yang di-capture dan zoom,’’ katanya. Gema menyebut proses adaptasi tersebut sekaligus mengubah cara pandang dalam proses penciptaan karya dan presentasinya.

Musim Seni Salihara dapat ditonton secara daring mulai Sabtu (12/9) sore. Melati Suryodarmo menjadi seniman yang membuka festival seni digital ini. Selain Melati, para seniman yang menyajikan karyanya dalam Musim Seni Salihara adalah Ayu Permata, Gema Swaratyagita, Achmad Krisgatha, Ratri Ninditya, Yudi AhmadTajudin, Kafiudin, Riyo Tulus Pernando, Gatot Danar Sulistyanto, Eyi Lesar, 69 Performance Club Bersama Rizki Resa Utama, Nursalim Yadi Anugerah, Jim Adhi Limas, Muhammad Khan, Putri Ayudya, Nus Salomo, dan Dua Empat. (tir)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : tir



Close Ads