alexametrics

Profesor Main Ludruk: Lebih Deg-degan Dibanding Ujian Disertasi

9 Desember 2019, 22:05:07 WIB

JawaPos.com – Ande Ande Lumut bingung. Ada lima perempuan yang mengikuti sayembaranya. Empat perempuan dari luar negeri dan satu dari Indonesia melamar untuk jadi jodoh Ande Ande Lumut. ”Wah, iki apik, asli Indonesia, kowe mesti seneng,” kata simboknya sambil menuding Klenting Kuning. ”Enggak, Bu, gak sido, mambune enggak enak blas iki Klenting Kuning,” jawab Ande Ande Lumut yang langsung disambut tawa para penonton.

Begitulah akhir adegan ludruk Ande Ande Lumut yang disajikan oleh almuni dan dosen Unair bersama Kartolo dan kawan-kawan di Gedung Kesenian Cak Durasim Sabtu malam (7/12). Para dosen yang tampil mengaku grogi. ”Saya ini terbiasa nguji mahasiswa S-3. Tapi, sekarang saya kayaknya lebih deg-degan dibanding mahasiswa yang akan saya uji,” kata Prof Dra Myrtati Dyah Artaria MA PhD yang menjadi simbok Ande-Ande Lumut.

Meski mengaku deg-degan, Myrtati tampak luwes mengimbangi tingkah laku para pemain ludruk. Akting bagus juga ditunjukkan oleh Dr Dra Pinky Saptandari MA, dosen Antropologi FISIP Unair yang jadi penjaga warung kopi. Dalam pertunjukan itu, ada pemain dadakan. Bupati Magetan Suprawoto yang datang sebagai undangan diajak ikut main. Dia berperan sebagai pengunjung warung kopi bersama Kartolo, Sapari, Ning Tini, serta Dekan FISIP Unair Falih Suaedi.

”Aku iki yo kuliah. Lek dekne gelare Drs, aku Ir, iireng roto,” kata Sapari sambil menunjuk Joko Herwanto dan Edwin Fiatiano, dua alumnus Unair yang jadi pengawal Ande Ande Lumut. Ucapan Sapari membuat tawa penonton pecah. Sebelumnya, mereka juga terpingkal-pingkal gara-gara dialog Kartolo dengan Mimik Lestari, ketua penyelenggara. Mereka tampil dalam adegan pembuka.

”Sampean alumni FISIP? Angkatan piro?” tanya Kartolo saat berkenalan dengan Mimik. ”Angkatan ‘86, Cak,” jawab Mimik. ”Oh, podo, aku yo alumni FISIP, gak bedo adoh, aku angkatan ‘82,” tutur Kartolo. ”Oh, iyo a?” Mimik menimpali. ”Iyo, rencanane,” jawab Kartolo, kemudian disambut tawa penonton.

Dibawakan dua puluh pemain, acara tersebut sukses. Penonton refleks bertepuk tangan dengan frekuensi panjang di akhir acara. Mimik mengucapkan terima kasih atas apresiasi tersebut. Dia menjelaskan, naskah ludruk itu ditulis kelompok Ludruk Marsudi Laras bersama alumnus FISIP Unair Ari Setiawan. Naskah dibuat sekitar satu bulan. Namun, latihan mereka hanya satu hari secara keseluruhan.

”Kalau yang alumni, nyiapkannya dua mingguan. Tapi, yang dosen-dosen itu kan sibuk, jadi ikut latihan sehari saja,” tuturnya. Hanya beberapa pemeran yang berganti nama ketika bermain, lainnya memakai nama sendiri.

Dekan FISIP Unair Falih Suaedi mengakui hal tersebut. ”Makanya saya bilang di awal kepada penonton, kalau enggak lucu, ya ketawa aja,” katanya, lantas tertawa. Dia sangat mengapresiasi IKA FISIP Unair yang membuat kegiatan ludruk. Menurut dia, itu salah satu bentuk pelestarian budaya langsung dari para akademisi dan alumni. ”Jurnal internasional menjadi referensi kami dalam kuliah. Tapi, itu enggak ada apa-apanya kalau kita enggak melestarikan kesenian tradisional,” imbuhnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : nas/c11/any


Close Ads