alexametrics

Parodi Kejujuran Teater Koma

8 November 2019, 09:17:46 WIB

JawaPos.com – Teater Koma memanggungkan J.J Sampah-Sampah Kota di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini. Produksi Teater Koma ke-159 ini dipentaskan pada 8-17 November 2019. Pementasan naskah karya Nano Riantiarno ini disutradarai oleh Rangga Riantiarno. Lakon yang sama pernah Teater Koma pentaskan 40 tahun lalu dengan judul J.J Jian Juhro. Kala itu, Nano Riantiarno menjadi sutradara Teater Koma yang baru berumur dua tahun.

Lakon ini berkisah tentang suami istri Jian (Zulfi Ramdoni) dan Juhro (Tuti Hartati) yang hidup melarat di sebuah kolong jembatan. Hidup sebagai pengangkut sampah yang jauh dari sejahtera tidak membuat Jian jauh dari jujur dan rajin. Bersama istrinya yang tengah hamil tua, Jian adalah gembel bahagia walau masa depannya tak pasti.

Hingga kemudian Kepala Mandor (Ohan Adiputra) dan tiga bawahannya (Idries Pulungan, Sejar Dewantari, Andhini Putri) menguji kejujuran Jian dengan menjatuhkan uang di dekat dia biasa bekerja. Kejujuran yang dihadapkan pada kekuasaan tamak menjadi nadi cerita lakon ini. Sebuah cerita yang tak akan lekang oleh waktu.

Mementaskan naskah yang sudah pernah dipanggungkan menjadi tantangan tersendiri bagi Rangga Riantiarno. Cerita yang masih kontekstual dengan masa kini Rangga ramu dengan pendekatan panggung khas hari ini, teknologi multimedia. Siasat tersebut secara langsung menjadikan J.J Sampah-Sampah Kota tak lagi sekadar mengulang pementasan naskah serupa di masa teknologi masih analog dulu.

Selain itu, dari sisi pemeranan Rangga juga melakukan penyegaran dengan memutuskan lebih banyak pemain perempuan yang terlibat. ’’Kalau dulu banyak tokoh yang diperakan laki-laki kini diperankan oleh perempuan,’’ katanya.

J.J Sampah-Sampah Kota menyuguhkan detil unsur-unsur pertunjukan yang digarap serius. (Hendromasto Prasetyo for Jawa Pos)

Nano Riantiarno sebagai penulis naskah mulanya merangkai lakon ini dari situasi keseharian di masa Orde Baru. Masa-masa di mana kekuasaan begitu kuat mencengkeram kepada yang kecil hingga menyebabkan jujur tak selalu berakhir mujur. Lalu, mereka yang kecil lantas lumrah jadi korban oleh kekuasaan. ’’Keadaan semacam itu ternyata tidak banyak berubah saat ini,’’ katanya. Bertolak dari hal itulah naskah yang dipentaskan pertama kali pada 1979 ini diputuskan untuk kembali naik panggung.

Pada pementasan Kamis (7/11) J.J Sampah-Sampah Kota senyatanya memang menyuguhkan peristiwa panggung yang kuat. Detil unsur-unsur pertunjukan yang digarap serius menjadikan suasana kolong jembatan dan kemiskinan di sekitarnya muncul di atas panggung. Tentu tanpa apak keringat dan bau busuk sampah. J.J Sampah-Sampah Kota bukan sekadar menawarkan parodi kejujuran. Cerita yang dikemas dengan apik itu ibarat cermin bagi penonton.

Dari panggung J.J Sampah-Sampah Kota, penonton diingatkan betapa kacaunya kehidupan manusia kala kejujuran tak cuma langka tapi juga bisa salah kala berada dalam kekuasaan yang rakus. Tanpa menggurui, Teater Koma dengan segar menyentil pentingnya memegang teguh kejujuran walau bisa berujung sakit lagi susah.

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads