alexametrics
Pameran Lukisan di Aula Untag Banyuwangi

Rela Antre Lama untuk Dapat Sketsa Wajah Gratis

7 Juli 2019, 15:48:41 WIB

HAMPIR sepekan ini auditorium Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi ’’dikuasai’’ seniman dan budayawan. Mereka unjuk karya lukisan bertajuk Culture Shock. Pameran kali ini juga dipadukan dengan penampilan berbagai kesenian.

Suasanaauditorium Untag Banyuwangi tak seperti biasa sejak 1 Juli lalu. Ruangan di lantai dua kampus tersebut biasanya sepi dari aktivitas mahasiswa.

Namun, sejak awal Juli lalu, ruangan yang biasanya digunakan untuk rapat dan wisuda mahasiswa itu berubah. Seluruh auditorium yang berukuran dua kali lapangan bulu tangkis tersebut dipenuhi dengan berbagai karya lukisan. Juga, banyak karya seni rupa.

Tercatat ada sedikitnya 100 karya lukisan yang dipamerkan. Karya lukisan itu merupakan karya 35 orang seniman lukis di Banyuwangi.

Sebagian di antara mereka tergabung dalam Forum Perupa Banyuwangi (FPB). Ratusan lukisan yang terpajang rapi menghiasi setiap sudut ruangan.

Seluruh karya seni lukis terpasang dan bisa dinikmati dengan mudah. Apalagi, auditorium juga cukup luas dan dilengkapi dengan pendingin ruangan. Tak perlu berdesakan untuk bisa menikmati pameran lukisan tersebut. Suasananya dijamin sangat nyaman.

Tidak seluruh ruang auditorium digunakan untuk pameran lukisan. Masih ada sekat di ujung sebelah barat. Pentas di dalam ruangan itu juga dimanfaatkan untuk pertunjukan seni musik dan berbagi kesenian yang diisi para seniman dan budayawan.

Abdul Azis,57, ketua panitia pameran, menyatakan bahwa pameran lukisan tersebut kali kedua dilaksanakan di tempat yang sama setelah tujuh tahun vakum. Konsep pameran kali ini memang tidak dalam memperingati hari apa pun. Hanya, waktu pembukaan bertepatan dengan 1 Juli yang diperingati Hari Bhayangkara.

Pelaksanaan pameran itu bermula dari pembicaraan ringan antara Azis dan Sugihartoyo, ketua Perkumpulan Gema Pendidikan Nasional (Perpenas) 17 Agustus 1945 Banyuwangi, yang tak lain adalah tetangga rumahnya di Jalan Mendut Selatan nomor 85, Kelurahan Tamanbaru, Kecamatan Banyuwangi.

Berawal dari pembicaraan omong kelamong itulah, akhirnya muncul ide untuk membuka pameran di auditorium kampus berjas merah tersebut. ’’Memang tujuh tahun silam pernah dilaksanakan, waktu Pak Gik (Sugihartoyo, Red) masih jadi rektor Untag,’’ ujar Azis.

Pembicaraan ringan itu akhirnya disambut antusias oleh sejumlah pelukis di Banyuwangi. Dari 200 orang pelukis di Banyuwangi yang ditawarkan, hanya ada 35 orang pelukis yang ikut pameran.

Para pengunjung masih sebatas menanyakan harga lukisan yang dipamerkan. Biasanya, kesepakatan pembelian lukisan itu menjelang pameran ditutup.

Menariknya lagi, dalam event pameran tersebut, ada dua pelukis yang membuka stan sketsa wajah on the spot. Hanya dengan berbahan kertas dan pena, dua pelukis, Sugiyono dan Abdul Rohim, melukis sketsa wajah secara langsung.

Hanya dalam tempo 15 menit, sketsa wajah yang digambar secara langsung sudah selesai. Itu juga dilakukan secara gratis. Tidak sedikit dari para mahasiswa yang berebut untuk dilukis.

’’ Para pengunjung yang kebanyakan mahasiswa ini justru banyak yang antre menunggu agar dilukiskan sketsa wajahnya,’’ ujar Azis.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */bay/c19/diq



Close Ads