alexametrics

Krisis Menggonggong, Seniman Berlalu

Artjog Resilience: Seni Merespons Pandemi
6 September 2020, 10:26:43 WIB

Tetap tergelarnya Artjog tahun ini bukti bahwa pandemi justru harus disikapi dengan ide-ide kreatif. Ada pembatasan di sana-sini dalam penyelenggaraan, tapi pengunjung mengaku malah bisa lebih tenang menikmati karya.

PANDEMI Covid-19 menghantam. Jadwal pun sempoyongan dan sempat akan diundurkan tahun depan.

Tapi, berkat inovasi, sejumlah penyesuaian dengan kondisi terkini, dan perubahan tema, Artjog tahun ini akhirnya tetap bergulir. Kalau pepatah lama itu boleh disitir, ini bukti bahwa krisis boleh menggonggong, seniman tetap berlalu.

Semangat berkreasi yang sama sekali tak padam kendati pandemi membuat ruang dan gerak menjadi terbatas. Spirit tak mau menyerah yang tak tumbang oleh deraan berbagai kesulitan.

Artjog Resilience, tema tahun ini yang menggantikan rencana semula, Artjog MMXX time (to) wonder, menggambarkan dengan tepat kepantangmenyerahan tersebut. Adapun tema awal disiapkan untuk pergelaran tahun depan.

’’Pandemi ini justru melahirkan banyak hal positif untuk para seniman. Mereka work from studio atau work from home dan punya banyak kesempatan untuk meningkatkan kualitas karya,’’ kata Direktur Artjog Heri Pemad kepada Jawa Pos.

Tentu, tak bisa tidak, dari sisi penyelenggaraan harus ada adaptasi di sana-sini. Penerapan protokol kesehatan salah satunya.

Cara lain, berinovasi dengan menggabungkan konsep daring dan luring di ajang yang telah memasuki usia 13 tahun ini. Saat Artjog: Resilience awal dibuka pada awal Agustus di Jogja National Museum, para pungunjung hanya bisa menikmati secara daring.

Baca juga: Reselience, Edisi Khusus ARTJOG

Namun, di minggu-minggu akhir bulan tersebut, mulai dilakukan preview untuk berbagai macam kalangan. Mulai awak media, dinas terkait, pencinta dan pengamat seni, hingga para seniman yang ikut berpartisipasi di dalamnya.

Preview yang juga menjadi simulasi digelarnya Artjog secara luring itu disertai syarat-syarat ketat. Dimulai dari pembatasan pengunjung dan membaginya menjadi dua sesi. Sesi pertama dilaksanakan pagi, yakni pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Sementara sesi berikutnya digelar siang, yakni pukul 13.00 hingga 15.00 WIB.

Setiap sesi pun hanya dibatasi untuk 30 orang. Sesuai dengan anjuran protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah.

Pengunjung yang ingin hadir secara langsung juga diwajibkan mendaftar dan melakukan reservasi terlebih dahulu. Sedangkan penikmat seni yang berasal dari luar Jogjakarta harus menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19. Bisa berupa hasil rapid test nonreaktif, bisa juga berupa hasil PCR/swab negatif Covid-19 yang dikeluarkan pihak kesehatan terkait.

Berbagai pembatasan itu ternyata punya sisi positif tersendiri bagi pengunjung. ’’Biasa ke Artjog ramenya masya Allah. Jujur sampai sulit menikmati karya-karya dengan syahdu,’’ tulis aktris Zaskia Adya Mecca dalam posting-an di Instagram pada 31 Agustus.

Tapi, dengan dibatasi 30 orang dalam satu waktu, istri sutradara Hanung Bramantyo itu mengaku malah sangat bisa menikmati karya dengan tenang. “Enak bangetttt,” tulisnya dalam unggahan yang sama.

Aktor Nicholas Saputra juga merasakan efek positif yang sama. ’’Tidak ada keramaian, pertunjukan yang meriah, dan perayaan besar-besaran. Namun, yang tetap ada adalah semangat para seniman yang tertuang di dalam setiap karya, yang sebagian besar dibuat selama pandemi,’’ tulisnya dalam unggahannya soal Artjog di Instagram pribadi pada Selasa (1/9).

Baca juga: ARTJOG Siapkan Edisi Tanggap Darurat

Pemad menambahkan, terselenggaranya Artjog di masa pagebluk ini juga menjadi medium para seniman untuk merespons pandemi lewat ide-ide kreatif. ’’Maka, di sini kita bisa pertanggungjawabkan apa yang di dalam pikiran, apa yang seniman lakukan atau seniman rasakan selama pandemi sekian bulan ini. Itulah yang bisa kita sajikan kepada khalayak,’’ terangnya.

Wadah tersedia, waktu banyak, namun Pemad juga mengakui tak semua seniman bisa memaksimalkannya. Tak sedikit yang tidak berdaya di hadapan pandemi.

Meski demikian, Pemad dan tim tetap menghormati itu. ’’Ada yang memang diam (tak berkarya) karena introspeksi, tapi ada yang malah jadi sangat produktif selama pandemi ini,’’ tambahnya.

Beragam kesulitan yang mendera selama pandemi juga membuat Pemad jadi maklum kalau kemudian tak tampak kecenderungan baru dalam beragam karya di Artjog tahun ini. ’’Memang belum ada yang membuat karya yang konsepnya hanya bisa dinikmati pada saat kondisi seperti sekarang ini,’’ kata pria yang pernah berkuliah di Jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, tersebut.

Itu terjadi karena berbagai keterbatasan ruang dan gerak. Sisi ekonomi tentu termasuk yang sangat terdampak. ’’Tapi, walaupun secara kebaruan belum muncul, secara kualitas meningkat,’’ sambungnya.

Yang menggembirakan Pemad, antusiasme dan apresiasi sangat terasa. Baik dari para penikmat seni maupun kolektor. Itu bisa dibaca dari bagaimana respons orang-orang, baik yang datang langsung maupun yang melihat secara daring dari rumah di minggu-minggu awal pembukaan event tersebut Agustus lalu.

Kolektor seni Surabaya Irawan Hadikusumo termasuk yang memilih menikmati Artjog tahun ini secara daring. ’’Memang rasanya akan berbeda dengan melihat karya seniman secara langsung. Tapi, meskipun rencana bulan ini (September) mulai dibuka untuk umum, saya masih takut buat bepergian,’’ ungkap Irawan yang di Artjog edisi-edisi sebelumnya tak pernah absen jadi pengunjung.

Pilihan untuk mencoba format daring yang bisa diakses dari rumah dan luring yang bisa didatangi langsung ke lokasi memberikan manfaat tersendiri bagi tim penyelenggara.

’’Kami jadi tahu apa yang kemudian cocok dan penting untuk diterapkan dalam event seni seperti ini,’’ imbuh seniman peraih penghargaan Adi Karya Rupa 2015 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai penyelenggara event seni tersebut.

Mulai programnya, pelaksanaannya, apa yang sesuai dan perlu, yang penting dan tidak penting, sampai yang aman dan tidak aman. ’’Kalau edisi tahun ini tidak dijalankan, kami tidak akan tahu apa yang perlu dan tidak perlu. Kalau nanti dirasa ideal mungkin bisa diterapkan untuk event berikutnya,’’ katanya.

Ya, yang penting, resilience dulu. Tetap berlalu (baca: berkarya) meski krisis akibat pandemi tak henti menggonggong (baca: membelenggu).

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : ama/c19/ttg



Close Ads