alexametrics

Gugur Gunung

Oleh WICAKSONO ADI
6 September 2020, 13:34:00 WIB

Setelah kelimpahruahan pasar seni rupa menyusut, sejak 2010 hingga sekarang berada di titik terendah, masih ada hal lain yang patut disyukuri.

YAKNI, munculnya perluasan ’’bobot kehadiran’’ seni rupa yang semula berbasis pada penciptaan ’’individual’’ menuju proses ’’kolektif’’yang lebih organis.

Gejala ini sudah berlangsung lebih dari dua dekade. Sejak reformasi telah bermunculan kelompok dan komunitas mandiri –biasa disebut kelompok indie– yang menjalankan praktik seni sebagai bagian dari kehidupan sosio-kultural berikut medan pemaknaan yang terkait langsung dengan lingkungan di mana seni itu diciptakan dan disebarluaskan.

Dari puluhan kelompok, hanya beberapa yang sempat saya jumpai secara langsung: Apotik Komik (Jogjakarta, seni di ruang publik), Taring Padi (Jogjakarta, seni kerakyatan), Ace House Collective (Jogjakarta, seni bersama masyarakat), Artcoholic (Jakarta, seni jalanan), Art Prèk (Jogjakarta, seni publik), BSD Art Movement (Tangerang, seni publik), Common Room (Bandung, seni media baru), Gardu House (Jakarta, seni jalanan), Grafisosial (Jakarta, seni grafis).

Kemudian, kelompok Indieguerillas (Jogjakarta, seni publik), Jatiwangi Art Factory (Jawa Barat, seni bersama masyarakat), Kelompok Ktok Project (Semarang, seni bersama masyarakat), Hysteria (Semarang, seni publik), Koloni Cetak (Jogjakarta, seni grafis), Komunitas Pojok (Denpasar, seni jalanan), Rewind Art Community (Jakarta, performance art), Ruangrupa (Jakarta, seni lintas media), Serrum (Jakarta, seni publik), Tembok Bomber (Indonesia, seni jalanan), Trotoart (Jakarta, seni bersama masyarakat), Begoendal (Jakarta, festival kampung), Agen Kultur (Tangerang, pemberdayaan komunitas), dan lain-lain.

Mereka membuat karya grafis –stensil, cukil kayu, etsa, poster – flyer dan baliho di ruang-ruang publik; membuat sekolah komunitas, mencipta dan menerbitkan komik; ada yang aktif menggambar bersama anak-anak, membuat animasi dan pertunjukan musik serta sastra bagi remaja dan kaum muda; membuat video, lukisan, patung, seni instalasi dan foto bersama masyarakat lalu mempresentasikan di ruang publik dan bangunan ini-itu.

Ada pula yang membuat perpustakaan untuk anak-anak dan kaum remaja, mengadakan pelatihan bahasa Inggris dan pelatihan kesehatan (P3K), membuat arena bermain di tempat umum, mengajak anak-anak ke kebun binatang, membuat video ekspresi masyarakat tentang nasionalisme, membuat pelatihan teknologi untuk masyarakat pinggiran, perbantuan saat terjadi bencana, menggalang masyarakat mencipta karya lalu menampilkannya dalam festival kampung, dan sebagainya dan sebagainya.

Amalan seni semacam itu sesungguhnya dimulai sejak awal dekade 1980-an, di antaranya oleh Moelyono, seniman asal Tulungagung. Ia adalah pentolan ’’seni rupa penyadaran” yang terjun langsung ke masyarakat, khususnya daerah-daerah dengan kondisi sosial-ekonomi yang sangat buruk, dari Aceh hingga Papua.

Selain itu, ada seniman Tisna Sanjaya yang bergumul bersama masyarakat Cigondewah, Bandung, untuk memanfaatkan seni rupa guna menata lingkungan di bantaran sungai dan desa-desa pertanian sekitarnya yang telah menjadi kawasan industri.

Sedangkan kelompok Jatiwangi Art Factory, di Jatiwangi, Jawa Barat, bekerja bersama masyarakat desa sentra penghasil genting. Di situ mereka mengadakan berbagai pelatihan, residensi, kolaborasi, pameran, pementasan musik, siaran radio, festival desa, lomba jebor (pengrajin genting), dan lain-lain. Bersama masyarakat pula, kelompok ini berhasil membangun sarana seni untuk umum sekaligus tempat lokakarya pembuatan keramik.

Dalam amalan seni semacam itu, seniman menjadi inisiator, organisator, atau pemicu peristiwa agar berlangsung penciptaan artistik secara partisipatoris, atau menjadi semacam ’’penghubung” dari entitas-entitas yang ada sehingga tercipta sehimpun relasi sosial yang baru.

Sebagian orang menyebut praktik seni tersebut sebagai ’’estetika relasional’’. Yakni, seni sebagai tindakan yang terintegrasi dengan denyut kehidupan sehari-hari masyarakat sehingga tidak tereksklusi dari lingkungan sekitarnya. Di situ, seni tidak melulu menghasilkan benda seni, tapi juga menjadi bagian proses perubahan sosial yang multidimensi.

’’Bobot kehadiran” seni jenis ini akhirnya akan mengubah pengertian kita terhadap apa itu seni. Makna praktik seni adalah hasil akumulasi nilai-nilai yang terbentuk di luar karya, yaitu nilai-nilai yang hidup dalam relasi sosial di balik wujud fisiknya. Nilai keindahannya pun terkait dengan konsensus yang membentuk standar estetik di dalam masyarakat dan mutu artistiknya bergantung pada sejauh mana ia dapat memicu perubahan berikut hubungan-hubungan sosial yang baru.

Di situ nyaris tidak berlaku lagi dikotomi antara status artistik dengan fungsi sosialnya. Segala sesuatu dapat disebut seni karena aspek intrinsiknya akan mencerminkan dimensi-dimensi ekstrinsiknya sehingga dapat menghadirkan pengalaman estetik bersama. Pemaknaan terhadap kesenian pun akan berlangsung secara horizontal, menjadi bagian dari sistem kesadaran kolektif beserta model-model tindakan turunannya, terintegrasi dengan segala wahana pengetahuan yang hidup dalam masyarakat.

Itulah amalan seni yang tidak sekadar hadir dalam kerumunan, tapi juga tindak kolaborasi. ’’Gugur gunung’’ terlibat aktif dalam proses mengaransemen relasi-relasi pengetahuan dan pengalaman estetik di ranah sosial dalam orkestrasi bersama yang irama dan tujuannya tidak ditentukan oleh satu pihak, melainkan dikendalikan oleh jalannya orkestra itu sendiri guna memaknai realitas dengan cara yang berbeda. Dan, selepas pandemi ini, semoga kita dapat merayakannya dalam cara yang berbeda pula. (*)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads