alexametrics

Bicycle, Konsep Garis, dan Introspeksi

6 September 2020, 11:28:54 WIB

JawaPos.com – Dari balik layar laptopnya, Irawan Hadikusumo tentu bisa melihat isi ruangan itu. Ada warna merah muda dengan corak setengah lingkaran yang disusun selang-seling yang mendasari karya yang dipajang.

Karya bertajuk Museum of New Norm itu kreasi Eko Nugroho. Ditempatkan di sebuah ruangan tersendiri pada bagian paling ujung di lantai 2 Jogja National Museum, lokasi Artjog: Resilience.

Karena masih khawatir bepergian, co-founder Visma Art Gallery Surabaya Irawan memilih ’’menyaksikan” Artjog tahun ini secara daring. Kasatmata, tentu dia bisa melihat semua karya yang dipamerkan. Tapi, tetap saja ada yang hilang: ’’feel”.

’’Experience-nya tentu sangat berbeda saat hadir langsung. Karena feel itulah yang membikin kolektor ketagihan untuk selalu datang dalam acara seni,” katanya kepada Jawa Pos.

Artjog adalah salah satu festival seni Indonesia yang ditunggu banyak orang. Rencananya, setelah hanya bisa dinikmati secara daring sejak awal dibuka 8 Agustus lalu, Artjog akan dibuka secara luring per September ini. Namun, sampai Jumat lalu (4/9), perizinan masih diproses oleh pihak penyelenggara.

Baca juga: Reselience, Edisi Khusus ARTJOG

”Konsep luring ini memang sengaja kami berikan untuk memfasilitasi mereka yang kemudian mampu, berani, atau bisa datang langsung ke lokasi. Tapi, untuk mereka yang mempunyai keterbatasan untuk hadir, kami meresponsnya dengan memberikan akses secara daring,” jelas Heri Pemad, direktur Artjog.

Irawan menyebutkan, ada sejumlah karya yang sebenarnya membuat dia penasaran. Tapi, dia belum berani memiliki karya tersebut karena tidak melihatnya langsung.

Salah satunya Bicycle karya dari Abdi Setiawan. Karya tiga dimensi itu menurutnya menarik karena mirip dengan karya Marcel Duchamp, perupa berdarah Prancis-Amerika Serikat, yang pernah memasang roda sepeda terbalik di atas bangku pada 1913.

Karya Bicycle yang kini tengah dipamerkan itu memang menjadi bentuk penghargaan Abdi pada Duchamp. Untuk mengenang sang avant-gardist itu, dia membangun kembali Bicycle Wheel dengan material dan teknis yang berbeda.

Tapi, jika berbicara soal karya yang paling diburu oleh kolektor saat ini, Irawan menyebut nama Ay Tjoe Christine dan I Nyoman Marsiadi. Karya-karya mereka sempat mendapat nilai tinggi dalam event-event pelelangan.

Menurut Pemad, tidak ada karya atau seniman khusus yang dijagokan dan diprioritaskan. ”Karena tugas kami adalah men-display karya, memberikan rumah pada karya itu sehingga karya itu tetap tampil maksimal dan pesannya sampai pada masyarakat,” terangnya.

Penjualan dan patokan harga-harga setiap karya pun tidak dibeberkannya. ”Ada karya termahal yang tidak bisa saya sebutkan nama senimannya. Karya ini menjadi mahal karena dikerjakan secara kolektif oleh empat orang seniman,” ujarnya saat ditanyai soal karya termahal pada Artjog kali ini.

Baca juga: ARTJOG Siapkan Edisi Tanggap Darurat

Jika ditelisik lebih lanjut, satu-satunya karya yang digarap oleh empat orang seniman adalah karya dari Jalanpulang. Kelompok seniman yang digawangi oleh Handriwirman Saputra, Kokok P. Sancoko, M. Irfan, dan Yuli Prayitno itu menghadirkan konsep garis yang dihadirkan masing-masing seniman dalam empat panel kanvas yang berbeda. Dengan ditambah satu lagi karya instalasi yang menghadirkan empat karya dari bahan berbeda.

”Kami secara pribadi sudah cukup umur di seni rupa. Ada masa-masa untuk mengingat hal-hal lama untuk menggerakkan karya yang sekarang,” kata Kokok tentang pilihan soal konsep garis.

Misalnya, lanjutnya, perlu tidak ada garis di situ. ’’Atau perlu nggak sih ada warna di situ,” ceritanya.

Di awal sekolah seni rupa, Kokok mengungkapkan bahwa garis dan warna menjadi pelajaran paling mendasar. Itulah kenapa konsep garis dari pengalaman-pengalaman empat seniman yang berasal dari universitas yang sama, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, itu menjadi kesepakatan. Harapannya, mereka ingin menghasilkan karya yang lebih ke arah introspeksi. ”Nggak selalu berkaitan dengan hal-hal besar. Mundur sejenak untuk nantinya maju lagi,” ungkapnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : ama/c17/ttg



Close Ads