Kisahkan Mahabharata di Ampak-Ampak Amarta

6 Juli 2022, 18:40:51 WIB

Masukkan Improvisasi dan Spontanitas tanpa Naskah

JawaPos.com – Panggung kesenian tradisi semakin menggeliat di Kota Pahlawan. Pergelaran demi pergelaran mulai kembali rutin diadakan dari waktu ke waktu. Terbaru, Gedung Kesenian Cak Durasim menampilkan pergelaran dari Komunitas Graha Seni Mustika Yuastina. Dengan tajuk Ampak-Ampak Amarta yang berarti konflik yang terjadi di Negeri Amarta. Suatu kerajaan yang dihuni oleh lima pandawa.

Lakon cerita diambil dari kisah Mahabharata, tetapi dengan improvisasi di beberapa bagian. Rono Puspito Judo selaku sutradara pergelaran tersebut menjelaskan, cerita panggung dalam wayang orang merupakan karangan atau pengembangan yang sudah sering dituturkan secara turun-temurun sebagaimana tradisi lisan. ’’Wayang orang itu selalu mengambil cerita lawas Ramayana atau Mahabharata yang sudah mengakar dan sudah banyak dilakonkan di atas panggung dengan inti cerita yang sama namun improvisasi yang berbeda,’’ terangnya.

Begitu pula dalam pementasan Ampak-Ampak Amarta pada Sabtu (2/7) malam. Tokoh-tokoh dalam cerita pewayangan Mahabharata hampir ditampilkan semua. Namun, dengan alur dan jalan cerita yang berbeda. Serangkaian konflik yang terjadi merupakan kesengajaan yang dibuat oleh Batara Guru. Dengan tujuan untuk mengetes kesiapan Pandawa dalam menjalankan darmabaktinya kepada Negeri Amarta.

’’Makanya, Batara Guru sengaja cari gara-gara atau masalah. Demi bisa mengetahui pandawa mampu atau tidak. Dia menyamar menjadi Gatotkaca dan Kresna palsu dan sempat mencuri pusaka pandawa, Jamus Kalimasada,’’ ujarnya. Di tengah-tengah jalan cerita, tokoh punakawan seperti Bagong, Petruk, Gareng, dan Semar juga ikut dimunculkan. Empat tokoh yang dikenal sebagai penggambaran kawulo alit itu sukses menjadi pencair suasana.

Humor-humor segar yang mereka lontarkan dalam bahasa Jawa mampu mengocok perut dan mengundang gelak tawa penonton. Salah satunya saat mereka berdialog dengan satire yang menumpahkan unek-unek. Bahwa sudah sekian lama mereka tidak manggung dan akhirnya kembali diberi kesempatan untuk berkesenian. ’’Tepuk tangan gak onok gunane tanpa saweran,’’ ujar salah seorang pemain punakawan saat mendapat gemuruh tawa hingga tepuk tangan dari penonton.

Judo mengungkapkan, humor para punakawan merupakan improvisasi dan spontanitas di luar naskah. Dilontarkan dengan tetap memperhatikan benang merah cerita. Humor memang sengaja diselipkan agar bisa menghibur penonton. Selain itu, agar dialog menjadi lebih hidup dan tidak kaku.

’’Kurang lebih ada 40 pemain dan kru yang terlibat. Ditambah tim karawitan berjumlah 20-an orang. Persiapan pentas hanya sebulan dan baru bisa latihan full team seminggu sebelum hari H karena ada pemain yang datang dari luar kota seperti Malang dan Ponorogo. Antusiasme penonton sangat tinggi dan banyak yang berharap kami terus bisa tampil ke depannya seperti saat sebelum pandemi,’’ paparnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : hay/c17/tia

Saksikan video menarik berikut ini: