alexametrics

Dari Kanvas ke Kaus, Penanda Zaman untuk Seni yang Tak Berjarak

6 Juni 2021, 12:12:55 WIB

Bisnis merchandise ini, kata Eko, sangat berpengaruh sekaligus menopang keberlangsungan hidup para pelaku seni. Apalagi, pada masa pandemi Covid-19, izin untuk segala acara yang menimbulkan kerumunan seperti pameran sangat dibatasi. ”Strategi marketing-nya diubah. Sekarang fokusnya jualan online,” jelas Eko.

Produk merchandise DGTMB berhasil menembus pasar Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Pelukis yang identik dengan gambar mata dan topeng itu juga sering berkolaborasi dengan merek-merek lain. Bahkan, dia pernah digaet membuat scarf Louis Vuitton edisi Fall/Winter 2013. Meski begitu, melukis di atas kanvas menjadi prioritasnya sampai saat ini. ”Karena itu yang menghidupi saya,” ujar Eko.

Memproduki merchandise juga dilakukan seniman Farid Stevy. Berbeda dengan Eko yang kekuatan produknya terletak di gambar, merchandise Farid ”menghantam” penikmat seni dengan narasi kritik yang ditulis tangan. Libur Adalah Mitos dan Berkeringat demi Keluarga Pak Bos adalah dua kalimat di kaus Farid untuk mengejek kapitalisme.

Menurut dia, ada banyak hal yang bisa dicapai dari bisnis merchandise yang digelutinya. Pertama, mendukung sistem ekonomi keberlangsungan karyanya. ”Biar bisa beli alat kerja lagi,” papar Farid.

Kedua, mendistribusikan ide dan karyanya ke pasar yang lebih luas. Ketiga, menjadikan merchandise sebagai alat propaganda yang menarik.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : shf/c14/dra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads