Sudah Ribuan Kali Dilukis pun, Penonton Tak Bosan

4 Desember 2022, 08:06:22 WIB

Dari Pameran The 4th International Watercolor Exhibition 2022

The 4th International Watercolor Exhibition 2022 membawa misi memasyarakatkan seni lukis cat air kepada publik yang lebih luas. Mengusung tema Wonderful Indonesia, pameran seni lukis cat air antarbangsa itu memberikan gambaran umum tentang Indonesia yang molek.

THE 4th International Watercolor Exhibition 2022 berlangsung pada 24 November sampai 20 Desember 2022 di Gedung B dan D Galeri Nasional Indonesia. Sebanyak 176 karya oleh 176 peserta dari 31 negara dipamerkan. Seluruh karya yang ditampilkan adalah hasil seleksi dari International Watercolor Competition 2022 yang diselenggarakan pada 1 Juni hingga 11 September lalu.

Kurator pameran Efix Mulyadi menuturkan, pameran dan kompetisi lukisan cat air tersebut dirancang di tengah keprihatinan terhadap pandemi Covid-19 yang masih mengancam. Namun, tingginya jumlah peserta membayar lunas. Memperkuat keyakinan akan budaya seni lukis cat air tak akan pernah mati. Bahkan tidak juga oleh pagebluk yang begitu dahsyat.

’’Bahkan, tahun ini ada bonus berupa kesertaan anak-anak. Mereka masuk di dalam kategori khusus,’’ kata Efix seusai press tour pameran pada Rabu (23/11) lalu. Menurut dia, cat air merupakan bagian penting dari budaya seni rupa Indonesia. Juga, tak kalah mutu dan daya tariknya jika di_bandingkan dengan karya rupa media lainnya.

Tajuk Wonderful Indonesia diharapkan bisa menggambarkan kekayaan alam yang dahsyat serta beragam adat istiadat dan budaya dari berbagai daerah. Begitu juga ragam hias baju, tari, upacara keagamaan, candi, keraton, dan situs-situs arkeologi yang menawan.

’’Makanya, Candi Borobudur, Tanah Lot, penari legong, wayang kulit, kesibukan di pasar, sungai-telaga-gunung, atau upacara ngaben telah dilukis ribuan kali dan akan ada ribuan (karya) lagi. Orang tidak bosan melukis dengan cat air, penonton tidak bosan menikmatinya. Karena daya ungkap yang memang berbeda-beda sesuai cap jari senimannya,’’ jelas pria asal Solo itu.

Efix menyatakan, karya-karya pemenang tidak bersandar semata pada kepiawaian teknik. Namun, lebih masuk ke wilayah di balik itu. Riset dan pengamatan yang detail menggugah permenungan yang bisa panjang.

Lukisan berjudul Abundant Blessing karya Danni Liu dari Australia menjadi yang terbaik di kategori figuratif. Penggambaran bocah yang tengah bersembahyang, dibalut dengan permainan cahaya yang prima, langsung mendesakkan suasana dramatik, berisi, dan sublim.

Kemudian, Mastery milik Luan Quach (Kanada) membuat Efix kagum akan makna yang tersirat dalam lukisan itu. Mencerminkan bahwa pelukis mendalami betul makna Indonesia. Terutama memahami sosok Indonesia sebagai negara, bumi, dan bagian dari dunia.

Sosok jawara dengan sikap kejantanannya, pemberani, dan siap sedia melindungi wilayahnya. Begitu pula komodo merupakan hewan yang hanya bisa ditemui di Indonesia. Dengan sifatnya yang agresif untuk menjaga teritorialnya. ’’Itu ungkapan yang luar biasa. Hebat. Memahami sosok Indonesia sebagai negara, bumi, dan bagian warisan dari dunia,’’ beber Efix.

MEMUKAU: Pengunjung melihat karya yang ditampilkan di The 4th International Watercolor Exhibition 2022: Wonderful Indoenasia, Jakarta. Pameran menampilkan 176 karya dari perupa 31 negara yang berlangsung hingga 20 Desember mendatang. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

Karya-karya pelukis Indonesia juga tidak kalah menarik. Lukisan garapan Widyarto Gunawan berjudul Merasuk Topeng Panji mendemonstrasikan komposisi yang elok dan berhasil. Begitu pula lukisan Morning in Ubud dari Tinna Widianti. Permainan cahaya matahari pagi menafsirkan suasana di sudut Pulau Bali yang indah dan menawan.

Tahun ini, untuk kali pertama, anak-anak disertakan di dalam lomba dan hasilnya ikut dipamerkan. Terpilihlah tiga pemenang cilik. Dengan pertimbangan, mereka sudah menguasai keterampilan yang dibutuhkan untuk mengungkapkan gagasannya.

Efix cukup takjub. Tidak ada satu pun di antara pemenang yang memperlihatkan gejala kekanakan yang umum dianggap sebagai ciri karya visual bocah. Sebaliknya, yang terlihat justru keterampilan yang memadai. Bahkan ada yang melampaui dugaan.

’’Seperti karya Anoman Obong oleh Alyssa Kusnoto, Mighty Rinjani Mountain karya Martina Margaret Mardjuki, dan Trade in Traditional Market ciptaan Safira Chaerunisa. Mereka luar biasa, bagus sekali,’’ ungkapnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : han/c12/dra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads