alexametrics

Kestabilan Jaringan Jadi PR Festival Kebudayaan Yogyakarta 2020

4 Oktober 2020, 16:39:39 WIB

Jaringan internet yang tiba-tiba down menjadi hal yang paling sering terdengar dalam event Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2020 yang digelar pada 21–26 September lalu.

UNTUK kali pertama dalam sejarah FKY, mayoritas event kesenian tahunan di Jogja itu digelar secara daring.

Direktur Utama (Dirut) FKY Paksi Raras Alit mengungkapkan, semua instrumen alih media sejatinya sudah disiapkan matang-matang. Namun, tetap saja masalah jaringan internet beberapa kali muncul. Dan itu membuat panitia penyelenggara pusing. ”Kami sampai ngurus (masalah internet, Red) ke provider internet,” kata Paksi saat dihubungi Jawa Pos.

Pandemi Covid-19 memang mengubah perilaku dan aturan untuk menggelar sebuah festival. FKY Mulanira 2 yang bertema ”Akar Hening di Tengah Bising” digelar secara virtual. Selama festival tertua di Jogjakarta itu berlangsung, panitia menyiapkan tempat untuk menonton di dunia maya.

Yakni, www.fkymulanira.com dan Jogja TV. Karena alih media itulah, koneksi internet menjadi sumber daya utama agar setiap acara bisa diakses pengunjung.

Baca juga: Siasat Kebudayaan Baru dari Desa

Paksi menyatakan, secara kuantitas, kunjungan penonton virtual memang besar. Total pengunjung website www.fkymulanira.com sebanyak 123.432. Kunjungan di platform media sosial (medsos) FKY yang paling banyak, yaitu 11.287.651. Dengan jangkauan dari dalam dan luar negeri seperti Eropa, Australia, dan Asia.

”Memang angkanya (pengujung virtual, Red) besar, mengesankan. Tapi, kami belum tahu user-nya (pengunjung) itu mereka yang berkali-kali menonton atau orang yang beda-beda,” ucap Paksi. Selain event dalam jaringan (daring), FKY menggelar pameran seni rupa luar jaringan (laring) dengan menerapkan protokol kesehatan. Total ada 588 kunjungan selama enam hari.

AYO BERGAYA: Pengunjung FKY, meski dibatasi jumlahnya, tetap bisa hadir di lokasi pameran. Penikmat seni pun masih bisa berfoto di sana. (FKY FOR JAWA POS)

Paksi menambahkan, sejak awal, FKY virtual memang menjadi tantangan bagi panitia penyelenggara dan para seniman yang meramaikan festival budaya dan seni tersebut. Pengunjung pun harus menyisihkan banyak kuota internet agar bisa menyaksikan setiap pergelaran atau pertunjukan yang dihelat. ”Semua (panitia, seniman, dan pengunjung, Red) mencoba beradaptasi,” ujar Paksi lagi.

Begitu pula dengan kegiatan pameran seni rupa secara langsung, penerapan protokol kesehatan sempat membuat panitia kerja ekstra agar tidak kecolongan. Paksi melanjutkan, panitia sempat dibantu satgas penanganan Covid-19 untuk memperketat protokol di garda terdepan. ”Kami ketat sekali, pengunjung harus registrasi dan foto KTP,” tutur bapak tiga anak itu.

DALAM RUANG: Pandemi Covid-19 membuat perhelatan musik FKY dilangsungkan secara tertutup. (FKY FOR JAWA POS)

Paksi menyebutkan, alih media FKY itu membuat seniman terbagi dalam dua kelompok. Pertama, ada yang mendukung alih media dengan segala kompromi. Kedua, ada kelompok yang belum bisa move on dengan FKY tahun-tahun sebelumnya. ”Tapi, itu masalah waktu, sekarang kan serbavirtual. Memang ada (seniman, Red) yang terbuka dengan segala adaptasi, dan ada yang belum,” ujar alumnus Sastra Nusantara FIB UGM tersebut.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : tyo/c12/dra




Close Ads