TERLETAK di hook, rumah itu memiliki dua muka yang bisa menjadi kekurangan sekaligus kelebihan. Dhandya berusaha menjadikannya kelebihan dengan menyeimbangkan desain dua muka tersebut. Wajah utama yang menjadi area entrance cenderung lebih sempit dibandingkan sisi satunya. Bagian tersebut padat secara fungsi sehingga sudah pasti terasa ’’hidup’’. Yakni, hanya sebagai tempat parkir dan transit sebelum masuk ke rumah.
Untuk sisi lainnya yang lebih lebar, Dhandya menerapkan jarak dan ketinggian vegetasi yang tidak lebih dari 3 meter. Suasana muka samping dibuat lebih berfungsi dan hidup. Salah satunya, menempatkan sunken living area. Yakni, area duduk yang dibuat tampak seperti masuk ke dalam (sunken) dan dikelilingi oleh kolam.
’’Kenapa sampai effort sebegitunya? Supaya area (muka samping, Red) itu tidak mati dan terintegrasi langsung ke area living. Jadi, tidak perlu melewati ruang tamu atau teras,’’ kata Dhandya kepada Jawa Pos pekan lalu. Adanya vegetasi dan sunken living area di bagian depan rumah itu perwujudan keinginan pemilik rumah.
Menurut Dhandya, pemilik rumah menyukai konsep tropis ala Bali dengan nuansa material yang membumi. Tidak heran, material raw dan natural seperti batu bata ekspos mendominasi fasad. Lalu, terdapat area teras sekaligus ruang tamu yang dikelilingi dinding bermaterial kayu bengkirai yang hanya di-finishing dengan melamin.
Material kayu juga diterapkan pada interior, dipadukan dengan warna-warna hangat seperti abu-abu, cokelat, dan krem. ’’Kalau pakai warna terang, akan terlihat pudar dan mubazir secara ruang. Warna warm membuat ruangan lebih ketat, juga ada repetisi dari konsep penggunaan warna dan material di area eksterior,’’ terang Dhandya.
Pemilik rumah lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saat akhir pekan. Setelah melewati hari kerja dengan mobilitas yang padat, tingkat kebosanan pun tinggi. Dhandya membuat rumah terasa homey dan menarik dengan membuat ruang kejut berupa interior lanskap. Inner courtyard itu memiliki sebuah pohon yang dibiarkan tumbuh tinggi hingga lantai atas. ’’Kita membuat rumah ini terlihat seperti bagian dari alam,’’ ujarnya. (and/c6/nor)
---
HIGHLIGHTS
POOL SERASA DI VILA
Untuk mengakomodasi hobi pemilik yang suka berenang saat masih tinggal di apartemen, dibuatlah pool dengan material batu alam. Tampilannya pun lebih natural, serasa kolam renang di vila.
FILTER MATAHARI
Banyaknya bukaan pada fasad membuat sinar matahari mudah menembus ke dalam rumah. Agar tidak terlalu strong, dibuatlah filter berupa vegetasi pohon yang tinggi. Dhandya memilih pohon pule single trunk yang ditanam di taman depan.
SPLIT LEVEL
Rumah ini berukuran cukup luas. Agar tidak jenuh, Dhandya menerapkan split level. Antarlantainya dihubungkan dengan tangga yang memiliki bordes. Menurut dia, split level membuat visualisasi tidak membosankan dan naik turun antarlantai tidak begitu melelahkan.
---
AGR House
- Arsitek: Dhandya Surya Ichsani (Dhandya Surya Ichsani Architect)
- Luas tanah: 370 meter persegi
- Luas bangunan: 420 meter persegi
- Lokasi: Tangerang Selatan
- Lama pengerjaan: 9 bulan