---
PEMANDANGAN pegunungan yang asri menjadi favorit owner H+M House. Beruntung, tanah seluas 300 meter persegi yang dimilikinya berada di atas kawasan perbukitan. Alhasil, Erwin tidak menemui banyak kesulitan untuk memaksimalkan view dari rumah tersebut. ’’Tidak ada bangunan yang akan menutupi view dari ruangan dalam rumah karena posisi di atas bukit,’’ kata Erwin kepada Jawa Pos pada Rabu (2/12).
Hal itu kemudian dijadikan goal desain nomor satu. Bagaimanapun caranya, view harus bisa dinikmati di hampir semua ruangan. Hasilnya adalah sebuah rumah dua lantai dan semibasement dengan banyak bukaan lebar. Pemandangan pegunungan yang asri bisa dilihat di area utama lantai 1. Yakni, ruang makan dan dapur. ’’Ini kan prime area. Selama berlalu-lalang di area tersebut, pemilik rumah bisa sekalian menikmati view,’’ ujarnya.
Ada pula bukaan maksimal di area kamar utama. Pintu kaca besar lengkap dengan balkon yang menampilkan view Bumi Pasundan dan kabutnya terhampar di depan mata setiap pagi. Bukan hanya pemandangan yang indah, tetapi juga udara sejuk yang menyeruak. ’’Bangun tidur tinggal buka pintu kaca. Bahkan, breakfast bisa dilakukan di balkon ini,’’ ungkap Erwin. Dua area primer itu menghadap ke sisi timur. Ruangan lainnya seperti ruang keluarga dan kamar anak menghadap ke sisi barat.
Terkait dengan desain yang diterapkan, Erwin enggan menyebutnya minimalis. Menurut dia, rumah tersebut masih memiliki banyak variasi yang tidak sejalan dengan konsep minimalis sesungguhnya. Dia lebih suka menyebutnya modern dengan model clean-cut and sleek. ’’Jadi, tetap simpel dan enggak terlalu banyak profil yang ’ke sana dan kemari’,’’ jelasnya.
Lalu, untuk pemilihan warna, Erwin lebih berhati-hati. Bagian eksterior atau ”kulit luar” rumah diberi warna hitam dan abu-abu. Bukan karena Erwin ingin memberikan kesan maskulin pada rumah tersebut. Namun, dia ingin memaksimalkan sisi fungsional. Rumah itu berdiri di atas bukit yang secara otomatis mendapatkan banyak sinar matahari. Warna gelap yang diaplikasikan pada eksterior bertugas menyerap sinar tersebut. ’’Kalau ’kulit luar’ diwarnai putih, akan terpantul sinar yang membikin silau. Apalagi, jam 9 pagi sinar mataharinya sadis banget,’’ ungkapnya.
Untuk interior, Erwin menerapkan warna-warna terang seperti putih. Kemudian, dipadukan dengan material kayu yang menambah nilai estetis ruangan. ’’Ruangan terasa lebih luas dan bersih sekaligus,’’ ujarnya.
HIGHLIGHT
FASAD BOXY
Sesuai dengan gaya desainnya, Erwin menerapkan fasad berbentuk boxy dengan aksen kayu. Sebab, rumah itu menghadap ke barat. Dia melakukan antisipasi agar tidak terlalu banyak sinar matahari sore yang masuk ke rumah.
L TERBALIK
Terdapat struktur berbentuk huruf L terbalik pada bagian fasad. Kata Erwin, itu bukan sekadar elemen dekoratif, tetapi device yang difungsikan untuk menahan matahari sore dengan kemiringan sekitar 12 derajat.
TANGGA ”RINGAN”
Erwin kurang menyukai tangga yang memberi kesan berat. Karena itu, dia menghindari tangga cor beton yang tampak penuh. Sebagai gantinya, dia menerapkan struktur baja dengan anak tangga berupa kayu jati solid untuk memberikan efek light, tetapi tetap terasa hangat.
H+M HOUSE
- Luas tanah: 300 meter persegi
- Luas bangunan: 387 meter persegi
- Lokasi: Bandung, Jawa Barat
- Arsitek: Erwin Kusuma
- Lama pengerjaan: 2 tahun