alexametrics

Dekat dengan Alam ala Rumah Tatty Aprilyana, Natural Karena Bata Merah

29 Juli 2019, 12:59:20 WIB

RUMAH menjadi representasi karakter pemiliknya. Tatty Aprilyana dan almarhum suami adalah tipe orang yang suka dekat dengan alam. Itulah yang dituangkan dalam merancang dan membangun rumah mereka.

Sebelum menempati rumah di atas lahan seluas 2.200 meter persegi ini, Tatty Aprilyana tinggal di klaster. Namun, dia merasa tidak bisa bereksplorasi karena lahan klaster minim. Pada 2013, Tatty membeli tanah yang kini ditempati. ’’Waktu itu masih berupa tanah. Untuk menuju ke sini harus buka jalan dulu,’’ ceritanya ketika ditemui di rumahnya pada Senin (22/7).

Dibutuhkan waktu dua bulan untuk berdiskusi dengan arsitek demi menemukan model rumah yang dia dan suami inginkan. ’’Aku sama almarhum Mas Bimo (suami Tatty, Red) itu pribadi yang terbuka dan suka yang natural. Kami nggak mau rumah yang tertutup,’’ ujarnya.

BEDA DIAMETER: Gorong-gorong yang 5 dipasang untuk ventilasi di lantai 2. (Imam Husein/Jawa Pos)

Pembangunan rumah perlu waktu dua tahun. Awalnya, dia menginginkan rumah dua lantai. Namun, karena mengikuti kontur tanah, rumah dibuat hingga tiga lantai. Semua kegiatan keluarga berpusat di lantai 3. Konsep tanpa sekat diaplikasikan di sana. Karena itu, luas lantai 3 lebih besar jika dibandingkan dengan lantai 1 dan 2. Yakni, 11 x 20 meter persegi.

Lantai 3 ini punya akses ke lahan di belakang yang digunakan untuk kegiatan farming. ’’Aku buat tembok pembatas di lantai 3 yang mengarah ke halaman belakang dengan kaca. Jadi, bisa langsung memandang yang hijau-hijau,’’ jelas alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

TANPA SEKAT: Dapur yang bisa diakses oleh siapa pun. Masih mempertahankan konsep dekat dengan alam, dapur ini memiliki jendela kaca lebar. (Imam Husein/Jawa Pos)

Konsep natural diwujudkan dengan mengekspos batu bata merah pada dinding dan gorong-gorong yang difungsikan sebagai ventilasi. Ibu enam anak itu juga menggunakan bata ringan. ’’Bata ringan dipilih karena sifatnya saja. Supaya ada variasi warna,’’ ungkapnya. Bata ringan khusus dipakai untuk bagian dalam rumah. ’’Yang di luar rumah pakai batu bata merah,’’ tambahnya.

Nah, untuk gorong-gorong yang difungsikan sebagai ventilasi, ukuran diameternya berbeda-beda. Selain sebagai jalur pertukaran udara, gorong-gorong menjadi detail unik di rumah tersebut.

Plus-Minus Bata Ringan

Plus

  • Mampu mengurangi suhu panas dan kelembapan dalam bangunan.
  • Struktur berpori sehingga punya ketahanan api yang baik.
  • Ukuran bata AAC relatif lebih besar dan seragam sehingga mempermudah pemasangan.
  • Terbukti mengurangi risiko retak dan runtuh ketika gempa.
  • Ramah lingkungan. Limbah padat yang dihasilkan 30 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan pembuatan bata konvensional.

Minus

  • Sebelum pemasangan, bata AAC terbilang mudah patah.
  • Kondisi bata AAC harus kering agar tidak meletek setelah dipasang.
  • Karena tekstur berpori, paku hingga power socket yang akan dipasang harus ringan dan tidak terlalu tebal. Gantungan yang menempel di tembok sebaiknya tidak diberi beban berlebih.

Home Fact’s

  • Luas tanah: 500 m2
  • Luas bangunan: 2.200 m2
  • Lokasi: Tangerang Selatan
MENUJU LANTAI 3: Penataan batu bata merah yang dibuat berlubang supaya jadi jalur masuknya udara. (Imam Husein/Jawa Pos)
PENCAHAYAAN ALAMI: Meja dan kursi makan berada di dekat jendela kaca lebar. Sambil makan, bisa melihat hijaunya pepohonan. (Imam Husein/Jawa Pos)
DETAIL UNIK: Alih-alih bata, bagian dinding di samping jalan menuju lantai 3 ini menggunakan potongan genting yang ditempel. (Imam Husein/Jawa Pos)

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sam/c14/jan



Close Ads