Cascading House

Konsistensi Beton Ekspos dan Kayu pada Lahan Berkontur

28 November 2022, 10:37:09 WIB

JawaPos.com – Setiap rumah memiliki tantangan tersendiri dalam pembuatannya. Misalnya Cascading House di Semarang, Jawa Tengah, ini. Rumah tersebut berdiri di atas lahan hook yang berkontur. Tetapi, justru dari situlah keunikannya berawal.

Jarak ketinggian dari titik terendah hingga teratas lahan itu adalah 5 meter. Berhadapan dengan topografi yang unik, Tamara Wibowo selaku arsitek rumah tersebut tidak ingin banyak mengolah lahannya. Dia mengikuti saja bentuk lahan tersebut. Alhasil, rumah itu dibangun menjadi tiga level dengan tiga jenis program yang berbeda.

Level paling tinggi digunakan untuk area garasi dan servis, lalu level tengah untuk program living. Yakni, terdiri atas dining room dan dapur. Sedangkan area paling bawah merupakan area privat yang terdiri atas kamar tidur yang juga dibagi menjadi dua level. ’’Tapi, karena mengikuti bentuk lahannya, lantai 2 area ini tingginya sama dengan level tengah tadi,’’ kata Tamara kepada Jawa Pos.

Dengan pembagian level tersebut, privasi rumah itu pun ikut terlindungi. Pagar kayu yang mengelilingi rumah membantu meningkatkan privasi. Sehingga, meski jalannya menanjak, orang lain hanya dapat melihat pagar tanpa bisa melihat bagian dalam rumah itu.

Rumah tersebut terlihat menonjol tanpa terkesan berlebihan di antara lingkungan sekitarnya. Hal itu berkat pemilihan material beton (concrete) yang mendominasi. Tamara menjelaskan, beton itu hanya sebagai pelapis dan tidak berhubungan dengan struktur. Dua beton mengapit dinding bata ringan di tengah, lalu ’’diikat’’ dengan tie rod.

Menariknya, pola khas beton itu dibuat terus terhubung dari depan hingga belakang. Pemetaan pola beton tersebut diakui Tamara menjadi tantangan. Belum lagi soal menemukan warna yang pas. ’’Banyak trial dan error. Banyak mockup yang gagal juga karena ada rasio dan jenis semen, pasir, dan air yang disesuaikan supaya warnanya tidak terlalu gelap,’’ ungkapnya.

Material beton yang dibiarkan terekspos tanpa cat itu berpadu apik dengan material kayu solid. Tamara menuturkan, material kayu yang natural tersebut menjadi penyeimbang material beton yang merupakan buatan tangan manusia. Dua material itu tidak hanya diterapkan pada fasad, tapi juga diteruskan hingga ke area interior.

Hanya, untuk area eksterior dan interior, terdapat perbedaan jenis kayu. Area luar menggunakan material kayu ulin, sedangkan di dalam menggunakan kayu jati. Termasuk pada lantai hingga closet. ’’Memang sengaja tidak mau ada batasan physically antara luar dan dalam. Semua materialnya kita lanjutkan dari luar ke dalam, termasuk lantai,’’ pungkasnya.

HIGHLIGHTS

DUA COURTYARD

Agar tidak terlalu padat, di antara tiga massa itu ditempatkan dua courtyard berupa taman kering. Selain menambah keindahan, inner courtyard berhasil membagi akses cahaya dan sirkulasi udara ke seluruh area dengan merata.

REFLECTING POOL

SEAMLESS: Transisi dari halus di antara sisi luar dan dalam yang seolah melebur tanpa batas.

Adanya reflecting pool di samping ruang keluarga membuat area itu terasa lebih sejuk dan menenangkan. Dua courtyard lainnya pun awalnya akan dibuat reflecting pool. Namun, menurut fengsui, kurang baik jika kolam ditempatkan di tengah rumah. Akhirnya, reflecting pool diletakkan di bagian samping.

SUNKEN AREA

Untuk menjaga konsistensi kontur naik turun, dibuatlah sunken living area di halaman belakang. Tidak hanya unik, sunken area itu juga membuat kegiatan duduk-duduk menjadi terasa lebih intimate.

CASCADING HOUSE

  • Arsitek: Tamara Wibowo (Tamara Wibowo Architects)
  • Luas tanah: 650 meter persegi
  • Luas bangunan: 450 meter persegi
  • Lama pengerjaan: 2,5 tahun
  • Lokasi: Semarang

Editor : Ilham Safutra

Reporter : adn/c17/nor

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads