alexametrics

Vivere Andalkan Cloud AWS Jawab Dinamika Skalabilitas Era Digital

22 Juli 2020, 09:29:28 WIB

JawaPos.com –  Cloud makin menunjukkan peran vitalnya dalam memampukan berbagai produktivitas bisnis untuk mengoptimalkan layanan-layanan inovatif berbasis teknologi terkini, seperti Big Data Analytics, machine learning, hingga AI atau kecerdasan buatan. Pendayagunaannya pun kian merambah ke sektor yang makin luas. Tak hanya lekat dengan sektor TIK, namun juga sektor-sektor bisnis pada umumnya. Industri kreatif seperti furnitur sebagai salah satu contohnya.

Salah satu pelaku industri furnitur dan interior yang telah merasakan manfaat dari pendayagunaan Cloud adalah Vivere, yang dikenal sebagai salah satu pemain terdepan di kelasnya. Cloud telah membantu Vivere untuk mampu mengoptimalkan pengembangan bisnisnya, termasuk dalam memberikan pengalaman yang komprehensif bagi para pelanggannya yang memiliki kebutuhan terhadap furnitur secara end-to-end.

Lalu, bagaimana sesungguhnya teknologi telah menjadi enabler bagi setiap inovasi bisnis di Vivere? Head of Information Systems Vivere, Donny Fernando, menuturkan kepada Jawa Pos tantangan dan kendala yang melatarbelakangi hingga manfaat apa yang mereka peroleh.

Solusi Furnitur Satu Pintu
Bagi perusahaan ataupun perorangan yang membutuhkan solusi satu pintu untuk interior maupun furnitur, Vivere siap melayani. Vivere merupakan kontraktor interior sekaligus perusahaan manufaktur furnitur terkemuka yang memiliki banyak showroom ritel. Vivere menghadirkan beragam solusi kustomisasi untuk kebutuhan perkantoran maupun klien B2B. perusahaan ini juga menawarkan produk dan layanan mereka hingga ke mancanegara.

Vivere Group didirikan pada tahun 1984. Sejak 2012, perusahaan ini telah mengoperasikan peranti lunak SAP untuk mendukung operasional bisnis mereka. Hingga pada tahun 2019, Vivere memutuskan untuk menggunakan peranti keras on-premise untuk menjalankan workload krusial perusahaan maupun yang nonproduksi.

Vivere juga menggunakan peranti lunak SAP Business All-in-One ERP, seperti SAP Production Planning untuk penyelarasan manufaktur, tiga modul SAP tambahan untuk mendukung operasional mereka, serta SAP Business Warehouse untuk kebutuhan analitik. Aplikasi retail point of sale (POS) yang digunakan di Vivere juga telah terintegrasikan dengan SAP. Seluruh tim, dari karyawan di lini depan, hingga direktur eksekutif menggunakan SAP dalam keseharian mereka.

Downtime Pernah Hambat Keseharian Bisnis
Di awal 2019, Donny Fernando, mulai mencetuskan strategi untuk migrasi ke cloud agar sistem IT perusahaan makin gesit. Saat itu, infrastruktur juga dirasa telah beranjak usang. Banyak server yang hampir penuh kapasitasnya. Waktu respons menurun tajam. Sering terjadi downtime kala itu, bahkan hampir enam jam dalam setiap bulannya. Hal tersebut mengganggu produktivitas karyawan dalam menuntaskan tugas keseharian mereka.

Tak jarang manajemen perusahaan mengambil keputusan untuk menggelar proyek baru atau menggandeng mitra baru untuk pengembangan bisnis perusahaan. Hal ini membuat tim IT acap kali kalang kabut dalam menyediakan sumber-sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung strategi bisnis tersebut.

Tahun lalu, misalnya, tatkala Vivere meluncurkan lini furnitur kustom ritel baru dengan jenama IDEMU bersama mitra dari negeri Tiongkok. Semua sudah harus siap hanya dalam waktu dua bulan saja, dari mulai strategi ini dicetuskan hingga waktu peluncuran tiba. Waktunya sungguh mepet dan menantang. Bahkan, bisa dibilang mustahil karena kala itu masih menggunakan infrastruktur on-premise.

Ilustrasi koleksi interior yang dikembangkan Vivere Group. (viverecollection.com)

Biaya Infrastruktur Terpangkas 25% Year-on-Year
Vivere melakukan pendekatan kepada Amazon Web Services (AWS) untuk mendukung mereka mengawali migrasi ke cloud. Manajemen memutuskan untuk mengoperasikan SAP on AWS karena telah memenuhi beragam standar keamanan dan sertifikasi kelaikan, selain atas dasar bahwa AWS Partner Network (APN) memiliki jaringan yang kuat di Indonesia. Vivere lantas memulai kisah perjalanan cloud mereka dengan menggandeng PT Central Data Technology, salah satu APN Consulting Partner, untuk mendukung rencana migrasi Vivere pada April 2019.

Donny juga menghitung biaya total kepemilikan dan pada kenyataannya migrasi ke cloud lebih menguntungkan secara finansial. “Terkait dengan penghematan biaya pada operasional lingkungan SAP di AWS Cloud, kami menargetkan bahwa dalam jangka waktu lima tahun ke depan akan ada penurunan biaya untuk infrastruktur hingga sebesar 25 persen secara year-on-year.”

Proses Implementasi yang Cepat Dukung Digelarnya Proyek-Proyek Baru
Bagi Vivere, kebutuhan yang paling mendesak adalah bagaimana ia mampu mengembangkan sumber-sumber daya dengan cepat untuk mengakomodasi digelarnya proyek-proyek baru, seperti peluncuran jenama baru, IDEMU. Donny menyontohkan kejadian baru-baru ini, tatkala database di bagian keuangan di Vivere hampir menyentuh kapasitas maksimum dan dengan sigap tim IT dapat melakukan scale up ke tipe instance baru, hanya dalam waktu dua jam saja.

Jika hal ini dilakukan di lingkungan on-premise, peningkatan kapasitas seperti ini biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan kadang hingga berbulan-bulan lamanya. Belum lagi frustrasi yang dialami oleh tim IT akibat lamanya proses tersebut dahulu.

Tim IT dan pengguna SAP di semua divisi perusahaan sangat mengapresiasi adanya peningkatan performa sistem yang mereka rasakan. “Performa SAP Business All-in-One ERP kini meningkat menjadi 40 persen lebih cepat dengan beroperasi di AWS Cloud bila dibandingkan saat kita masih menggunakan lingkungan on-premise,” ujar Donny. Level ketersediaan aplikasi juga meningkat pesat. Sebelumnya, level ketersediaan aplikasi rata-rata selalu di bawah 99,5 persen, dan ketika ditempatkan di AWS, level ketersediaan aplikasi meningkat menjadi 99,8 persen.

Kebutuhan untuk Meningkatkan Produktivitas Dorong Penerapan Robotic Process Automation (RPA)
Vivere menggunakan CloudEndure Migration untuk mempercepat proses migrasi dan Amazon Relational Database Service (Amazon RDS) untuk mengeset mesin database berbasis Oracle dan PostgreSQL di AWS Cloud. Untuk kebutuhan storage, Vivere menggunakan Amazon Simple Storage Service (Amazon S3) yang mendukung workload analitik tingkat tinggi di SAP Business Warehouse. Selain itu, mereka juga menggunakan Amazon Elastic Block Store (Amazon EBS) snapshots untuk pencadangan data di Amazon S3 dan menjamin kontinuitas bisnis melalui replikasi data secara geografis.

“Sebelumnya, kami butuh waktu hingga lima jam untuk melakukan pencadangan sistem secara on-premise. Namun, berkat AWS Cloud, proses ini kini dapat berjalan secara otomatis. Adanya fitur backup otomatis di dalam AWS membuat produktivitas kami meningkat, karena kami tak perlu lagi melakukan pencadangan sistem, alih-alih dengan menggunakan solusi tersendiri,” imbuh Donny.

Terjadi peningkatan di sisi produktivitas, lantaran mereka tak perlu lagi melakukan sendiri perawatan server. “Kegiatan operasional tim IT berkurang. Tak perlu lagi melakukan pengecekan berkala pada peranti keras. Bandwidth yang ada kini terdistribusikan untuk inovasi di cloud, seperti implementasi robotic process automation.”

Begitu proses migrasi SAP beres, tim teknis Vivere langsung mulai menggunakan RPA di AWS Cloud untuk mengotomatisasikan proses input data berbasis desktop guna mendukung kinerja tim keuangan dan akuntansi perusahaan. Mereka kini menggunakan robot swakelola yang dijalankan di atas platform UiPath. Selama ini, tim teknis selalu mengalami kesulitan tatkala hendak mengimplementasikan solusi robotika di perusahaan, lantaran membutuhkan orkestrator dengan layanan yang bisa beroperasi hanya di server Windows ataupun Microsoft SQL, sementara Vivere sendiri tidak memiliki peranti keras ataupun lisensi untuk menjalankan server-server seperti itu.

“Bila kita masih tetap bersikukuh menggunakan solusi on-premise, saat ini mungkin butuh paling tidak empat minggu untuk melakukan provisi peranti keras sekaligus lisensinya. Dengan mengoperasikan sistem RPA di AWS sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi proses, kami hanya memerlukan empat jam saja untuk mengeset layanan RPA secara swakelola,” lanjut Donny.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : ARM



Close Ads