alexametrics

Hunian Djaduk, Tradisional-Modern

21 September 2020, 06:08:06 WIB

Terang tanpa lampu, dingin tanpa AC. Begitulah rumah idaman yang ingin dibangun mendiang seniman Djaduk Ferianto untuk keluarganya. Rumah yang berada tepat di area tusuk sate Jalan Jogja Ring Road Selatan itu disiasati dengan pembagian menjadi dua blok tinggal, sisi satunya garasi dan ruang tamu atau ruang studio.

”KARENA berada di perkampungan, desain rumahnya juga diselaraskan dengan lingkungan sekitar. Jadi, rumah nggak njeglek,” terang Eko Prawoto, arsitek rumah tersebut. Sesuai dengan permintaan istri Djaduk, Bernadette Ratna Ika Sari, yang menginginkan rumah terang tanpa lampu dan dingin tanpa AC, setiap ruangan dibuat terbuka. Termasuk kamar.

Ventilasi bagian atas setiap kamar dibuat terbuka dengan dinding yang tidak penuh hingga bagian langit-langit. Bagian atap juga disesuaikan dengan rumah-rumah sekitarnya yang berbentuk rumah Jawa. Dengan desain tersebut, angin bisa keluar-masuk dengan bebas dan menjadikan rumah itu dingin tanpa AC.

”Memang, konsekuensinya, kalau kamar sebelah berisik, sedikit akan kedengeran. Terus, ada juga beberapa burung merpati yang sering mampir ke bagian atas kamar saya. Jadi, burung merpatinya bisa gampang masuk karena memang nggak ada penutup di bagian atas kamar,” jelas Petra, panggilan akrab Bernadette Ratna Ika Sari.

Bagian tengah rumah juga dibuat terbuka. Inner court yang menjadi pemisah antara ruang kamar dan ruang tamu diisi dengan kolam ikan koi. Di kolam tersebut, disisipkan lima air mancur yang menjadi lambang bahwa ada lima anak di dalam rumah tersebut. Inner court itu ”bertugas” menjadi penerang rumah agar terang tanpa lampu saat pagi dan siang.

Di bagian depan, salah satu dinding terbuat dari limbah industri sehingga menjadi salah satu pusat perhatian. ”Jadi, ini sebenarnya tetap menggunakan batu bata. Namun, bagian luarnya dilapisi limbah batu yang dipotong-potong. Bagian yang tidak rata diletakkan di bagian luar,” terang Eko.

Limbah-limbah batu tersebut memang menjadi ciri khas Djaduk. Dia dikenal suka mengumpulkan barang-barang bekas. Bahkan, 80 persen rumah itu dibangun dengan barang-barang bekas. ”Ini juga yang menjadikan setiap sudut rumah spesial. Sebab, semua punya cerita masing-masing,” tutur Petra.

Setiap Djaduk mendapat barang baru untuk rumahnya, Eko selalu diajak berdiskusi terkait dengan peletakannya. Menurut Eko, pemikiran seorang seniman seperti Djaduk tidak jauh dari arsitek. Karya yang dibuat Djaduk selalu berbicara tentang struktur, irama, jeda, dan estetika.

”Beliau juga selalu mengolaborasikan musik modern dengan tradisional. Mirip arsitektur yang juga diterapkan di rumahnya. Menggenggam nilai tradisional, tapi dikemas dengan modern. Pokoknya ya, rumah itu Djaduk banget. Saya hanya menjadi ’bidan’ yang membantu melahirkan ’anak’ mereka,” katanya.


HIGHLIGHTS

80 PERSEN BARANG BEKAS

TAK BUTUH AC: Jendela rumah yang dibuat besar menjadikan sirkulasi udara lancar dan memberi suasana sejuk. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Sebagian besar material dan perabotan merupakan barang bekas. Mulai kursi, lampu, dinding, tegel, daun pintu, hingga pagar. Djaduk memang punya hobi hunting barang-barang bekas. Di bagian depan, dipasang beberapa iklan enamel, papan nama jalan hasil perburuan tersebut.

ALA WARUNG

TAK BUTUH AC: Jendela rumah yang dibuat besar menjadikan sirkulasi udara lancar dan memberi suasana sejuk. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Djaduk juga suka ngewarung. Kesukaannya itu diwujudkan dalam konsep ruang makan yang didesain seperti warung. Bentuk meja dibuat dengan rak bertingkat. Itulah tempat favorit keluarga saat berkumpul.

MEMPERTAHANKAN TANAMAN

TAK BUTUH AC: Jendela rumah yang dibuat besar menjadikan sirkulasi udara lancar dan memberi suasana sejuk. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Pohon asem dan nangka menjadi ”penghuni” awal rumah tersebut. Pepohonan dan tanaman-tanaman di sekitar rumah sengaja dipertahankan untuk menjaga keaslian ekosistem.


 

  • Arsitek: Eko Prawoto
  • Kontraktor: CV Prima Karya
  • Lokasi: Jl Jogja Ring Road Selatan
  • Luas tanah: 400 m²
  • Luas bangunan: 300 m²
  • Lama pengerjaan: 1,5 tahun

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : ama/c14/ayi




Close Ads