alexametrics

Inspirasi Fasad Homestay dari Candi di Jawa Timur

16 November 2020, 08:46:04 WIB

Konsep industrial kerap dikawinkan dengan material modern. Hasilnya pun bangunan tampak futuristis dan maskulin. Namun, arsitek Gayuh Budi mencoba hal yang berbeda. Yakni, memadukan industrial dengan unsur tradisional khas Indonesia.

GAYUH mengatakan, industrial saat ini memang tengah ngetren. Bukan hanya hunian, kafe dan fasilitas umum pun banyak yang mengusung konsep tersebut. Namun, kali ini dia ingin membuat satu identitas khas Indonesia, terutama Jawa Timur, dalam homestay berkonsep industrial di Kota Malang, Jawa Timur.

’’Terkadang orang membuat konsep modern ya modern, tradisional ya tradisional, industrial ya industrial. Tapi, kita membuat irisan di sana. Sehingga muncul langgam yang khas. Orang berpikir ’Oh ini pasti di Jawa, atau pasti di Indonesia’ ketika meng-capture-nya dalam satu foto,’’ ujarnya Kamis lalu (12/11).

Nuansa industrial tampak jelas terlihat pada fasad homestay yang disebut Se(room)ah tersebut. Bata press berwarna merah dibiarkan telanjang. Bahkan tanpa coating yang membuatnya tampak rustic karena paparan lumut. ’’Memang sengaja dibiarkan begitu agar berbeda dari yang lain,’’ terang Gayuh. Plus, cara tersebut membuat perawatan menjadi jauh lebih mudah, yang mana ideal untuk rumah atau homestay komersial.

Uniknya, fasad homestay itu berbentuk kotak dengan aksen segi tiga jendela. Nah, itu adalah salah satu bentuk penerapan unsur tradisional pada rancangan Gayuh tersebut. Dia mengaku pembuatan fasad itu terinspirasi dari gerbang candi di Jawa Timur. Misalnya Candi Wringin Lawang, Mojokerto. Namun, bentuknya diadaptasi menjadi lebih modern sehingga masih memberi kesan modern. ’’Ada jendela segi tiga, bentuk masif, dan bata ekspos itu cirinya,’’ jelasnya.

Belum lagi beberapa elemen yang tradisional banget pada interior. Misalnya ukiran-ukiran pada dinding. Sedangkan untuk konsep industrial, utilitas ekspos tidak hanya diterapkan pada fasad. Tapi, seluruh bangunan. Dinding acian semen tanpa cat hingga pipa elektrikal yang tidak disembunyikan.

SENTUHAN MODERN: Elemen jendela segitiga pada fasad memberikan kesan kekinian. (GAYUH BUDI FOR JAWA POS)

Di samping itu, Gayuh juga menerapkan konsep bangunan sehat dalam homestay ini. Dia menjelaskan, setelah green architecture, para arsitek mulai beralih ke healthy architecture. Kalau arsitektur hijau lebih mengutamakan energi dalam mengurangi karbon, efek rumah kaca, dan sebagainya, berbeda dengan arsitektur sehat. Salah satu cirinya adalah pergantian sirkulasi udara yang baik di dalam ruangan.

Sebelas kamar di dalamnya tidak dilengkapi dengan AC. Hanya mengandalkan kipas angin. ’’Dari awal kami memang ingin mengekspos iklim Kota Malang yang sejuk,’’ kata Gayuh. Untuk memperlancar sirkulasi udara, tiap kamar memiliki void yang terintegrasi dari lantai dasar. ’’Setelah pandemi Covid-19 ini ada, orang tidak lagi fokus dengan energi berkelanjutan, tapi bangunan sehat,’’ tegas alumnus UPN Veteran Surabaya tersebut.

Baca juga:

LEBIH DEKAT

AMFITEATER

Tangga dari luar menuju area komunal pun dibuat menarik. Kata Gayuh, area itu juga bisa difungsikan sebagai amfiteater. Unsur tradisional diselipkan lewat penempatan tegel motif pada pot tanaman. Tegel itu juga merupakan tegel bekas. Tidak heran jika motifnya tidak ada yang sama. Namun justru menambah nilai estetika.

AREA KOMUNAL

SENTUHAN MODERN: Area komunal dengan tanah dilapisi kerikil. (GAYUH BUDI FOR JAWA POS)

Area publik atau komunal tempat berkumpul dibiarkan terbuka. Agar sesuai dengan konsep industrial yang diusung, area itu tidak dilengkapi dengan rumput hijau. Melainkan tanah yang ditutupi kerikil. Hal itu sekaligus bisa menyerap panas matahari.

UKIRAN BEKAS

Ukiran-ukiran yang menghiasi homestay itu rupanya merupakan material sisa dari bongkaran rumah lama. Termasuk juga pintu kayunya. Sebagian besar didapat dari Madura dan Ponorogo. Untuk area luar, Gayuh membiarkan warna aslinya. Sedangkan untuk interior, ukiran-ukiran itu dicat ulang menyesuaikan ruangan.

TAMPIL BEDA: Bata press sengaja dibiarkan tanpa coating. Pintu kayu warna-warni yang ditata pada dinding samping tangga menjadi aksen catchy. (GAYUH BUDI FOR JAWA POS)

SE(ROOM)AH

  • Arsitek: Gayuh Budi
  • Luas tanah: 400 meter persegi
  • Luas bangunan: 243 meter persegi
  • Lama pengerjaan: 2 tahun

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : adn/c17/nor



Close Ads