alexametrics

Nuansa Kapal di Rumah Kapalpari

14 September 2020, 06:29:36 WIB

Sejak kecil hidup di lingkungan kapal di daerah Surabaya membuat Lindu Prasekti ingin mengabadikan kenangan tersebut. Rumah yang dibangunnya menjadi perwujudan. Rumah Kapalpari. Begitu perupa yang kini tinggal di Jogja itu menamai rumahnya.

FASAD bangunan dua lantai yang sebenarnya belum jadi hingga sekarang itu terus dikembangankannya perlahan. Namun, konsep bentuk kapal yang sempit tapi comfort tetap menjadi acuannya. ”Ciut jadi jembar. Cilik nyonggo gede,” ujarnya mendeskripsikan rumah yang diarsitekturinya tersebut.

Konsep kapal yang dimaksudkannya adalah saat akan menuju sebuah ruangan yang luas harus melewati lorong-lorong yang sempit. Namun, begitu sudah sampai di sebuah ruangan, ruangan tersebut akan benar-benar luas. Sama halnya dengan konsep rumahnya yang dibuat dengan pemisahan koridor-koridor kecil yang akhirnya menghubungkan ke sebuah ruangan yang luas.

”Nah, setelah ketemu konsep yang ingin saya jadikan acuan, saya cari material utamanya. Karena saya probed suka sekali bermain dengan barang lawas, barang tuwo, jadi rumahnya juga harus tua,” ceritanya.

Dari situ, awal mula idenya adalah ingin membuat rumah seperti joglo. Namun, saat dicari-carinya lagi, rumah yang paling tua adalah rumah dari bahan batu. Dari situlah, akhirnya batu menjadi material utama Rumah Kapalpari.

Menurut alumnus S-2 Seni Patung ISI Jogja tersebut, membuat hunian tidak selalu harus berpatokan pada tren. Dia justru lebih ingin menampilkan sosok pribadinya pada rumahnya tersebut. Mulai apa yang dia suka hingga impian-impian yang ingin terus ditambahkan dalam rumahnya tersebut. ”Jadi, rumah ini akan terus berkembang. Saya memang sengaja membuatnya tidak langsung jadi. Sekarang ini juga lagi bikin tambahan ruangan di bagian belakang,” ungkapnya.

Lindu mengakui, material lain hanya menggunakan barang bekas. Bahkan, untuk material kayu, dia tidak mau sampai harus menebang sebuah pohon. ”Saya nggak mau memerkosa hutan. Iya, kalau tebangannya bener, kalau liar? Jadi, saya lebih baik memanfaatkan kayu yang sudah nggak dipakai atau ada yang mau jual kayu sisa bangunan. Jadi, istilahnya menggunakan kekuatan yang sudah ada,” jelas pria yang menjadi lulusan terbaik pada angkatan 2015 ISI Jogja tersebut.

Seperti halnya kapal, Rumah Kapalpari dibuatnya dengan bentuk mirip kapal. Bagian atas arsitektur rumah dibikin menyerupai bagian kapal yang ditancapkan layar-layar.

HIGHLIGHTS

1. KORIDOR KECIL MENUJU RUANGAN LUAS

SENI DALAM HUNIAN: Rumah Kapalpari di Jogjakarta ini dibangun dalam beberapa tahap. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Menjadi pemisah antar ruangan yang didesain dengan benda-benda khas kapal. Mulai jendela kapal, kayu-kayuan, hingga ornamen untuk memberikan suasana seperti memasuki kapal.

2. DAPUR OUTDOOR

SENI DALAM HUNIAN: Rumah Kapalpari di Jogjakarta ini dibangun dalam beberapa tahap. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Sedikit tidak lazim dan sempat menjadi kontroversi dengan orang tua karena dapur diletakkan di depan rumah, tetapi Lindu tetap ingin tampil beda. Dia ingin menunjukkan bahwa area itu bisa selalu bersih dan tidak harus berada di belakang. ”Kalau guyonan bahasa Jawanya wajah kan dapur, masak wajah ada di belakang,” katanya.

3. MEMANFAATKAN BAHAN BEKAS

SENI DALAM HUNIAN: Rumah Kapalpari di Jogjakarta ini dibangun dalam beberapa tahap. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Tidak ada material baru yang digunakan dalam membangun Rumah Kapalpari. Memanfaatkan lagi kayu dan batu hingga mengolah benda-benda yang sudah ada menjadi pilihan Lindu.

RUMAH KAPALPARI

  • Arsitek: Lindu Prasekti
  • Luas tanah: 1.500 m²
  • Luas bangunan: 125 m²
  • Lokasi: Jl Imogiri Barat, Bantul, DIJ
  • Lama pengerjaan: Start 2002 (tahap I), 2006–2008 (tahap II), 2008–2009 (tahap III), 2020 (masuk tahap IV)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : ama/c14/ayi




Close Ads