alexametrics

Hunian Bergaya Natural Industrial yang Compact

Ruang dan Luasan Lebih Efisien
13 Januari 2020, 08:37:47 WIB

Memiliki rumah yang besar ternyata tak selalu membuat pemiliknya nyaman. Karena alasan itu, Ahmad Chumaedy dan Nur Jihan merenovasi rumahnya. Bangunan jadi lebih compact dan ruang hijau lebih banyak.

BUTUH waktu empat bulan buat Aryo Mahardika selaku arsitek untuk membuat konsep visual rumah milik Ahmad Chumaedy dan Nur Jihan. Durasi pembangunannya sekitar setahun. Sejak awal diskusi, Aryo menceritakan, pemilik rumah ingin menggunakan material alam, tetapi tetap ramah kantong.

”Konsep rumah Mas Ahmad itu membuat ruang dan luasan yang lebih efisien. Tidak besar, tapi cukup untuk menampung kegiatan sehari-hari,” tutur arsitek kelahiran Surabaya tersebut. Karena tidak terlalu luas, lebih baik punya ketinggian yang cukup. Jadi, kesannya lebih lega.

Tinggi rumah dua lantai itu sekitar 9 meter. ”Atap dibuat miring yang curam untuk mendukung bentuk rumah sekaligus merespons iklim tropis. Kebetulan kalau dilihat dari jauh mirip rumah barn,” terangnya.

Rumah dari tampak depan.–Foto: Imam Husein/Jawa Pos

Bagian lantai 2 tidak ada plafon, langsung atap. Dia menilai, penggunaan plafon itu sesuatu yang tidak primer. ”Asal membuat rangka atapnya rapi, bagian atas yang biasa untuk plafon bisa terlihat bagus kok,” terang pria 29 tahun tersebut.

Aryo tak banyak memainkan warna cat di dinding rumah. Dia justru banyak mengekspos warna material yang dipakai. Apabila memakai dinding beton, warna abu-abu semen yang diandalkan.

Rumah tersebut juga tidak memiliki ruang tamu. Apabila ada tamu yang datang, pemilik rumah akan menjamu di area teras. Mereka menyediakan kursi dan meja kayu jati. Area teras yang menyatu dengan carport dibikin senyaman mungkin. Aryo menggunakan fiber untuk bagian atap supaya area teras terang. Karena ketinggiran ceiling carport sekitar 2,9 meter, area tersebut tidak terasa panas. Sirkulasi udara dan pasokan angin melimpah.

TANPA RUANG TAMU: Ruangan pertama setelah pintu utama adalah ruang keluarga yang diisi furnitur sofa dan meja TV. (Imam Husein/Jawa Pos)

Sementara, jika tamu datang sudah akrab dengan keluarga, lokasi ngobrol berpindah di saung belakang rumah. Ada jalan kecil dengan lebar semeter di samping. Suara gemericik air kolam mini menambah kesan nyaman dan natural.

Peletakan saung di bagian belakang dinilai pemilik rumah memberi manfaat yang besar. Jika diletakkan di depan rumah, Achmad menjelaskan, lalu lintas kendaraan cukup ramai. Bising. Belum lagi ditambah dengan debu. Maklum, rumahnya terletak di pinggir jalan raya. ”Kalau diletakkan di belakang, aman. Bertamu nyaman. Bahkan, saya sering menghabiskan waktu bareng keluarga di saung,” tambahnya.

Bisa dibilang, hunian bergaya natural industrial tersebut sangat compact. Semua ruang dimanfaatkan betul oleh Ahmad. Dia mengatakan, yang penting ruang terbuka hijaunya lebih luas daripada dalam rumah. ”Rumah kami yang dulu penuh, dari depan sampai belakang. Ventilasi minim, cahaya yang masuk kurang, dan udara pun begitu,” kenangnya.

VENTILASI: Penggunaan roster di salah satu sisi dinding dalam rumah menjadi tempat pertukaran udara. (Imam Husein/Jawa Pos)

Ahmad dan keluarga tinggal di rumah itu sejak 2006. Dia merasa perlu mengubah konsep sehingga rumah direnovasi menjadi yang sekarang. Urusan furnitur disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak banyak furnitur yang dipakai. Mereka juga tidak menambahkan meja makan. Anggota keluarga bisa memilih di saung atau di depan TV ketika makan.


TIP

Rumah di samping jalan raya memiliki beberapa keuntungan. Salah satunya, akses untuk mobilitas lebih mudah. Namun, musuh utamanya debu. Berikut tip untuk ’’meminimalkan’’ permasalahan tersebut.

PERBANYAK TANAMAN

Aneka tanaman bisa meminimalkan debu di depan hunian. Ahmad Chumaedi, pemilik rumah, menanam pohon ketapang di area depan. ’’Tadinya mau pohon mangga. Tapi, kami ingin pohon yang bentuk tangkainya seperti payung. Supaya rindang,’’ terangnya.

SIRAM HALAMAN

Lakukan tiap sore supaya debu tidak masuk ke rumah.

HIGHLIGHT

PINTU UTAMA

Pintu utama yang terletak di samping rumah.(Imam Husein/Jawa Pos)

Pintu utama berbahan kayu jati ini tidak langsung menghadap pagar atau bagian depan rumah. Posisinya di samping. Menurut arsitek Aryo Mahardika, peletakan pintu utama di samping berkaitan dengan sisi penataan ruang. Area depan bisa lebih maksimal menjadi teras. Privasi juga lebih terjaga saat pintu terbuka. ’’Kebiasaan keluarga, pintu utama sering dibuka saat sore. Jadi, sirkulasi udara maksimal,’’ terangnya.

KURSI KAYU JATI DI TERAS

Kursi dan meja yang digunakan untuk santai ini menambah kesan natural di teras. Posisi teras menyatu dengan carport yang memiliki ceiling sekitar 2,9 meter.

RAILING TANGGA BERLUBANG

Tangga utama (Imam Husein/Jawa Pos)

Awalnya, kata Aryo, desain railing tangga tidak ada. Namun, karena pertimbangan keamanan dari pemilik rumah, ada tambahan berupa expanded metal. Karakter expanded metal yang berlubang cocok digunakan karena mendukung konsep unfinished dan tidak membosankan seperti railing garis. Panjang tangganya 3 meter dan setiap anak tangga memiliki lebar sekitar 1 meter. Berbahan besi hollow 5 x 10.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : sam/c25/jan


Close Ads