Fins Shade House, “Sirip” Penyaring Sinar Matahari

9 Januari 2023, 10:53:37 WIB

Sebuah rumah di kawasan Bandung, Jawa Barat, itu tak hanya mencuri perhatian karena bangunannya yang lebar dan sangat panjang. Adanya ”sirip” pada bagian atas fasad menambah keunikan. Rumah itu pun diberi nama Fins Shade House oleh arsiteknya, Muhammad Sagitha.

SIRIP itu diciptakan bukan hanya untuk menambah nilai estetika semata, melainkan ada tujuan yang lain. Sagitha bercerita, rumah itu awalnya terdiri atas satu bangunan utama. Lalu, kemudian dipanjangkan dengan dua bangunan tambahan. Agar tiga bangunan itu selaras, Sagitha menyatukannya dengan sirip tersebut.

Fungsinya adalah mengarahkan pandangan dan sinar matahari yang mengenai permukaan bangunan. Terlebih, rumah tersebut sebagian besar menghadap ke arah barat. Awalnya, sirip itu akan dibuat dengan material marmer travertine. Namun, karena alasan keamanan, Sagitha menggantinya dengan ’’kulit” batu yang terbuat dari clay. ’’Marmer travertine terlalu berat. Kami ganti agar lebih ringan, menghindari hal buruk terjadi saat ada gempa atau guncangan,’’ papar founder ArMS tersebut ketika dihubungi pekan lalu.

Penyaring sinar matahari tidak hanya diterapkan pada lantai paling atas, tetapi juga lantai-lantai di bawahnya. Di lantai 2, bukan lagi sirip, melainkan kisi-kisi kayu yang menambah kesan natural, tetapi juga berhasil menciptakan bayangan yang indah ketika sinar matahari melewatinya.

Sementara itu, lantai dasar menggunakan material perforated metal yang memungkinkan udara masuk dengan leluasa tanpa mengurangi privasi. ’’Lantai dasar pun dapat dinikmati tanpa AC sama sekali,’’ kata Sagitha. Adanya perbedaan material fasad pada tiga lantai itu menciptakan gradasi fungsi dan ketahanan yang menarik.

Lantai paling atas memiliki penyaring cahaya berupa sirip yang paling tertutup karena di lantai tersebut terdapat area privat. Misalnya, kamar tidur. Kemudian, lantai 2 dibuat semi tertutup karena di sana terdiri atas area yang dapat dinikmati seluruh anggota keluarga. Lalu, lantai paling dasar menjadi area paling publik. Oleh karena itu, dibuat lebih terbuka dengan perforated metal.

Kendati tampak begitu solid dari luar, nyatanya rumah tersebut memiliki banyak bukaan besar. Prinsip utama Sagitha adalah membuat teras sebanyak-banyaknya. Apalagi, rumah itu terletak di kawasan Dago yang memiliki hawa sejuk.

Sagitha menempatkan sebuah taman di lantai 2, berdampingan dengan ruang keluarga. Juga ada teras balkon di belakang yang menghadap ke lahan kosong berisi pepohonan rindang. ’’Jadi, benar-benar seperti tinggal di paviliun yang melebur dengan alam,’’ ucapnya.

GRADASI MATERIAL DAN FUNGSI: Sirip clay pada lantai paling atas, kemudian kisi-kisi kayu di lantai bawahnya, serta perforated metal pada lantai dasar. (JAWA POS)

HIGHLIGHTS

  • ROSTER PEMBATAS AREA

Terdapat dinding roster yang ditempatkan pada salah satu sudut taman di lantai 2. Roster itu rupanya merupakan pembatas taman dengan area servis. Area servis yang terdiri atas kamar ART dan dapur pun memiliki akses sendiri.

  • SKYLIGHT SEGITIGA

Di lantai 2 terdapat skylight berbentuk segitiga. Awalnya, skylight itu dibuat sekaligus sebagai penunjuk arah kiblat. Pada penerapannya, ternyata arah kiblat sedikit bergeser. Namun, skylight itu tetap menjadi penambah keunikan ruangan sekaligus menjadi jalan masuk sinar matahari ke area wudu dan musala.

  • TERAS BELAKANG

Teras dibuat hampir mengelilingi rumah tersebut. Misalnya, teras belakang yang juga dilengkapi dengan set meja dan kursi. Area teras menjadi tempat yang sangat cocok untuk menikmati hawa Kota Bandung yang sejuk dengan temperatur sekitar 18 derajat Celsius saat siang.

  • Arsitek: Muhammad Sagitha – ArMS (@armschitecture)
  • Luas area: 1.125 meter persegi
  • Lama pengerjaan: 1,5 tahun
  • Lokasi: Bandung

Editor : Ilham Safutra

Reporter : adn/c12/nor

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads