alexametrics

Hunian Beraroma Retro Modern, Punya Tangga Menjulang dan Jembatan Kaca

7 Maret 2021, 20:14:22 WIB

Dengan lahan berukuran lebar 7 meter dan panjang 23 meter, Dita Kusuma ingin tiap ruangan punya luasan yang optimal. Triknya, bangunan dioptimalkan ke atas. Tangga sengaja dibikin tak terputus dengan tinggi total 9,5 meter.

DARI basemen, tangga itu menuju living room dan ruang TV, berlanjut ke split-level yang merupakan area dapur. Kemudian, tersambung menuju lantai di atasnya yang berisi kamar-kamar tidur hingga naik lagi ke rooftop.

Tangga grande tersebut menjadi focal point hunian bertajuk Living the B Side ini. ”Sebenarnya yang paling aktif dipakai dua lantai. Dari ruang TV ke dapur (split-level) sampai kamar,” terang Dita dalam wawancara virtual pekan lalu.

VINTAGE: Atap tumpang sari dan interior retro modern pada living room. (DITA KUSUMA FOR JAWA POS)

Digunakan tangga beton bertulang biasa, tetapi didesain seperti balok-balok yang ditumpuk sehingga berkesan floating stairs. Dari luar, rumah yang berlokasi di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, itu sekilas tampak tak begitu luas.

Itu merupakan rumah lama yang dirobohkan dan rebuild. Hasilnya, begitu masuk, feel-nya langsung berbeda. Lantai paling dasar full dijadikan garasi untuk menyimpan mobil dan vespa antik koleksi Prima, suami Dita. Agar bisa menengok koleksi tanpa turun ke garasi, dibikinlah jembatan kaca dari tempered glass di lantai 2. Selain tangga, bagian tersebut menjadi focal point Living the B Side.

Berbicara tentang interior, Dita menyatakan bahwa dirinya dan suami sepakat mengusung konsep retro modern. Aroma retro itu tampak dari pemilihan furnitur yang digunakan. ”Banyak furnitur yang pakai kayu jati dengan model Jengki,” kata ibu dua anak tersebut.

MONOKROM DAN UNSUR KAYU: Tangga menjulang dari basemen hingga rooftop di hunian keluarga Dita-Prima. (DITA KUSUMA FOR JAWA POS)

Khusus ruang tamu, Dita mengaplikasikan model atap tumpang sari. ”Inspirasinya dari rumah salah satu eyang kami. Kami ingin ada unsur khas Jawa di rumah ini,” ungkapnya. Bagian atap menggunakan kayu jati. Material kayu juga diaplikasikan sebagai pola pada lantai.

”Hidden gems” lainnya adalah laci vintage khas apoteker di ruang TV. ”Suami yang hobi ngumpulin barang-barang jadul. Hunting-nya kadang di Ciputat atau di luar kota,” jelasnya. Kondisi barang antik tak selalu prima dan kadang perlu dipoles agar tampilannya lebih mulus dan kekinian.

Baca juga: Adopsi Amerika, Solo Bakal Miliki Jembatan Kaca di Kalianyar

Retro vibes juga hadir di area dapur. Island table berwarna biru dan lengkungan pada kabinet dapur menguatkan kesan tersebut. ”Yang mendesain suami. Saya suka hasilnya,” ujar Dita.

Perempuan dengan latar belakang ilmu komunikasi itu menuturkan, Living the B Side diambil dari B side pada album kaset. ”Ini sisi lain kami yang dituangkan di rumah ini. Isinya bisa tentang traveling, interior, arsitektur, coffee shop, dan banyak lainnya,” papar Dita.

Founder @feitsliving tersebut banyak memberikan sentuhan personal pada interior rumahnya. Mulai makrame bikinan sendiri hingga lukisan doodle. Juga, kumpulan poster-poster band ala Swiss design dalam frame untuk mengisi kekosongan dinding ruang makan. So artsy.

MONOKROM: Tangga menjulang dari basemen hingga rooftop di hunian keluarga Dita-Prima. (DITA KUSUMA FOR JAWA POS)

HIGHLIGHT

  • Jembatan kaca menggunakan tempered glass dengan ketebalan 18 mm dan terletak di lantai 2 menuju toilet tamu. Jadi, pengunjung rumah wajib melewatinya jika ingin menuju toilet.
  • Pengaplikasian jembatan kaca itu juga membuat area garasi di bawahnya terlihat lebih terang.
  • Dari lantai 2 menuju dapur, ada split-level dengan ketinggian sekitar 75–85 sentimeter.
UNSUR KAYU: Jembatan kaca yang menghadirkan sensasi tersendiri saat melintasinya. (DITA KUSUMA FOR JAWA POS)

LIVING THE B SIDE

  • Ukuran lahan: 7 x 23 meter
  • Jumlah level: 3 lantai dengan split-level dan rooftop
  • Lokasi: Fatmawati, Jakarta Selatan
  • Ditempati sejak: 2015

Editor : Ilham Safutra

Reporter : fam/c14/nor




Close Ads