alexametrics

Ukiran Handmade Berpadu Lighting nan Mewah

4 April 2022, 04:56:21 WIB

Arsitektur klasik dengan influence dari Eropa pernah menempati puncak kejayaannya di Indonesia pada 2000-an. Hingga kini, arsitektur klasik masih memiliki penggemar tersendiri.

MEWAH, megah, dan elegan. Kesan itulah yang didapat dari arsitektur klasik bergaya Eropa. Misalnya, SG House, salah satu proyek Yuki Wijaya, principal architect Syadewa Architect. Hunian di kawasan Surabaya Barat itu sekilas tampak bergaya klasik Eropa. Namun, dari dekat, rumah itu akan terlihat klasik dan modern.

’’Kami hybrid dua style, tapi lebih condong ke klasik,’’ kata Yuki kepada Jawa Pos pada Rabu (30/3). Elemen klasik Eropa tampak jelas dari proporsi bangunan yang tinggi, simetris, dan berpusat di tengah. Lengkap dengan pintu besar yang megah. Kemudian ditambah dengan dua pilar yang menyangga wajah bangunan.

Lalu, yang terpenting adalah banyaknya langgam dan ornamen-ornamen khas Eropa, terutama Yunani dan Prancis pada periode Renaissance. Misalnya, ukiran pada fasad. ’’Kami tidak ambil mentah-mentah, tetapi diolah lagi dan dikombinasikan sesuai dengan bangunannya. Dibuat lebih simpel supaya komposisinya bagus,’’ kata Yuki. Ukiran itu pun dibuat dengan tangan, bukan cetakan. Kecuali pada area plafon, pintu, furnitur, dan pilar.

Itulah mengapa rumah yang mengusung gaya klasik Eropa membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dibangun, terutama pada proses detailing. Proses desain hingga finishing rumah tersebut memakan waktu sekitar 2,5 tahun.

’’Itu termasuk cepat jika dibandingkan dengan gaya klasik pada umumnya, biasanya 4–5 tahun,’’ terang Yuki. Cost pembangunan juga tentunya lebih besar daripada rumah-rumah bergaya minimalis. ’’Bisa hampir dua kali lipat,’’ tuturnya. Hal itu terbayar dengan hasil ukiran yang unik dan megah, tetapi tidak terlalu berat.

Sebagaimana yang dikatakan Yuki, rumah itu tidak murni mengusung gaya klasik Eropa, tetapi dibuat fleksibel dengan menyesuaikan kebutuhan ruang. Unsur modern diterapkan melalui tata ruang, bentuk tangga, dan plafon. Adanya permainan lighting juga menunjukkan sisi modern rumah tersebut. Hidden lamp ditempatkan di beberapa area untuk menambah kesan dramatis. Terlebih, rumah tersebut didominasi warna putih dan krem atau cokelat muda. ’’Sehingga kesannya tidak terlalu berat dan tetap hangat,’’ kata Yuki.

Penggunaan marmer juga menunjukkan modernisasi. ’’Marmer itu tidak murni dipakai di arsitektur klasik, banyak rumah modern saat ini juga yang menggunakan material itu,’’ katanya. Marmer jenis statuario tipe athena berwarna hitam-emas itu berhasil menciptakan kesan classy dan elegan.


HIGHLIGHTS

CHANDELIER

  • Selain permainan hidden lamp yang menunjukkan unsur modern, rumah ini tetap menggunakan lampu gantung (chandelier) besar di beberapa ruangan utama. Misalnya di ruang keluarga, di mana plafon juga dibuat sangat tinggi.

LIFT

  • Kendati hanya terdiri atas dua lantai, rumah tersebut memiliki bangunan yang cukup luas. Karena itu, dibuatlah lift untuk mempermudah mobilitas pemilik rumah. Terlebih, kamar-kamar terletak di lantai 2.

WALK-IN CLOSET

PUTIH: Walk-in closet pada master bedroom. Ruang penyimpanan baju dibuat tertutup dengan pintu kaca. (Syadewa Architect)
  • Hampir semua kamar memiliki walk-in closet sendiri, kecuali kamar tamu di lantai 1.
  • Rak penyimpanan baju tidak dibuat terbuka, tetapi tertutup dengan dilengkapi pintu kaca yang mengelilingi ruangan tersebut.

ENTRANCE MEGAH

  • Marmer statuario tipe athena berwarna hitam-emas salah satunya diterapkan pada tangga yang menuju pintu masuk utama. Kemewahannya serupa entrance gedung-gedung ikonik di Eropa.

 

SG House

  • Arsitek: Yuki Wijaya-Syadewa Design (@syadewa.architect)
  • Luas area: 656 meter persegi
  • Lokasi: Surabaya Barat
  • Lama pengerjaan: 2,5 tahun

Editor : Ilham Safutra

Reporter : adn/c12/nor

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads